Re: Fwd: OOT Tiket Kereta
Posted by: "Olive" [EMAIL PROTECTED] oliv_v
Date: Wed Jan 17, 2007 8:39 am ((PST))
Well...terima kasih buat cerita yang menarik ini
Kebetulan karena saya ada di Taiwan, beberapa nama tempat terasa tak
asing
Karena penasaran dan ingin tau, saya pun ingin mencari tulisan
aslinya....
Kalau ada yang berminat bisa dibaca di :
http://tw.myblog.yahoo.com/jullywen/article?mid=320
Olive
----- Original Message ----
From: yuni yuni <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; [email protected]
Sent: Monday, January 15, 2007 5:19:20 PM
Subject: [MABINDO] Fwd: OOT Tiket Kereta
Tiket Kereta
Semenjak kecil, saya takut untuk memperingati hari ibu karena tak
berapa lama setelah saya lahir, saya dibuang oleh ibu saya.
Setiap kali peringatan hari ibu, saya selalu merasa tidak leluasa
karena selama peringatan hari ibu semua acara televisi menayangkan lagu
tentang kasih ibu, begitu juga dengan radio dan bahkan iklan biskuit pun
juga menggunakan lagu tentang hari ibu.
Saya tidak bisa meresapi lagu-lagu seperti itu. Setelah sebulan lebih
saya dilahirkan, saya ditemukan oleh seseorang di stasiun kereta api Xin
Zhu. Para polisi yang berada di sekitar stasiun itu kebinggungan untuk
menyusui saya. Tapi pada akhirnya, mereka bisa menemukan seorang ibu
yang bisa menyusui saya. Kalau bukan karena dia, saya pasti sudah
menanggis dan sakit. Setelah saya selesai disusui dan tertidur dengan tenang,
para polisi pelan-pelan membawa saya ke De Lan Center di kecamatan Bao
Shan kabupaten Xin Zhu. Hal ini membuat para biarawati yang sepanjang
hari tertawa ria akhirnya pusing tujuh keliling.
Saya tidak pernah melihat ibu saya. Semasa kecil saya hanya tahu kalau
saya dibesarkan oleh para biarawati. Pada malam hari, di saat anak-anak
yang lain sedang belajar, saya yang tidak ada kerjaan hanya bisa
menggangu para biarawati. Pada saat mereka masuk ke altar untuk mengikuti
kelas malam, saya juga akan ikut masuk kedalam.
Terkadang saya bermain di bawah meja altar, mengganggu biarawati yang
sedang berdoa dengan membuat wajah-wajah yang aneh. Dan lebih sering
lagi ketiduran sambil bersandar di samping biarawati. Biarawati yang baik
hati itu tidak menunggu kelas berakhir terlebih dahulu, tetapi dia
langsung menggendong saya naik untuk tidur. Saya curiga apakah mereka
menyukai saya karena mereka bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk keluar
dari altar.
Walaupun kami adalah anak-anak yang terbuang, tetapi sebagian besar
dari kami masih memiliki keluarga. Pada saat tahun baru ataupun hari raya,
banyak sanak saudara yang datang menjemput. Sedangkan saya, dimana
rumah saya pun saya tidak tahu.
Juga karena inilah para biarawati sangat memperhatikan anak-anak yang
tidak memiliki sanak saudara sehingga mereka tidak memperbolehkan
anak-anak lain menggangu kami. Sejak kecil prestasi saya cukup bagus dan para
biarawati mencarikan banyak pekerja sosial untuk menjadi guru saya.
Kalau dihitung-hitung sudah cukup banyak yang menjadi pengajar saya.
Mereka adalah lulusan dan dosen dari universitas Jiao dan universitas Qing,
lembaga penelitian, dan insinyur. Guru yang mengajarkan saya IPA pada
tahun sebelumnya adalah seorang mahasiswa dan sekarang dia telah menjadi
asisten dosen. Guru yang mengajari saya Bahasa Inggris adalah seorang
yang jenius. Tidak heran sejak kecil kemampuan saya dalam berbahasa
Inggris sudah bagus.
Para biarawati juga memaksa saya untuk belajar piano. Semenjak kelas 4
SD, saya telah menjadi pianis di gereja dan pada saat misa saya yang
bertanggung jawab untuk bermain piano. Karena didikan yang saya dapatkan
di gereja, kemampuan berbicara saya pun juga bagus. Di sekolah saya
sering mengikuti lomba berpidato, pernah juga menjadi perwakilan alumni
untuk mengikuti debat.
