Kompas, Kamis, 21 Desember 2006                                                 
                                                                                
                                                                                
                                                                                
                                         
 Lingkungan
 Sampahmu Mencemari Ciliwungku 
 
BE Julianery  
"Daripada jalanraya Jakarta By-pass diselimuti asap, biarlah Ciliwung yang 
ditaburi sampah. Rupanya ada pilihan kebijaksanaan pengelola kota yang seperti 
itu lebih dari tiga dasawarsa yang lampau." 
Berita satu kolom harian Kompas edisi 4 November 1972 itu melaporkan, Kepala 
Dinas Kebersihan DKI Jaya Tjetje Rachman akan membuang sampah ke Ciliwung. 
Kalimat di dalam berita itu berbunyi, "Menurut Antara, Kepala Dinas Kebersihan 
DKI Jaya Tjetje Rachman mengatakan, sehubungan dengan pembakaran sampah yang 
membahayakan kelancaran lalu lintas di Jakarta By-pass, bahwa untuk selanjutnya 
sampah Jakarta tidak akan dibuang lagi ke (tepi) Jakarta By-pass, melainkan ke 
kali Ciliwung lama." 
Entah Kepala Dinas Kebersihan DKI Jaya ini mendapat kritik karena gagasannya 
itu, entah tidak, yang jelas riwayat Ciliwung sebagai penampung sampah adalah 
kisah panjang yang tiada hentinya. Itu sekaligus cerita buruk yang kian parah 
hingga kini. 
Ciliwung adalah salah satu sungai yang melintasi jantung Kota Jakarta. Bagian 
hulu berada di Telaga Warna, Jawa Barat, sedangkan muara di Teluk Jakarta. 
Panjang sungai itu sekitar 109 kilometer. Di Jakarta, tepatnya di daerah 
Manggarai, sungai itu terpecah menjadi dua. 
Sampai dengan akhir 1970-an, sungai ini dipakai sebagai jalur angkutan untuk 
bambu yang didatangkan ke Jakarta dari Cibinong, Kabupaten Bogor, untuk 
diperdagangkan. Bambu itu dipakai untuk rumah semipermanen, tiang tenda, pagar, 
kerai, atau dianyam jadi gedek. "Pelabuhannya" di kolong jembatan kereta api di 
ujung Jalan Slamet Riyadi, dekat Manggarai. 
Pangkalan bambu itu kini masih ada. Namun, sekarang bambu didatangkan ke sana 
dengan truk. Ciliwung sudah menyempit. Di Kampung Pulo, Kecamatan Jatinegara, 
misalnya, hingga tahun 1985 lebar alur sungai itu masih 30 meter, tetapi kini 
tinggal 10 meter. Bambu tidak dapat lagi dihilirkan di Ciliwung. 
Penyempitan alur sungai tentu saja memperkecil daya tampungnya. Jika kemarau 
berlangsung lama, debit air Ciliwung hanya lima meter kubik per detik. Dalam 
kondisi normal, alur di Kampung Pulo hanya mampu menampung 200 meter kubik per 
detik. Padahal, pada saat hujan, air yang mengalir paling sedikit 400 meter 
kubik per detik. 
Keranjang sampah  
Lintasannya yang membelah Kota Jakarta, membuat Ciliwung harus mendukung beban 
kian berat yang ditimbulkan manusia Ibu Kota yang kian lama kian padat. Makin 
ke hilir atau makin dekat ke laut, alur sungai makin menyerupai keranjang 
sampah. 
Itulah yang terlihat dalam perjalanan menyuruk-nyuruk, mengikuti aliran sungai 
ini dari bawah jembatan dekat markas Resimen Induk Kodam Jaya (Rindam Jaya) di 
Tanjung Barat hingga pintu air Manggarai, Sabtu (9/12). 
Berhanyut-hanyut sejauh 16 kilometer selama empat jam dengan perahu karet milik 
Global Rescue Network, adalah "pelayaran" melintasi kolong beberapa jembatan, 
melewati rumah- rumah semipermanen yang rapat seperti flat, dan puluhan rakit 
kakus di tepi sungai. 
Dengan berperahu di Ciliwung, siapa saja dapat melihat dari dekat betapa air 
sungai yang kecoklatan itu masih mengalir "damai" di bawah kerimbunan pohon 
akasia, melinjo, kapuk, dan juga nangka di tepi alur sekitar 300 meter dari 
Tanjung Barat. 
Sesudah itu, kian ke hilir air itu kian coklat, makin pekat, berbuih, dan 
berbau. Sungai penuh dengan segala jenis sampah, dan juga tinja manusia, 
terlebih-lebih di alur yang di kiri kanannya terdapat permukiman padat seperti 
di Kampung Melayu, Bukit Duri, hingga ke Manggarai. Mesin Mercury 30 HP perahu 
karet seberat 97 kilogram belasan kali mati karena baling-balingnya dililit 
kantong plastik yang mendominasi jenis sampah di alur kali itu. 
Bagi sebagian orang, terutama bagi warga yang bermukim di kedua sisi bantaran 
sungai, tidak ada masalah dengan keadaan Ciliwung seperti itu. Sungai tetap 
menjadi andalan bagi kehidupan mereka. Air sungai di banyak tempat dipakai 
