Mari ber dharma sharing ria...

Dana bukan berarti harus memberi Materi berupa uang - makanan - pakaian
dllnya..
Tutur kata yang menyejukkan - pembicaraan yang ramah, senyuman yang tulus,
budi pekerti yang menyenangkan - sumbangsi pemikiran juga dapat
dikategorikan sebagai berdana.

Memberi uang memang yang paling praktis dan termudah, selain tidak menyita
waktu, juga kita  tidak perlu repot-repot untuk memikirkan hal lainnya.

Hal ini jadilah Tradisi dan kebiasaan... ada pengemis - Kasihan??i - kasih
uang dan Urusan BERES.

Yang dikhawatirkan adalah pola ini menjadi suatu kebiasaan yang tidak
memberi manfaat yang berarti.
Pemberian yang tercipta oleh kebiasaan / kewajiban.

Menurut yang tertulis.... Berdana harus dilakukan dengan :
1. Keyakinan,
2. Penuh hormat,
3. Secara tepat waktu,
4. Ikhlas dan
5. Tanpa merugikan diri sendiri ataupun pihak lain.

Konon Katanya....Pemberian Dana tanpa kebijaksanaan akan membuahkan hasil
yang buruk [Adhamma dana] ... misalnya memberikan dana Pisau / racun kepada
mereka yg putus asa dan ingin bunuh diri. Berdana obat-obat terlarang,
berdana kepada Triad yg memperjual beli obat terlarang dan bisnis penculikan
dan lain sebagainya.

Memang suatu dilema bagi kita ketika melihat penderitaan orang lain, apalagi
melihat pengemis telanjang dimusim dingin mengemis dan menarik perhatian
hingga menyentuh empati dan kasihan kepada mereka.

Pengalaman saya adalah, memberikan makanan kepada mereka, yang saya rasakan
bedanya adalah pada saat melihat mereka dengan lahap menikmatinya. bila
mereka adalah yg diperalat oleh para oknum sindikat, walau tidak dapat uang
paling tidak perut mereka terganjal dulu.

Salam
BL




On 1/2/07, Johanes Sungarda <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Dear all,

Sekuntum teratai untuk anda semua para calon Buddha,


Setuju untuk Neir Kate!
Semakin saya berlatih, semakin saya bisa melihat mereka sebagai seorang
manusia yg sama berharganya seperti kita, kalau mereka hanyalah korban dari
peradaban yg semakin lama semakin memojokkan mereka. Meskipun hanya 1-2
orang saja yg bener2 t'bantu dari sekian banyak orang yg kita bantu...itu
sudah cukup menjadi motivasi bagi saya untuk membantu mereka.

T'kadang mungkin masih muncul kekesalan tatkala melihat mereka, namun
cobalah sadari emosi itu dan manfaatkan momen itu u/ merenung sejenak akan
penderitaan mereka.., kalau mereka hanyalah korban, bahwa kehidupan mereka
SAMA BERHARGANYA dengan kita; saat itu juga benih kebuddhaan & cinta kasih
dalam hati kita akan semakin bertumbuh :)

--
best regards,
Johannes Sung

On 1/2/07, Neir Kate <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Sekuntum teratai untuk anda seorang calon Buddha,
>
> Sebuah dilema memang, disatu sisi kalo kita membantu, berarti seperti
> yang
> dibilang bro brianz kita menyokong sindikat/triad tersebut, tetapi
> disisi
> lain, kalau kita tidak memberikan mereka uang, berarti seperti yang
> ditulis
> juga bahwa pengemis tersebut kalau tidak ada setoran, tidak dapet makan,
> dan
> mungkin juga dapet sedikit bogem-an, agar semakin banyak cacat-nya dan
> makin
> dikasihani, sehingga lain kali, bisa lebih dapet banyak uang.
>
> Kalau saya sendiri lebih memilih, untuk tetap memberikan uang yang bagi
> saya
> tidak seberapa, tapi besar artinya buat para pengemis itu, setidaknya
> dari
> sana mereka masih dapat makan walaupun mungkin hanya untuk hari itu
> saja,
> dan mari mencari jalan keluar bagaimana agar bisa keluar dari situasi
> tersebut. Kalau sekarang, saya sendiri masih belum ketemu solusi titik
> terangnya, jadi, yah, sorry, email ini tidak banyak membantu dan hanya
> numpang lewat :p
>
> Regards,
> Yasaputra
>
> --- In [email protected], "Brianz.liu" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Beberapa hari yang lalu, media surat kabar [china � Senzhen] memuat
> > berita yang sangat mengemparkan yaitu mengupas cara kerja dan
> kebiadaban
> > dari perkumpulan / sindikat Kaypang atau pengemis di senzhen [saya
> kira
> > termasuk dari Indonesia dan negara2 berkembang dan miskin lainnya].
> >
> > Berita ini adalah hasil penyamaran pesiunan wartawan [?]
> > Singkat cerita sang jurnalis yang cukup tua usianya masuk dalam
> > perkumpulan triad para pengemis, untuk mendapatkan ijin mengemis maka
> > harus membayar sejumlah uang sebagai jaminan dan pengakuan
> keanggotaan.
> > Selama 3 bulan dia tinggal, makan dan mengemis bersama-sama dengan
> para
> > pengemis.
> >
> > Dikabarkan�
> >
> > Para Triad / sindikat mempunyai wilayah masing-masing, dan setiap
> > pengemis ditugaskan, antar jemput dan diawasi oleh para triad. Setiap
> > pengemis harus menyetor sejumlah minimum penghasilan, bila tidak
> mereka
> > tidak diberi makan.
> >
>
> deleted.....
>
>
> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri
> saya maupun di luar diri saya **
>
> ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami
> taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan
> cinta kasih yang kokoh **
>
> ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan
> memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga
> terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
>
> ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh
> welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore
> hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama
> melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan
> orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>





Kirim email ke