neir nicky <[EMAIL PROTECTED]> wrote:   Date: Tue, 28 Nov 2006 18:38:39 -0800 
(PST)
From: neir nicky <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Sharing Ngondro 25 November 2006 (Bag. 1)

          Dear all, 
   
  Sekuntum teratai untuk anda semua, para calon Buddha.
   
  Pada tanggal 25 November kemarin, dari Komunitas Ngondro Ekayana, baru saja 
mengadakan retret Ngondro, Namaskara sebanyak 1000x. Beberapa dari kita, ada 
yang sudah menginap di Patra pada hari Jumat malamnya. Ada juga yang menyusul 
pada pagi harinya. Saya sendiri, termasuk yang menginap, dan dari hari 
sebelumnya, saya sudah membuat sebuah tekad, bahwa besok, minimal saya harus 
(108 x 11) kali, karena dari retret sebelumnya, saya ketinggalan 108 pertama 
(masih ngutang). Kebanyakan dari kita, termasuk masih minim studi-nya atau 
pengenalan-nya mengenai Tantrayana, sehingga, beberapa dari kami, terpaksa 
merepotkan Pak Irawan, dari Tryana Dharma Center Surabaya, yang pada hari itu 
juga menginap, sambil bertanya banyak hal mengenai Vajrayana. Sampai akhirnya 
jam 11 lewat, kami baru beristirahat.
   
  Keesokan paginya, kami bangun jam 4:30 untuk mandi, sambil mempersiapkan diri 
dan menunggu fasilitator kita Ko Jimmy dan beberapa rekan datang. Sampai 
sekitar pukul 6 lewat, kita baru mulai, dari melafalkan “Calling Lama From 
Afar” yang sudah ada terjemahannya di milis ini dan penjelasan singkatnya 
kemarin oleh Sis Lusy. Setelah itu, kami melakukan 4 perenungan, yang biasa, 
singkatnya yaitu :
    
   Bahwa sungguh sulit terlahir sebagai manusia, apalagi yang berharga (dengan 
terpenuhinya 18 kondisi istimewa).  
   Perenungan tentang kematian, dimana walaupun kehidupan sebagai manusia ini 
sungguh sangat-sangat-sangat sulit untuk didapatkan, tetapi mudah sekali untuk 
hilang, ibarat gelembung air sabun, yang mudah sekali pecah. Kita tidak tahu 
kapan kita akan mati.  
   Perenungan tentang karma, dimana, pada saat kematian tiba, hanya Karma yang 
kita bawa, bukan uang, rumah yang susah payah kita kumpulkan, bukan istri, 
orang tua yang kita sayangi, bukan tubuh yang sudah kita rawat dan pergi ke 
fitness dengan biaya mahal, sehingga kita perlu mempraktekan inti ajaran 
Buddha, yaitu Kurangi Kejahatan (dan sebab-sebabnya), Tambah Kebajikan (dan 
sebab-sebabnya), dan Mengamati Arus-Arus Pikiran setiap hari. Kita perlu juga 
“menghitung” kira-kira keseharian kita, dari bangun, sampai tertidur kembali, 
kira-kira hal-hal baik atau justru hal-hal buruk yang lebih banyak kita lakukan 
dalam keseharian kita.  
   Perenungan bahwa segala sesuatu yang berada dalam Samsara, seperti uang, 
mobil, dan lain sebagainya, itu seperti jamuan terakhir bagi kita, sebelum kita 
menuju ke tiang gantung kematian.
   
  Setelah itu, kita melakukan namaskara, untuk 108 yang pertama. Disini, saya 
pikir, saya bisa mulai menyicil dengan menambahkan sedikit demi sedikit, untuk 
menutupi kekurangan, dan karena agak memforsir, akhirnya sikut kiri saya mulai 
terkilir dan agak merasa sakit. Setelah itu, kita makan dengan hening, dimulai 
dengan persembahan, kemudian membaca “Makan Dengan Hening” dengan merenungkan 
bagaimana kerja keras, penderitaan, bahkan kematian yang sudah ada dan 
unsur-unsur seluruh alam semesta yang menyokong demi terbentuknya sepiring nasi 
dihadapan kita, dan juga merenungkan kondisi kelaparan yang ada didunia, yang 
bahkan sangat sulit untuk mendapatkan makanan yang sebaik yang ada dihadapan 
kita ini, dimana, karena salah satu rekan, kami juga sambil melatih kesabaran, 
baru kemudian kita makan dengan hening.
   
Selesai makan, dilanjutkan dengan teaching yang kalau tidak salah “Is Ngondro 
An Informed Practice?” (CMIIW). Yang menjelaskan tentang Ngondro, apakah perlu, 
apakah manfaatnya, kalau tidak salah untuk purifikasi karma buruk dan 
mengakumulasi karma baik. Tapi kalimat yang sangat menyentuh saya dalam slide 
itu adalah, kira-kira terjemahannya begini, bahwa Ngondro, mungkin adalah hal 
terbaik yang bisa kamu lakukan untuk dirimu. Tiba-tiba saya bertanya pada diri 
sendiri, apa sih yang pernah saya lakukan untuk diri sendiri, apalagi setelah 
mengetahui bahwa begitu sulit untuk bisa terlahir sebagai manusia dan bertemu 
ajaran Buddha, adalah sangat bodoh kalau kemudian kita menyia-nyiakannya, 
apalagi terus mengikuti dan terseret dalam nafsu kebodohan dan keserakahan kita.



 
---------------------------------
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.

Kirim email ke