--- In [EMAIL PROTECTED], "Neir Kate" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Sekuntum teratai untuk anda semua, para calon Buddha. Sorry baru sempat balas sekarang, yang lain juga mungkin masih pada sibuk. Di Film tersebut, saya melihat bahwa master Hong Yi selama hidupnya adalah seseorang yang sangat engaged, mungkin karena dari kecil dia melihat begitu banyak penderitaan, seperti pengemis-pengemis, kemudian meluapnya sungai Huang He (CMIIW) sehingga masyarakat semua lari dari menyelamatkan diri dari banjir. Sepanjang hidupnya dia dedikasikan untuk masyarakat-nya, bahkan ketika ia masih di Jepang, begitu mengetahui bahwa masyarakatnya dalam masalah dengan meluapnya sungai tersebut, dia mencoba membuat acara penggalangan dana untuk menolong masyarakatnya. Begitu juga sewaktu dia adalah seorang bhikksu, walaupun dalam keadaan sakit, dia tetap memperhatikan nasib masyarakatnya. Kalau tidak salah, dia mengucapkan kata-kata seperti "Kalau kita tidak perduli, berarti kita tidak sedang menjalankan ajaran Buddha" (again CMIIW karena film itu sudah berlalu beberapa hari, jadi sudah lupa). Master Hong Yi buat saya adalah bodhisatva yang sepanjang hidupnya didedikasikan untuk orang lain. Bahkan ketika dia sudah menjadi seorang guru besar, dia masih tetap rendah hati, tidak ingin disanjung dan terkenal, tetap tidur di tempat tidur yang sederhana dan selimut yang bolong-bolong walaupun itu sudah ingin diganti oleh kepala viharanya. Buat saya dia adalah salah satu role model bodhisatva yang patut untuk dijadikan contoh. Diluar semua itu, yang paling saya ingat dari film Maste Hong Yi adalah, sewaktu dia ingin memasuki kehidupan monastik, dan kemudian dia ditanya, apakah dia mau meninggalkan istri dan keluarganya yang sekarang?, dia menjawab, pada waktu sakit atau mati nanti, apakah mau atau tidak mau, anda tetap akan meninggalkan semuanya itu. Pernyataan Master Hong Yi itu, membuat saya terus berpikir, walaupun kita sudah tau, kalau kita bisa mati setiap saat, tapi pernyataan itu seperti tamparan buat saya dan membuat saya terus merenung. Mungkin dari Ko Jimmy sendiri bisa share bagian dari film tersebut yang mirip dengan spirit Dharmajala dan bagi Ko Jimmy sendiri, terima kasih. Regards, Yasaputra --- In [EMAIL PROTECTED], Jimmy Lominto <pelayan_buddha@> wrote: > > Dear all, > > > Sekuntum teratai untuk Sis and Bro semua, para calon Buddha. > > > Bagi Sis and Bro yang hadir di acara akhir tahun DJ, bersediakah Anda sharing sedikit makna film Master Hong Yi untuk Anda secara pribadi dan juga untuk DJ? > > Berikut saya kutip kesan yang saya tulis beberapa waktu lalu. > > "Ada 1 permintaan saya mengenai acara akhir tahun ini dan semoga diakomodir karena momentumnya pas sekali yaitu pemutaran DVD tentang riwayat hidup Master Hong Yi, salah satu dari 4 Guru Besar agama Buddha Tiongkok abad ke 20. 3 lainnya adalah (Master Hsu Yun, Master Ying Kuang, dan Master Tai Xu). > > Menonton riwayat hidup Master Hong Yi sejujurnya memberikan sesuatu yg sangat fundamental kepada saya untuk sisa perjalanan hidup ini dan juga perjuangan di Dharmajala. > > Saya merasa dikuatkan dan saya yakin spirit yang dibawa beliau cocok sekali utk Dharmajala. Beliau adalah salah satu tokoh pembaharu agama Buddha Tiongkok. Banyak sekali sumbangsih yang telah beliau berikan salah satunya adalah irama lagu Triratna, "Di mana kan ku dapati suluh kehidupan..." Ingatkan lagu itu?" > > Berikut adalah sedikit riwayat beliau . > > Ven. Master Hong Yi > > Before he was ordained, Master Hong Yi was known by his given name, Li Shu Tong. He was born into a wealthy family in Tianjin in 1880. Since a young age, he had shown great talents in the fields of poetry, calligraphy, painting and music. Upon reaching the age of 19, he moved to Shanghai and enrolled himself into the Nanyang Public School. While studying there, Li formed the Shanghai Painting and Calligraphy Society. > In 1905, Li moved to Tokyo to further his studies. He enrolled himself in an arts college, pursuing the study of Western painting and Western music. Together with some others, Li also founded the Chun Liu Drama Society, which performed many Western theatres including the renowned theatre, "Camille". In so doing, they were the first Chinese group to ever perform a Western theatre. > After graduating in 1910, Li returned to China. He first started working as an editor of a newspaper and a magazine. Two years later, Li took up teaching. He taught painting and music in various colleges in Hangzhou and Nanjing from 1912 to 1918. During this period of time, Li's reputation grew, as he became the first Chinese educator to use nude models in his painting classes, as well as the first to teach Western music in China. Some of the students whom he personally groomed, went on to become accomplished masters of the arts in their later days. Li Shu Tong himself was also an accomplished composer and lyricist. Many of his compositions are still remembered and performed today. > In 1916, Li underwent a 17-day fast at a temple in Hangzhou, and experienced the benefit of a spiritual life. The following year, he took refuge in the Three Jewels of Buddhism. In 1918, Li began a new chapter in his life by choosing to be ordained as a monk. Thus began a holistic life dedicated to propagating Buddhism and its code of conduct. He became known to all as Master Hong Yi. In 1942, Master Hong Yi passed away peacefully in Quanzhou. > > Salam Perjuangan > > JL --- End forwarded message ---
