Belajar dari Kasus Ferry – Suatu Opini

Hari ini saya menerima telepon dan sms dari beberapa rekan serta 
para simpatisan Buddhis yang membicarakan mengenai kasus yang 
menimpa Ferry (dikenal dengan sebutan Yongdzin Tulku Rinpoche). 
Sejujurnya saya mengatakan bahwa saya baru mengetahui kasus tersebut 
hari ini, karena selama tiga hari ini saya ada urusan yang harus 
diselesaikan di Surabaya. Saya baru mengetahui kasusnya melalui 
pemberitaan di televisi saat istirahat makan sore dalam perjalanan 
pulang. Oleh karena itu, izinkanlah saya untuk memberikan beberapa 
tanggapan yang sekiranya bermanfaat. Seperti biasanya, mungkin 
pendapat saya ini agak "menyimpang" atau "lain dari yang lain" 
dibandingkan dengan pendapat sebagian besar umat Buddha. Dengan 
demikian, mohon maaf kalau dirasa ada kata-kata yang kurang pas; 
tetapi, mohon terimalah hal itu sebagai wujud penerapan kebebasan 
berpikir dalam dunia Buddhisme Indonesia.
Saya baru saja membuka e-mail hari ini yang berasal dari salah satu 
organisasi Buddhis di Indonesia, yang isinya mengutuk perbuatan 
Ferry. Dalam hal ini, saya pribadi memilih untuk bersikap diam 
terlebih dahulu, karena hingga sekarang polisi belum berhasil 
mengungkapkan secara tuntas kasus ini. Bila ternyata Ferry tidak 
bersalah, maka kita semua telah melakukan karma buruk. Sehingga ada 
baiknya, kita berdiam diri terlebih dahulu dan menunggu perkembangan 
lebih lanjut. Perlu saya tegaskan, bahwa ini bukan pembelaan bagi 
Ferry, karena saya juga tidak kenal yang bersangkutan secara pribadi 
dan berpendapat apabila ia benar-benar bersalah, maka biarlah hukum 
yang menindaknya. Kedua, dalam e-mail tersebut, dikatakan bahwa 
Ferry bukanlah bhikshu karena ia menikah. Sehubungan dengan hal ini, 
perlu saya tegaskan, bahwa dalam tradisi Tibet, seorang Rinpoche 
belum tentu seorang bhikshu. Dalam tradisi Nyingma, para pemukanya 
diizinkan untuk menikah dan banyak orang yang bergelar Rinpoche 
dalam tradisi Nyingma yang memiliki keluarga. Hal ini juga berlaku 
dalam tradisi Sakya. Jadi kesalah-pahaman terhadap Buddhisme 
Tantrayana Tibet ini perlu diluruskan. Istilah untuk bhikshu dalam 
tradisi Tibet adalah gelong, yang memang tidak menikah. Karenanya, 
seorang Rinpoche belum tentu gelong dan seorang gelong belum tentu 
Rinpoche.
Jikalau ada sebagian umat Buddha yang kecewa, maka perlulah kita 
mengingat bahwa dahulu adapula sebagian umat Buddha yang merasa 
bangga dengan masuknya artis terkenal ke dalam Buddhisme. Namun 
kini, bila ada saudara seDharma yang bersalah kita buru-buru 
mengutuknya. Saya pernah mengatakan bahwa saya tidak bangga 
sedikitpun bila ada orang yang masuk ke dalam Buddhisme; apakah 
gunanya rasa bangga itu? Mengenakan label "Buddhis" tidak serta 
merta menjadikan seseorang lebih baik dibandingkan orang yang tidak 
mengenakan label tersebut. Jadi saya tidak merasa bangga atau senang 
sedikitpun bila ada satu (atau beberapa) orang lagi yang mengenakan 
label tersebut. Semoga hal ini dapat dijadikan pelajaran bagi kita 
semua.
Adalagi kenyataan yang tidak dapat kita pungkiri bahwa terdapat 
sebagian umat Buddha yang terlalu mendewa-dewakan "gelar." Orang 
yang bergelar Rinpoche akan kita junjung setinggi langit; tetapi 
begitu mereka jatuh kita memakinya habis-habisan. Tren semacam ini 
menurut saya tidaklah sehat dan jauh dari ajaran Sang Buddha. Hari 
Senin yang lalu saya pernah berdiskusi dengan seorang rekan mengenai 
Aa Gym. Ia mengatakan bila ibu-ibu kecewa terhadap Aa Gym, maka yang 
salah adalah ibu-ibu itu sendiri! Mengapa demikian? Karena mereka 
terlalu mendewakan atau memberhalakan Aa Gym. Mereka menaruh harapan 
pada sesosok manusia yang dapat mengecewakan mereka. Dengan 
demikian, pelajaran yang dapat kita ambil adalah jangan mendewa-
dewakan atau memberhalakan gelar apalagi manusia. Rinpoche hanyalah 
gelar; siapa yang tahu apakah benar ia inkarnasi makhluk-makhluk 
suci atau guru-guru di masa lampau? Saya juga tidak tahu! Oleh 
karena itu, mempelajari Buddhadharma secara mendasar lebih penting 
dibanding semuanya.
Apakah peristiwa ini mencoreng agama Buddha? Secara organisatoris 
saya katakan ya; tetapi secara substansial TIDAK! Bagaimana mungkin 
Buddhadharma dapat tercemar? Tiada sesuatupun dapat mencemari 
Buddhadharma! Cermin itu sesungguhnya tiada – bagaimana mungkin debu 
dapat melekati permukaannya? Lalu perlukah kita memuat di 
suratkabar/ majalah celaan terhadap sosok Ferry bila benar ia 
bersalah? TIDAK PERLU! Mari kita belajar dari sosok Sang Buddha yang 
berdiam diri, ketika dituduh telah berbuat tidak senonoh terhadap 
Cinca. Biarlah waktu yang membersihkan ini semua. Kebenaran tidak 
perlu dibela dan tak dapat dicemari oleh siapapun. Semoga artikel 
kecil ini dapat membuka wawasan kita semua.

Om Mani Padme Hum,

Tan
Yang selalu berbeda


Kirim email ke