Tetapi saya sama sekali tidak pernah mendapatkan peran yang penting
dalam acara peringatan hari ibu..
Walaupun saya suka memainkan piano tetapi saya mempunyai satu prinsip.
Saya tidak akan memainkan lagu-lagu yang berhubungan dengan hari ibu,
kecuali jika ada orang yang memaksa saya. Tetapi tetap saja saya tidak
akan memainkan lagu-lagu tersebut atas dasar keinginan saya sendiri.
Terkadang saya pernah berpikir, siapakah ibu saya? Saat membaca novel,
saya menebak bahwa saya adalah anak haram, ayah meninggalkan ibu dan
ibu yang masih muda akhirnya membuang saya.
Mungkin karena kepintaran saya yang cukup bagus, ditambah lagi dengan
adanya bantuan dari pengajar yang sepenuh hati membantu, saya dengan
lancar bisa lolos ujian masuk jurusan arsitektur di Universitas Xin Zhu.
Saya menyelesaikan kuliah sambil bekerja sambilan. Biarawati Sun yang
membesarkan saya terkadang datang mengunjungi saya. Jika teman-teman
kuliah saya yang bandel-bandel itu melihat biarawati Sun, mereka akan
langsung berubah menjadi kalem. Banyak teman-teman saya yang setelah
mengetahui latar belakang saya, datang menghibur saya. Mereka juga mengakui,
bahwa saya mempunyai pembawaan yang baik, dikarenakan saya dibesarkan
oleh para biarawati
Saat wisuda, orang tua dari mahasiswa lain semua berdatangan, sedangkan
keluarga saya satu-satunya yang hadir hanya biarawati Sun.
Kepala jurusan saya bahkan meminta biarawati Sun untuk foto bersama.
Di masa wajib militer, saya kembali ke De Lan Center. Tiba-tiba saja di
hari itu biarawati Sun ingin membicarakan hal yang serius dengan saya.
Dia mengambil sebuah amplop surat dari raknya dan dia mempersilahkan
saya untuk melihat isi-isi dari amplop surat itu.
Di dalam amplop surat itu, terdapat dua lembar tiket kereta.
Biarawati Sun berkata pada saya bahwa pada saat polisi mengantar saya
ke tempat ini, dalam baju saya terselip dua lembar tiket perjalanan dari
tempat tinggal asal ibu saya menuju stasiun Xin Zhu.
Tiket pertama adalah tiket bus dari salah satu tempat di bagian selatan
menuju ke Ping Dong. Dan tiket yang satunya lagi adalah tiket kereta
api dari Ping Dong ke Xin Zhu. Ini adalah tiket kereta api yang lambat.
Dari situ saya baru tahu bahwa ibu kandung saya bukanlah orang yang
berada.
Biarawati Sun mengatakan pada saya bahwa mereka biasanya tidak suka
mencari latar belakang dari bayi-bayi yang telah ditinggalkan. Oleh karena
itu, mereka menyimpan dua tiket kereta ini dan memutuskan untuk
memberikannya pada saat saya sudah dewasa.
Mereka telah lama mengamati saya dan pada akhirnya mereka menyimpulkan
bahwa saya adalah orang yang rasional. Jadi seharusnya saya mempunyai
kemampuan untuk mengatasi masalah ini. Mereka pernah pergi ke kota kecil
ini dan menemukan bahwa jumlah penduduk kota kecil itu tidak banyak.
Jadi jika saya benar-benar ingin mencari keluarga saya, seharusnya saya
tidak akan menemui kesulitan.
Saya selalu terpikir untuk bertemu dengan orang tua saya. Tetapi
setelah memegang dua tiket ini, mulai timbul keraguan dalam hati saya. Saya
sekarang hidup dengan baik, mempunyai ijazah lulusan S1, dan bahkan
memiliki seorang teman wanita akan menjadi teman hidup saya. Mengapa saya
harus melihat ke masa lalu? Mencari masa lalu yang benar-benar asing
bagi saya. Lagi pula besar kemungkinan kenyataan yang didapatkan adalah
hal yang tidak menyenangkan.
Biarawati Sun justru mendukung saya untuk pergi ke kota asal ibu saya.
Dia menggangap kalau saya akan memiliki masa depan yang cerah.