untuk mencuci pakaian dan mandi. Panci, piring, dan sendok dibasuh dengan air 
itu. 
Bagi anak-anak, Ciliwung adalah "kolam renang". Tumpukan sampah di pinggir 
menjadi "papan loncat" untuk mencebur ke air, berenang bersama sampah yang 
mengapung. 
Di belukar di kiri kanan Ciliwung ada pohon "berbuah" botol plastik, perca kain 
tua, dan kantong plastik yang berisi sampah. Semuanya bergantungan di dahan, 
tersangkut setelah dilemparkan si pembuang sampah dari atas tebing bantaran. 
Di antara tumpukan sampah di tepi sungai juga dijumpai kasur dan sofa bekas. 
Pun ada potongan tiang pancang yang tampaknya sengaja digulirkan dari tepi 
jalan. Di kawasan Bukit Duri dan Manggarai, berbaris kakus apung bersebelahan 
dengan tong kedelai yang akan diolah jadi tahu dan tempe. 
Miliaran rupiah  
Gagasan yang menginginkan Ciliwung bersih, tumbuh dari kenyataan Ciliwung yang 
kian kotor itu. Namun, upaya untuk membebaskan sungai ini dari barang buangan, 
seperti Program Kali Bersih (Prokasih) yang dilaksanakan sejak 1989, tidak 
membuahkan hasil. Kebijaksanaan penataan ruang kawasan Bogor-Puncak-Cianjur 
(Bopunjur) melalui Keputusan Presiden Nomor 79 Tahun 1985, dan diperbarui 
dengan Keppres No 114/1999, dengan tujuan menetapkan daerah itu sebagai kawasan 
konservasi air dan tanah, antara lain dimaksudkan untuk menjaga kelestarian 
Ciliwung. 
Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Emil Salim pada tahun 1990 
pernah "bermimpi indah" bahwa jika koordinasi, keserasian kebijakan, dan 
konsistensi dipadukan, Ciliwung yang masuk kategori sungai kelas A—sungai yang 
melintasi dua provinsi, Jawa Barat dan DKI Jakarta—baru akan bersih dari 
pencemaran sekitar tahun 2000. 
Kini tahun 2006, alih-alih bersih Ciliwung tetap seperti dulu. Airnya masih 
keruh, dan tumpukan limbah yang terlihat, menunjukkan keadaan yang makin parah. 
Setiap tahun, Pemerintah Provinsi DKI harus "membuang" uang untuk mengangkut 
barang buangan manusia dari sungai. Ciliwung adalah salah satunya. 
Untuk membersihkan sungai dari sampah, pada tahun 2004 Pemprov DKI mengeluarkan 
Rp 18,5 miliar. Volume sampah yang dibereskan 216.261 meter kubik. Tahun 
berikutnya, volume sampah yang dikeduk kian besar. yakni 320.167 meter kubik, 
dan biayanya pun makin tinggi, Rp 22,8 miliar. 
Pada tahun ini, untuk membersihkan sungai dari sampah dianggarkan dana Rp 22,5 
miliar. Volume sampah yang harus dibuang diperkirakan lebih dari 231.000 meter 
kubik. 
Menurut Sihar Simanjuntak, pimpinan Subpelaksana Wilayah Tengah Ciliwung, salah 
satu cara yang ditempuh untuk membebaskan sungai dari sampah adalah 
normalisasi. Normalisasi alur sungai, dengan lebar 30 meter di bagian bawah dan 
50 meter di bagian atas, bertujuan untuk mengembalikan fungsi sungai sebagai 
saluran untuk air, bukan sebagai tempat sampah. Normalisasi juga meliputi 
kegiatan menata bantaran sungai sehingga daerah itu bebas hunian liar. 
Untuk Ciliwung, normalisasi yang sudah dilakukan, misalnya, antara jembatan 
Kampung Melayu hingga di Kampung Bara Casablanca, sepanjang 1.150 meter. Namun, 
kegiatan itu kini terhenti karena masalah pembebasan tanah. Warga yang tergusur 
menuntut uang penggantian di atas nilai jual obyek pajak (NJOP). 
Membebaskan bantaran sungai dari hunian liar adalah salah satu persoalan di 
antara berbagai masalah rumit menata Kota Jakarta. Di Jakarta Selatan, 
misalnya, ada 5.120 bangunan liar di bantaran sungai dengan 8.019 keluarga 
sebagai penghuninya. Ada lagi 5.404 bangunan dengan 7.161 keluarga di Jakarta 
Timur. Bahkan, di Jakarta Pusat masih ada 557 bangunan liar di bantaran sungai 
bersama 910 keluarga sebagai penghuni. Tidak berarti Jakarta Utara dan Jakarta 
Barat bebas dari masalah itu. 
Hampir pasti bahwa warga bantaran kali menjadi kontributor pencemaran. Namun 
bukan hanya mereka yang membuat kelestarian Ciliwung dan sungai- sungai lainnya 
menjadi rusak. Kesadaran lingkungan dan disiplin warga kota yang buruk adalah 
sumber semua pencemaran itu. 
Di Jakarta tak pernah ada kebanggaan pada Ciliwung dan tak ada semangat bersama 
untuk memeliharanya. Karena itu, jika sekarang "aku buang sampahmu yang kau 
buang ke Ciliwungku", sejurus kemudian "kau buang lagi sampahmu yang berikutnya 
ke Ciliwungku yang sebetulnya adalah juga Ciliwungmu". 
BE Julianery Litbang Kompas 

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke