Ular atau Tali?
 
 
 
 
 Dengan berlandaskan keserakahan kita melakukan kebajikan, berbuat kebajikan 
hanya semata-mata berharap berbuah kekayaan di masa akan datang, lihatlah apa 
yang terjadi dengan kebajikan itu? Kebajikan itu tidak membuahkan kekayaan, 
jangan-jangan kebajikan itu membawa mudarab alam rendah, takutkah anda?
 
 
 Jangan melekat pada jenis kebajikan seperti itu, bukan menyuruh anda berhenti 
berbuat kebajikan; tapi jangan melekat padanya karena membuahkan hasil yang 
terkontaminasi, buahnya juga menjadi sumber masalah di kehidupan akan datang; 
bahkan latihan spiritualmu, janganlah engkau melekat padanya, bukan menyuruhmu 
untuk berhenti berlatih spiritual, memang cukup sulit melakukannya! Berbuat-lah 
kebajikan dengan murni tanpa berharap apapun, jangan melekat pada kebajikan 
maupun hal-hal positif, jangan melekat pada latihan spiritualmu!
 
 
 Seseorang bisa mendapatkan gaji dari hasil kerja, jika seseorang melakukan 
kebajikan hanya berharap untuk memperoleh buah yang baik, engkau tidak ada 
bedanya dengan orang yang melakukan transaksi bisnis.
 
 
 Para bijaksana bilang, kita seharusnya jangan melakukan kebajikan karena 
melekat pada hasilnya; tentu saja jangan melakukan tindakan buruk juga karena 
tindakan buruk mendatangkan penderitaan, bahkan lebih celaka lagi apabila anda 
melakukan kebajikan berlandaskan kemelekatan.
 
 
 Perbuatan buruk seperti fitnah, membunuh, berbohong, melukai orang lain secara 
langsung maupun tidak langsung, semua ini merantai kita dalam samsara, 
perbuatan kebajikan yang berlandaskan kemelekatan juga menuai hasil sama, hanya 
perbuatan kebajikan yang murni, terbebas dari kekotoran batin yang betul-betul 
memberi manfaat.
 
 
 Manusia biasa seperti kita sungguh naif, hanya tertarik pada hal-hal duniawi; 
mereka yang telah mampu melihat tembus tentang sebab akibat sesuatu, mereka 
melihat segala sesuatu bagaikan suatu koleksi fungsi mekanik. Pesulap 
menciptakan seorang pria maupun wanita, sungguh nyata, namun pria maupun wanita 
itu hanyalah ilusi belaka, ilusi yang diciptakan oleh sang pesulap, mereka 
tampa nyata dan eksis, namun sesungguhnya ke-eksis-an pria dan wanita itu 
tergantung pada kemahiran pesulap. Kita perlu mencari tahu bagaimana mereka 
eksis, bagaimana segala sesuatu eksis agar lebih bijak dalam menanggapi ilusi 
itu, pemikiran seperti ini sungguh dalam.
 
 
 Dua orang saling jatuh cinta dan tertarik satu sama lainnya berdasarkan nafsu 
yang muncul, hubungan seperti itu tidak akan lama, masalah-masalah akan muncul 
ketika nafsu semakin berkurang, ketika salah satu dari mereka semakin menyadari 
kekurangan pasangannya dan kemelekatannya juga mulai berkurang, kemelekatan 
hanya menempel pada sisi baik saja, para praktisi sejati mampu melihat kerugian 
obyek eksternal kemelekatan dan merasakan kerugian obyek kemelekatan internal.
 
 
 Obyek-obyek yang menjadi fokus kemelekatan kita juga tidak stabil, tidak ada 
sesuatu pun yang stabil, seseorang yang berpenampilan menarik bagi kita, belum 
tentu menarik bagi orang lain, pikiran melekat yang muncul atas dasar 
kemelekatan juga tidak bisa eksis dari dirinya sendiri, semua saling melekat 
dan terikat bersama, jangan bilang engkau tidak mampu melepaskan kemelekatan! 
Ketahuilah, melekat pada suatu obyek juga tidak stabil.
 
 
 Kemunculan nafsu sangat tergantung pada suatu obyek, ada orang yang merasa 
tertarik sekali pada obyek itu, orang lain melihat obyek yang sama dengan penuh 
amarah, ada orang lain lagi melihat obyek yang sama netral-netral saja, 
mengapa? Karena nafsu yang muncul dalam diri kita terhadap obyek itu sangat 
tergantung pada faktor lain, jika obyek itu memang betul bisa eksis dari 
dirinya sendiri dan tidak tergantung pada obyek lain, maka seharusnya semua 
orang akan memiliki perasaan sama ketika melihat obyek itu.
 
 
 Mengapa demikian? Karena semua perasaan muncul dari pikiran, proses pikiran 
memberikan label kepada obyek itu, labelnya adalah, “Ini cantik, ini menarik, 
ini bagus, ini enak, ini tidak enak, dan sebagainya”
 
 
 contoh, seorang pria memiliki dua orang istri, istri pertama tidak bisa 
melahirkan, dan istri kedua subur dan melahirkan seorang anak perempuan, istri 
pertama sangat tidak senang dengan anak dari istri kedua, sang suami sangat 
menyayangi putrinya itu, sang pembantu malah tidak peduli apapun, kekotoran 
batin kita muncul dari cara pandang tertentu yang muncul dalam pikiran kita.
 
 
 Batin kita banyak melakukan salah persepsi terhadap berbagi fenomena dunia 
ini, seperti kita salah persepsi terhadap satu gulung tali tebal sebagai seekor 
ular, segala sesuatu eksis tergantung pada faktor lain, maka ia kosong, namun 
dalam tingkat konvensional segala sesuatu secara visual dan taraf penalaran, 
maka mereka eksis, tapi eksis akibat pelabelan yang kita berikan, 'aku' eksis, 
badan jasmani eksis, batin eksis, semuanya eksis karena proses pelabelan, namun 
mereka semua tidak bisa eksis tanpa faktor lain.
 
 
 Segala sesuatu disebut eksis, bagaikan sebuah gulungan tali tebal dan sedikit 
terkubur oleh debu, kita menganggapnya sebagai seekor ular, ketika anda 
melewati dan melihat gulungan itu, anda kaget karena anda anggap itu sebagai 
seekor ular besar, sungguh mirip seekor ular benaran, tapi tiba-tiba muncul 
keragu-raguan, anda pergi memeriksanya, anda memberanikan diri untuk maju 
beberapa langkah, jika memang betul adalah seekor ular mengapa tampaknya tidak 
begitu mirip ular? Namun semakin dekat semakin kelihatan jelas, bahkan tidak 
mirip ular sama sekali, tidak ada ular dalam tali itu, tali bukanlah ular, 
pemikiran tentang ular muncul karena kita melakukan pelabelan terhadap tali, 
tidak ada bagian manapun dari tali itu yang bisa disebut sebagai ular, dan 
memang tidak ada ular dalam tali itu.
 
 
 Semua elemen pembentuk batin (5 skandha), 6 jenis kewaspadaan, tidak ada 
satupun dari mereka yang bisa kita sebut sebagai 'aku', namun 'aku' merupakan 
label yang diberikan kepada kumpulan elemen-elemen itu, seperti kita memberikan 
pelabelan ular kepada tali, walaupun kita melakukan pelabelan ular kepada tali 
itu, bagaimanapun juga tali itu tetap tidak bisa berfungsi sebagai ular; tetapi 
apabila kita memberikan pelabelan 'aku' pada elemen-elemen itu, maka ia bisa 
berfungsi sebagai koleksi-koleksi dari sang 'aku'.
 
 
 Semua fenomena yang diberikan label bagaikan pelabelan ular kepada tali. Bukan 
berarti semua semua fenomena tidak eksis, tapi semua fenomena tidak bisa 
berdiri sendiri, semua fenomena tergantung fenomena lain, persepsi salah muncul 
dari jejak karma kita sebelumnya, melalui kekotoran batin, salah persepsi itu 
muncul terus dan membuat kita menderita, karena jejak karma dan kekotoran batin 
maka kita bersikeras bahwa tali itu adalah ular, salah persepsi inilah yang 
muncul pada kita sekarang.
 
 
 Bagaikan tidak ada ular dalam tali itu, dan tali itu juga bukan ular, begitu 
juga bahwa tidak ada 'aku' dalam badan jasmani dan batin, tidak ada 'aku' yang 
bersemayam dalam badan jasmani maupun batin, tidak ada ular yang bersemayam di 
bagian manapun dari tali itu. Semua salah persepsi ini muncul secara spontan.
 
 
 Karena takut akan ular berbahaya, maka kita semakin tertarik untuk mengetahui 
lebih jauh, memeriksa sang 'aku' juga harus demikian, jika tidak tertarik maka 
kita tidak akan mengetahui apakah itu ular benaran atau bukan, kita tidak akan 
tahu apakah itu 'aku' eksis atau tidak.
 
 
 Dengan demikian kita bisa mencabut akar kekotoran batin, Aryadeva bilang kita 
memiliki kemampuan untuk melakukannya, bagaikan sebuah kamar gelap dan dingin, 
ketika kita menyalakan lampu dan menghidupakan alat pemanas, maka cahaya dan 
hangat akan mengisi seluruh ruangan, begitu juga dengan pemahaman, kekotoran 
batin bukanlah bagian integral (tak terpisahkan) dengan batin kita, oleh karena 
itu kita bisa mencopotnya.
 

J u n a i d i
Tibetan Language & Buddhist Philosophy

Library of Tibetan Works & Archives
Centre for Tibetan Studies & Researches
Gangchen Kyishong Dharamsala - 176215
Himachal Pradesh - I n d i a

"May I become at all times, both now and forever; a protector for those without 
protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with 
oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those 
in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack 
of shelter; and a servant to all in need"-- H.H. The 14th Dalai Lama, Tenzin 
Gyatso -- Bodhicharyavatara [Tib. 
J'ang.chub.sem.pa'i.c'od.pa.nyid.jug.pa.zhug.so; Ing. Guide to the 
Bodhisattva's Way of Life, Chapter III, Verse 18-19]~ Shantideva
 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke