Berita Utama                           Selasa, 28 November 2006                
   
  Warga Semakin Tidak Sabar 
Jalur Urat Nadi Jatim Lumpuh Tujuh Jam

  
  Sidoarjo, Kompas - Warga korban semburan lumpur panas di Porong, Sidoarjo, 
Jawa Timur, semakin tidak sabar. Setelah 183 hari bencana itu terjadi, warga 
yang kecewa karena soal ganti rugi aset mereka belum juga jelas memblokir Jalan 
Raya Porong. Akibatnya, jalur tersebut macet total selama tujuh jam, Senin 
(27/11). 
  Pemblokiran oleh sekitar 300 warga Desa Jatirejo, Kecamatan Porong, dimulai 
sekitar pukul 09.00. Mereka memaksa empat sopir truk pengangkut tanah 
menumpahkan material di badan jalan. Tanah itu semestinya untuk memperkuat 
tanggul penahan lumpur panas. 
  Menurut Suwito (29), koordinator unjuk rasa, aksi itu merupakan bentuk 
kekecewaan warga terhadap Lapindo Brantas Inc (LBI) yang tidak kunjung 
memberikan ganti rugi. 
  "Sudah enam bulan kami hidup tanpa kejelasan dan terlunta-lunta. Tolong kami 
diberi kejelasan, kapan dan berapa Lapindo sanggup mengganti harta benda kami 
yang terendam lumpur," tutur Suwito. 
  Setelah Bupati Sidoarjo Win Hendrarso dan Ketua Tim Nasional Penanggulangan 
Semburan Lumpur di Sidoarjo Basuki Hadimuljono menemui warga di Desa Jatirejo, 
jalan dibuka lagi pukul 16.00. 
  Jalan Raya Porong, yang menjadi urat nadi lalu lintas perekonomian dan 
transportasi setelah jalan tol ruas Porong-Gempol tertutup, sempat macet total 
sehingga terjadi antrean sekitar 2 kilometer. 
  Ketua DPC Organda Jawa Timur Mustafa menyatakan, kerugian para pengusaha 
transportasi meliputi jumlah rit yang berkurang dan pembengkakan biaya solar. 
Menurut Ketua DPC Khusus Organda Tanjung Perak Ali Hasjim, akibat kemacetan, 
rata- rata truk kontainer biayanya naik Rp 250.000 per rit. Truk kontainer yang 
beroperasi sekitar 750 unit per hari. 
  Di depan Pendapa Kabupaten Sidoarjo, sekitar 1.000 warga dari empat desa 
korban lumpur panas berunjuk rasa mulai pukul 08.30. Mereka menuntut LBI segera 
memberikan ganti rugi. 
  Sebanyak 20 perwakilan warga diterima Bupati Win Hendrarso. Hadir pula 
General Manager LBI Imam Agustino, Basuki Hadimuljono, dan Ketua DPRD Kabupaten 
Sidoarjo Arly Fauzi. 
  Warga menuntut ganti rugi tanah sebesar Rp 1 juta per meter persegi dan 
bangunan Rp 1,5 juta per meter persegi. Bangunan bertingkat dua dan seterusnya 
Rp 1,5 juta per meter persegi per tingkat bangunan. 
  Tuntutan kepada pimpinan LBI dituangkan dalam surat berkop Tim Nasional 
Penanggulangan Semburan Lumpur di Sidoarjo, juga ditandatangani Win Hendrarso, 
Basuki Hadimuljono, dan Arly Fauzi. Seusai acara, Imam Agustino menyatakan, 
paling lambat Jumat pekan ini LBI akan menjawab. 
  Penguatan tanggul 
  Sekitar pukul 19.30 terjadi hujan rintik-rintik di Porong. Basuki menyatakan, 
pihaknya menyiapkan sejumlah antisipasi mencegah jebolnya tanggul atau lubernya 
lumpur jika hujan turun. Selain itu, sebuah kanal pembuang akan dibangun 
secepatnya di samping kanal yang telah ada. "Kami akan menambah pompa penyedot 
air," kata Basuki. 
  Koordinator Sumber Daya Alam dan Teknologi Dewan Pakar Jatim Daniel M Rosyid 
optimistis mampu menghentikan luapan lumpur Sidoarjo. 
  Pemerintah awal tahun depan akan membangun jalan layang tol Porong-Gempol 
sebagai pengganti jalan tol lama yang terendam lumpur pascaledakan pipa gas 
Pertamina di tanggul penahan lumpur panas pada pekan lalu. 
  Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengungkapkan, jalan layang tol 
tersebut dibangun di atas jalan raya provinsi di utara jalan tol lama. "Dananya 
Rp 1,3 triliun dan dibiayai Lapindo Brantas," ujar Djoko seusai rapat terbatas 
mengenai masalah infrastruktur bandara di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Senin 
siang. 
  Untuk mengatasi kemacetan akibat penutupan jalan tol ruas Porong-Gempol, 
lanjut Djoko, jalan provinsi akan dijadikan empat lajur dari sebelumnya dua 
lajur. 
  Dahulukan rakyat 
  Ketua Fraksi Partai Persatuan Pembangunan Endin AJ Soefihara di Jakarta 
melalui siaran pers mengemukakan, pemerintah seharusnya menyelesaikan dahulu 
masalah yang dihadapi rakyat baru memikirkan pembangunan infrastruktur. 
  Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jatim KH Ali Maschan Moesa menyarankan 
pemerintah agar tegas dalam mengambil keputusan mengenai penanganan lumpur dan 
mengganti tim nasional dengan tim yang lebih besar dan lebih berwenang. Tim 
sekarang terkesan tak berdaya menghadapi kondisi darurat akibat semburan 
lumpur. 
  Di tempat lain, di sela acara dialog interaktif di Gedung Dewan Perwakilan 
Daerah (DPD), Jumat lalu, Wakil Ketua DPD Laode Ida mendesak Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono membebaskan sementara Aburizal Bakrie dari tugas-tugasnya di 
kabinet agar bisa memusatkan perhatian dalam mengakhiri bencana lumpur panas 
Lapindo Brantas. 
  Sementara itu, mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menilai 
pemerintah terkesan tidak berani bersikap tegas, baik terhadap Lapindo Brantas 
maupun Bakrie Group sebagai pemiliknya, terkait dengan semburan lumpur panas di 
Kabupaten Sidoarjo. 
  Dalam jumpa pers di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, kemarin, Gus Dur 
mengatakan, "Sudah tidak penting lagi melakukan berbagai upaya menghentikan 
semburan lumpur panas. Saat ini yang jauh lebih penting adalah memindahkan 
penduduk ke kawasan baru dan mengganti seluruh kerugian yang ditimbulkan." 
(LAS/AB7/RAZ/APA/HAR/DWA/ WIN/MAM) 

 
---------------------------------
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.

Kirim email ke