| Kompas, Selasa, 07 November 2006 |
| Kehidupan Berburu Botol Bekas demi Anak yang Nyaris Buta Iwan Santosa Jakarta bagi banyak orang mungkin tempat yang menyenangkan. Tempat mengadu peruntungan. Akan tetapi, tak sedikit pula pendatang ke Ibu Kota ini yang harus mengalami kepedihan karena nasibnya tak kunjung membaik. Tak jarang mereka harus tidur di kolong langit beralaskan tanah. Itulah yang dialami para pemulung. Muradi (52) menyeka keringat di depan tumpukan plastik yang dikerumuni lalat. Tiga hari ia berburu botol bekas, tetapi yang ia dapatkan hanya Rp 20.000. Tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya beserta lima anaknya. Apalagi untuk mengobati Masitah (9), salah satu anaknya yang nyaris buta. Ditemui Sabtu (4/11) di sebuah
lapak barang bekas di daerah Pejompongan, Jakarta Pusat, Muradi alias Odi mengaku hidup semakin sulit untuk menanggung lima anak perempuannya yang masih kecil dan tidak satu pun bersekolah karena ketiadaan biaya. Perburuan sepanjang tiga hari terakhir bersama Dody (30), rekan sesama pemulung, hanya menghasilkan tiga karung plastik berisi botol air mineral dengan nilai kurang dari Rp 50.000 yang harus dibagi berdua. Dalam percakapan dengan Kompas, Odi menuturkan, ia terpaksa jadi pemulung setelah kehilangan pekerjaan sebagai petugas satpam di sebuah perusahaan yang berlokasi di Tebet. Istrinya meninggal tiga tahun lalu sehingga hidupnya semakin susah. Ia harus mengurus sendiri lima anaknya. "Salah satu anak saya hampir buta dan tidak ada biaya untuk mengobatinya,"
katanya. Terakhir, Odi membawa Masitah ke rumah sakit. Ternyata dia harus membayar Rp 150.000. "Itu pun Masitah hanya disenter saja matanya tanpa diberi obat apa pun," ujar Odi yang kulitnya terlihat gelap terbakar matahari. Karena tidak punya uang, pria asli Tebet, Jakarta, yang kini harus hijrah ke Bojong Gede, Bogor, itu harus minta bantuan para tetangganya yang juga hidup susah. Setiap kali bercerita tentang Masitah, Odi terlihat sendu. Air matanya mengambang. Sebab, ia tak lagi punya harapan untuk mengobatinya. Putri kecilnya itu, katanya, kini hampir tidak bisa melihat. Kalaupun menonton televisi di tempat tetangga, itu harus dilakukan dengan wajah sangat dekat dari layar kaca. Hidup dari
belas kasihan Saat ini para tetanggalah yang berbelas kasih membantu merawat Masitah dan empat saudarinya yang masih belia. Sehari-hari Odi harus mengumpulkan sampah di tengah hiruk-pikuk Jakarta demi Masitah dan empat anaknya yang lain. Menurut Odi, untuk makan, dirinya sehari-hari pun sering kali dibantu pemilik lapak seperti Yanto (44). Pria bos pemulung yang akrab disapa Pak Kumis itu kerap meminjami uang Rp 10.000 sekadar untuk membeli beberapa bungkus mi sebagai pengganjal perut dua sampai tiga hari. Perut setengah terisi, dia harus bekerja sejak pagi, sekitar pukul 06.00, hingga menjelang magrib. Berbekal karung plastik bekas, dia menjelajahi kawasan Pejompongan hingga Kuningan, berharap menemukan benda berharga: botol air mineral atau, jika nasib baik,
botol minuman kaleng! Perjuangan hidup Odi itu ternyata hanya membuahkan hasil minim. Satu kilogram botol air mineral dihargai Rp 2.000. Satu karung besar paling banyak menghasilkan 5-7 kilogram botol senilai Rp 14.000. Padahal, "perburuan" itu paling tidak membutuhkan waktu empat jam. Nasib baik terkadang hinggap jika dia mampu menemukan 30 kaleng minuman bekas setara bobotnya setengah kilogram yang harganya mencapai Rp 5.000. Kaleng minuman memang menjadi favorit karena harganya mencapai Rp 10.000 per kilogram. Ini jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan membawa botol plastik bekas yang bervolume besar tetapi berbobot rendah. Padahal, biaya hidup sehari terkadang mencapai Rp 10.000 hingga Rp 15.000. Mereka beruntung karena terkadang di sekitar perumahan ada warga
yang berbelas kasihan memberi nasi bungkus. Tidak jarang pemilik warung tegal (warteg) tidak mau menerima uang mereka karena merasa kasihan. Demi menekan biaya, Odi dan Dody memilih tidur di emperan pasar di kawasan Pejompongan. Tetapi, itu pun mereka kerap dikejar aparat Tramtib karena dianggap penyandang masalah sosial dan kemudian ditahan di panti sosial Kedoya untuk waktu yang tidak tentu. Saat kesibukan di pasar pada pagi hari, mereka harus bangun dan sering tidak mandi untuk menghemat pengeluaran. Pasalnya, untuk mandi pun harus keluar uang setidaknya Rp 1.500. "Tidak mandi dua atau tiga hari sudah biasa," kata Odi seraya terkekeh meski terlihat malu mengakui pola hidupnya. Dituduh mencuri Meski bekerja keras, tidak selamanya perjuangan hidup membuahkan hasil. Bahkan, Odi dan Dody sering kali dicurigai sebagai pencuri saat "bekerja" mengorek sampah di perumahan atau perkantoran. "Kalau diusir atau dimaki-maki sudah biasa, Bang. Untung tidak sampai dipukuli. Kalau ada barang hilang di perumahan, tentu keamanan langsung mencurigai orang seperti kami," ujar Dody yang mengaku lulusan STM jurusan elektro. Ia juga mengaku terpaksa memulung setelah kehilangan pekerjaan di sebuah hotel berbintang di bilangan Jakarta Barat. Soal pemulung nakal, Odi dan Dody mengakui memang ada. Menurut Odi, pemulung yang melakukan pencurian itu biasanya karena sangat kepepet karena beberapa hari tidak mendapat penghasilan. Dari perbincangan dengan polisi dan perbincangan dengan warga di sejumlah permukiman, keluhan akan tindakan pencurian kecil-kecilan oleh pemulung adalah hal yang sangat biasa. "Memang sih yang dicuri itu kadang hal yang sepele. Tapi sering kali ngeselin," kata Ny Marga yang tinggal di permukiman padat Pulo Jahe di luar Kawasan Industri Pulo Gadung, Jakarta Timur. Bayangkan saja betapa repotnya kalau pagi-pagi buta harus sibuk mencari sepatu yang akan dipakai ke kantor. Atau betapa kesalnya kalau pada pagi hari melihat tanah dan bunga hias di depan rumah berantakan karena pot-potnya diambil pemulung. Yang juga sering hilang adalah gembok pagar. Ny Diah di Bintara, misalnya, mengaku pernah kehilangan gembok sampai tiga kali. "Yang ngeselin
kalau tahu gemboknya hilang ketika akan pergi. Sudah buru-buru, e... harus beli gembok dulu," katanya. |
Sponsored Link
$200,000 mortgage for $660/mo - 30/15 yr fixed, reduce debt, home equity - Click now for info __._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
