Dear all,

sungguh bagus ide seperti ini, tapi kondisi indonesia apakah
memungkinkan??? saya pesimis melihat kemampuan semua pihak di
Indonesia, dan masalah yg beruntutan juga sangat kompleks dan rujit.
kalau pemerinta betul2 serius, tentu saja bisa terlaksana...mengingat
kantong plastik itu sangat2 merusak lingkunga, apalagi bahan
pembuatnya, katanya sih itu sisa yg paling terakhir, dan di bakar
sekalipun tdk menyelesaikan masalah.

contoh nyata sih Dharamsala, tempat saya tinggal sekarang ini, kalau
belanja ke pasar, semua pakai kertas koran bungkusnya, pertama-tama
sih risih, mungkin karena lama tinggal di indonesia, jadi pakai
plastik terasa lebih nyaman dan gampang, tapi efeknya itu yg sering
tdk kita sadari. terasa sulit bawa barang belanjaan pake kertas koran
yg dibuat mirip kantong itu. semua tempat, pasar, warung dsb, mereka
semua sadar bahayanya plastik, dan pemerintah jg sangat mendukung.
daerah lain India saya tidak tahu apakah berlaku peraturan sama.

sekarang saya bawa kantong sendiri, dari kain, dan satu tas ransel
kalau ke pasar belanja, kantong dari kain itu bisa di cuci dan dipakai
berulang-ulang.

Bagaimana nasib plastik di Indonesia selanjutnya? tak pernah akan
terealisasi melihat pemerintah sangat sibuk dgn urusan ekonomi, urusan
linkungan seperti ini tampak dijadikan lip service doang, mengapa
tidak mulai dari diri kita masing2? daripada menunggu pemerintah???
Say NO to Plastic!



--- In [email protected], Jeritan Bisu <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>  Metropolitan                           Jumat, 01 Desember 2006    
              
>   Lingkungan
> Katakan Tidak pada Kantong Plastik 
>   
>   Jakarta, Kompas - Menjamurnya pasar swalayan, minimarket, dan
hipermarket di Jakarta dan sekitarnya menyebabkan bertambahnya
produksi sampah plastik di Ibu Kota. Padahal, pengelolaan sampah pun
masih kacau. Demi mengurangi sampah plastik, publik sudah waktunya
menghindari penggunaan kantong plastik. Salah satu cara sederhana
tetapi bisa berdampak signifikan adalah membawa kantong belanjaan
sendiri saat berbelanja di pasar swalayan. 
>    
>   "Sudah waktunya katakan tidak pada kantong plastik. Namun,
kampanye semacam itu akan efektif kalau kondisinya dipaksakan," ujar
sosiolog perkotaan dari Universitas Indonesia (UI), Linda Ibrahim,
seusai seminar "Mengoptimalkan Peran Publik Menuju Green City", Rabu
(29/11). 
>    
>   Menurut Linda, kondisi yang memaksa itu misalnya pihak toko
swalayan memberlakukan tambahan tarif bagi pelanggan yang memilih
menggunakan kantong plastik. Sementara, misalnya, pelanggan yang
membawa kantong belanja sendiri mendapat penghargaan dengan potongan
harga dari total nilai belanja. 
>   "Mengonkretkan wacana pembangunan yang berkelanjutan bisa dimulai
dari hal-hal semacam itu," ujar Linda. 
>    
>   Ia melanjutkan, menolak menggunakan kantong plastik harus
digelindingkan menjadi kampanye gerakan publik. Gerakan semacam itu
tidak efektif jika hanya sporadis dilakukan oleh segelintir orang atau
segelintir pasar swalayan. Dalam hal ini, peran pemerintah sangat
diperlukan. 
>    
>   "Bagaimanapun, industri yang bergerak di bidang pembuatan kantong
plastik juga harus dipikirkan alih usahanya," ujar Linda. 
>    
>   Ia mengatakan, mewujudkan kota yang berwawasan lingkungan (green
city) sebenarnya dapat diretas melalui tindakan-tindakan konkret
semacam itu. Gerakan yang berwawasan lingkungan semacam itu harus
menjadi nilai bersama yang dirujuk publik, termasuk kalangan pengusaha
atau pemilik modal. 
>   "Pemberi kredit konsumsi, misalnya, bisa memancing konsumennya
lebih peduli lingkungan dengan memberi diskon jika perilaku
berbelanjanya berwawasan lingkungan," kata Linda. 
>    
>   Sementara Citra Wardhani dari Program Studi Ilmu Lingkungan UI
mengatakan, perubahan paradigma dalam pengelolaan sampah di Jepang
sebenarnya baru dimulai sekitar tahun 1991. Ketika itu, publik dipaksa
untuk mengikuti sistem pemilahan sampah hingga 21 kategori untuk
program daur ulang. Sistem tersebut tidak bisa berjalan tanpa
partisipasi masyarakat dan aparat pemerintah yang sangat intensif
terjun langsung menyadarkan warga. 
>    
>   "Meski berat pada awal implementasinya, warga di Jepang bisa
beradaptasi. Sebab, sistem tersebut berlaku adil tanpa terkecuali
terhadap setiap warga. Warga pun dapat langsung merasakan manfaatnya,"
ujarnya. 
>    
>   Baik Linda maupun Citra menyebutkan, memulai dan menggiatkan
gerakan semacam itu akan lebih efektif jika dilakukan di level
komunitas yang jumlahnya tidak lebih dari 150.000 orang. 
>   "Perubahan sikap terhadap sampah itu lalu digulirkan pula terhadap
air, udara, dan sebagainya," kata Linda. 
>    
>   Penduduk kota di Indonesia cenderung terus meningkat, sekitar 4,2
persen per tahun. Selain disebabkan urbanisasi, desa-desa pun mulai
menjelma menjadi kota. Sementara akses penduduk ke sanitasi hanya
meningkat 5 persen selama 15 tahun. (SF) 
> 
>  
> ---------------------------------
> Cheap Talk? Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates.
>


Kirim email ke