Berita Utama                           Selasa, 28 November 2006                
   
  Pluralisme Ada sejak Prasejarah 
Eksklusivisme Kelompok Ingkari Keindonesiaan

  
  Jakarta, Kompas - Pluralisme dan multikulturalisme di negeri ini sudah muncul 
sejak kehadiran manusia purba di Nusantara. Bukti-bukti arkeologis menunjukkan, 
keragaman yang dimiliki bangsa ini sejak prasejarah itu telah menciptakan 
mozaik yang indah dalam tampilan fisik manusia dan budaya Indonesia. 
  "Pluralisme dan multikulturalisme bagi bangsa ini merupakan sebuah 
keniscayaan; sesuatu yang memang harus ada dan tidak terbantahkan," kata Harry 
Truman Simanjuntak, ahli arkeologi prasejarah dari Puslitbang Arkeologi 
Nasional, ketika dikukuhkan sebagai profesor riset di Jakarta, Senin (27/11). 
  Bersamaan pengukuhan Harry Truman Simanjuntak, Lembaga Ilmu Pengetahuan 
Indonesia (LIPI) juga mengukuhkan Naniek Th Harkantiningsih Wibisono dan Harris 
Sukendar sebagai profesor riset untuk bidang arkeologi. Sidang pengukuhan 
dipimpin Kepala LIPI Umar A Jeanie. 
  Dalam uraiannya, Truman Simanjuntak memaparkan rangkaian terciptanya apa yang 
kini disebut pluralisme dan multikulturalisme. Latar belakang terjadinya 
pluralisme dan multikulturalisme di Nusantara, yang merupakan sejarah panjang 
terbentuknya keindonesiaan, ia gambarkan secara detail lewat berbagai 
"persentuhan" budaya pada masa prasejarah. 
  Temuan-temuan fosil dari lapisan plestosen bawah di Sangiran, misalnya, 
secara fisik sudah menunjukkan ciri yang variatif. Begitu pun jenis dan bahan 
peralatan yang digunakan. Kompleksitas masyarakat juga tampak di bidang sosial. 
  "Salah satu keragaman budaya yang paling menonjol pada bahasa, yang merupakan 
perkembangan lanjut dari bahasa awal, Austronesia. Kemunculan penutur 
Austronesia dan budayanya di kepulauan Nusantara merupakan etnogenesis bangsa 
Indonesia, sekaligus peletak dasar budaya bangsa Indonesia," paparnya. 
  Kompleksitas kehidupan dan interaksi masyarakat dengan "dunia luar" telah 
pula ikut menciptakan kompleksitas budaya. 
  "Kalau sekarang muncul eksklusivisme kelompok yang kian menonjol, di mana 
rasa persaudaraan dan semangat kebersamaan semakin hilang, dan konflik-konflik 
sosial yang menafikan kemajemukan muncul di berbagai tempat, semua itu terjadi 
karena sebagai bangsa kita kurang memahami fondasi keindonesiaan," paparnya. 
(ine/ken) 

 
---------------------------------
Cheap Talk? Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates.

Kirim email ke