neir nicky <[EMAIL PROTECTED]> wrote:   Date: Tue, 28 Nov 2006 18:39:52 -0800 
(PST)
From: neir nicky <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Sharing Ngondro 25 November 2006 (Bag. 2)


          Kalimat yang menyentuh saya itulah yang kemudian memotivasi saya, 
untuk melanjutkan namaskara 200 yang kedua, walaupun sikut mulai sakit, dan 
akhirnya melunaskan “hutang” saya. Setiap kali, muncul pikiran malas, pikiran 
cape, kalimat itu, terus ter-ngiang ditelinga, sehingga saya tidak 
memperdulikan lagi sakit yang ada disikut ini, sehingga akhirnya tidak terasa 
lagi. Hal pertama yang saya rasakan adalah, bahwa saya seperti mendengar suara 
dari pohon perlindungan seperti ikut bersama saya, melafalkan “Palden Lama … 
dst.” Dan Yidam, yang berada ditengah, yang berwajah “galak” itu tiba-tiba 
tersenyum. Saya pikir, “Ah, mungkin ini hanya permainan pikiran saja”. Sampai 
selesai namaskara, sikut saya baru kemudian terasa sakit lagi, dan saya akui, 
bahwa, selama namaskara, tubuh, ucapan, dan pikiran kita yang sekaligus, 
menjadi satu, mungkin ada saat, dimana pikiran kita lari, tapi seketika itu 
pula, mulut yang mengucap dan tubuh yang melakukan namaskara, seperti lonceng
 kesadaran yang mengembalikan pikiran ini, ke saat ini dan ke sekarang, 
walaupun pada saat tersebut, visualisasi agak kabur, tapi kita tetap akan 
secara otomatis memperhatikan ucapan atau gerakan tubuh, yang bagi saya latihan 
selama 1 jam ini lebih efektif sebagai fondasi untuk menguatkan konsentrasi dan 
perhatian, ketimbang saya harus langsung duduk bersila selama 1 jam, dan tidak 
sampai ½ jam-nya saya bisa berkonsentrasi dan tetap sadar, kadang, pikiran 
sudah mengembara entah berapa lama, dan entah berapa jauh, baru sadar bahwa 
sekarang saya sedang bermeditasi. Dan duduk bermeditasi setelah melakukan 
namaskara-pun, terasa lebih bisa konsentrasi dan tetap sadar, karena jantung 
yang berdetak kencang, nafas yang lebih cepat, merasakan keringat yang 
mengalir, sehingga ada begitu banyak obyek perhatian. Dan mungkin karena ini 
pula, mereka yang telah melakukan namaskara bahkan sampai 10.000 kali, memiliki 
konsentrasi dan perhatian yang demikian kuatnya.
   
  Setelah itu, kami makan, kali ini dengan “Semi-Hening” yang dilanjutkan 
dengan teaching mengenai Ngondro dan komentarnya (CMIIW). Pada saat ini, sambil 
mendengarkan teaching, setelah itu, kami melakukan chanting sambil pradaksina / 
meditasi jalan dengan melafalakan “Om Mani Padme Hum” juga dipenuhi rasa bakti 
dan terima kasih. Pada saat ini, jangankan namaskara, untuk beranjali saja, 
sikut saya sudah terasa sangat sakit.
   
  Baru kemudian melanjutkan namaskara sebanyak 500x. Sebelumnya, saya sempat 
berbicara dengan salah satu rekan peserta, sepertinya saya sudah tidak sanggup 
melanjutkan lagi, karena apalagi sampai 500 sekaligus, karena sikut saya sudah 
terasa sangat sakit sekali. Kemudian, 3 hal yang muncul dalam pikiran saya, 
yang pertama tekad yang telah saya buat sebelumnya, bahwa saya harus bisa 
“melunasi” namaskara hari ini dan “hutang” saya sekaligus, yang kedua, adalah 
kalimat yang tadi, dan yang ketiga adalah berkat kalimat kedua, seperti retret 
sebelumnya, hal-hal buruk yang pernah saya lakukan dulu kembali bermunculan, 
akhirnya ini semua yang menguatkan tekad saya untuk melanjutkan namaskara, 
sampai (saya pikir) sekuat saya saja. Ditengah-tengah, sempat juga pikiran 
seperti ini muncul, “Ah, tapi tekad saya itukan, saya buat, diluar dari 
perkiraan bahwa tangan saya bisa keseleo dan sakit seperti ini”, tapi sambil 
melanjutkan namaskara, saya membiarkan pikiran itu berlalu. Juga
 kembali, saya melihat bahwa pohon perlindungan, semua cabang yang lain, 
berubah menjadi berwarna biru seperti Vajradhara yang berada ditengah, dan 
kembali saya berpikir, ini hanya permainan pikiran dan terus melanjutkan. 
Walaupun sempat beristirahat sebentar dan beberapa kali, dan juga sempat 
meditasi duduk di WC akhirnya tinggal 100 terakhir. Saya berpikir bahwa 
akhirnya saya telah melalui 400 namaskara, dan tinggal 100 lagi, jadi 
seharusnya ini bukan masalah.
   
  Selesai itu, seperti acara bebas, ada yang beristirahat, selama 1 jam lebih, 
ada yang makan, jadi kali ini, makan dengan sama sekali tidak hening. Setelah 
makan, saya ada berbincang-bincang sedikit dengan Ko Irawan, dimana, para 
master yang seperti Sheng Yen pun, dulunya melakukan namaskara sebanyak 500x 
setiap malamnya atau Xu Yun yang setiap 3 langkah, bernamaskara (CMIIW), 
apalagi yang seperti saya, dan ini juga menjadi salah satu motivasi saya untuk 
melanjutkan namaskara yang terakhir pada hari tersebut walaupun tangan terasa 
sakit sekali. Kemudian dilanjutkan dengan teaching lagi, melanjutkan yang tadi 
siang, hanya yang ini, saya sudah tidak ikut, karena beberapa kali bolak-balik 
WC, karena perut yang agak tidak beres. Terakhir, dilanjutkan dengan chanting 
setelah itu kembali merenung, bagaimana keadaan kita sebelum bertemu dengan 
ajaran Buddha, orang seperti apakah kita, kemudian kita diingatkan untuk 
melanjutkan namaskara 200 yang terakhir, seakan-akan (mungkin
 saja benar) bahwa tidak ada lagi hari esok. Selama chanting pun, beberapa dari 
kita, ada yang merasa begitu berterima kasih, merasa begitu beruntung, begitu 
tersentuh, sampai menitikan air mata (dalam agama lain, mungkin seperti 
dijamah), saya sendiri tiba-tiba muncul pikiran banyak makhluk-makhluk yang 
sedang berada diluar sana yang sedang menderita saat ini, kondisi 6 alam 
samsara, dan saya termasuk yang sungguh sangat-sangat beruntung.
   
  Terakhir, kami melanjutkan namaskara yang terakhir, dan kamipun pulang. 
Tetapi sampai kami beres-beres dan pulang, ada seorang rekan wanita, yang 
dengan tekun terus melanjutkan namaskara, yang saya sendiri tidak tahu sampai 
jam berapa, tapi yang saya tahu, dia termasuk yang “dijamah” sampai meneteskan 
air mata tadi.
   
  Demikianlah sharing retret Ngondro 108 x 10 namaskara yang kedua kalinya 
diadakan oleh Komunitas Ngondro Ekayana. Terima kasih kepada semua, para Sangha 
yang telah menguatkan tekad saya, yang telah menjadi lonceng kesadaran bagi 
saya untuk berlatih, walaupun dengan tangan yang sakit hingga hari ini, toh, 
akhirnya target tercapai juga. Tapi yang perlu kita ingat adalah, bahwa yang 
kita lakukan bukanlah sesuatu yang “sudah hebat”, ini barulah tahap mengambil 
perlindungan karena yang kita lakukan ini hanya fondasi/dasar/awal untuk masuk 
lebih dalam ke jalur praktek untuk mencapai pencerahan demi semua makhluk.
   
  Semoga semua makhluk berbahagia. Semoga semua alam rendah terkosongkan. 
Semoga kesungguhan cita-cita dari Para Bodhisatva dari semua tingkatan dan 
terwujudkan, dan akhirnya Semoga semua makhluk mencapai ke-Buddha-an.

  

  

  Yasaputra





 
---------------------------------
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.

Kirim email ke