Jika teka-teki tentang asal-usul kelahiran saya tidak dijadikan alasan
sebagai bayangan gelap dalam diri saya, dia terus membujuk diri saya
untuk memikirkan kemungkinan terburuk yang akan saya hadapi, yang
seharusnya tidak akan menggoyahkan kepercayaan diri saya terhadap masa depan
saya.
Saya akhirnya berangkat ke kota yang berada di daerah pegunungan, yang
bahkan tidak pernah saya dengar namanya. Dari kota Ping Dong saya harus
naik kereta api selama satu jam lebih untuk tiba di sana.
Saat musim dingin, walaupun berada di daerah selatan, di kota ini hanya
terdapat satu kantor polisi, satu pos kota, satu Sekolah Dasar, dan
satu Sekolah Menengah Pertama, selain itu tidak ada lagi gedung yang
lainnya.
Saya bolak-balik ke kantor polisi dan pos kota untuk mencari data
kelahiran saya. Akhirnya saya menemukan dua dokumen yang berhubungan dengan
diri saya. Dokumen pertama adalah data mengenai kelahiran seorang anak
laki-laki. Dokumen kedua adalah data laporan kehilangan anak. Hilangnya
anak itu adalah di saat hari kedua saya dibuang satu bulan lebih
setelah saya dilahirkan. Menurut keterangan dari biarawati, saya ditemukan di
stasiun Xin Zhu. Sepertinya saya sudah menemukan data-data kelahiran
saya.
Sekarang masalahnya adalah ayah saya telah meninggal dunia dan ibu saya
juga telah meninggal dunia beberapa bulan yang lalu. Saya mempunyai
seorang kakak laki-laki. Kakak saya telah meninggalkan kota dan tidak tahu
ke mana perginya.
Karena ini adalah kota kecil, maka semua orang saling mengenal.
Seorang polisi tua di kantor polisi memberitahu saya, bahwa ibu saya
selalu bekerja di SMP. Dia lalu membawa saya menemui kepala SMP itu.
Kepala sekolah itu adalah seorang wanita dan beliau menyambut saya
dengan ramah. Dia membenarkan bahwa ibu saya pernah bekerja di sini.
Dan beliau sangat baik hati, sedangkan ayah saya adalah orang yang
sangat malas. Saat pria yang lain pergi ke kota untuk mencari pekerjaan,
hanya ayah yang tidak mau pergi. Di kota kecil, ayah hanya bekerja
sebagai pekerja musiman. Padahal di dalam kota sama sekali tidak ada
pekerjaan yang bisa dia kerjakan.
Oleh karena itu, seumur hidup dia hanya mengandalkan ibu saya yang
bekerja sebagai pekerja kasar. Karena tidak memiliki pekerjaan, suasana
hatinya menjadi sangat tidak baik. Jadi seringkali dia mabuk- mabukan. Dan
setelah mabuk, terkadang ayah memukul ibu atau kakak saya. Walaupun
setelah itu ayah merasa menyesal, kebiasaan buruk ini sangat susah untuk
diubah. Ibu dan saudara saya terusik seumur hidup olehnya. Pada saat
kakak duduk di kelas dua SMP, dia kabur dari rumah dan semenjak saat itu
ayah tidak pernah kembali lagi.
Sepengetahuan ibu kepala sekolah, ibu itu memiliki anak kedua. Namun
setelah berumur satu bulan lebih, secara misterius anak itu menghilang
begitu saja. Saat ibu kepala sekolah tahu bahwa saya dibesarkan di sebuah
panti asuhan di daerah utara, beliau mulai menanyakan banyak hal kepada
saya dan saya menjelaskannya satu per satu.
Beliau mulai tergerak hatinya dan kemudian mengeluarkan selembar amplop
surat. Amplop ini ditinggalkan ibu saya sebelum ibu meninggal dan
ditemukan di samping bantalnya. Kepala sekolah berpikir bahwa di dalamnya
pasti terdapat barang-barang yang bermakna. Oleh karena itu, dia
menyimpannya dan menunggu sampai ada keluarganya yang datang mengambil.
Dengan tangan yang gemetar, saya membuka amplop itu. Dalam amplop itu
berisi tiket kereta api. Semua itu adalah tiket-tiket perjalanan dari
kota kecil di bagian selatan ini menuju kecamatan Bao Shan kabupaten Xin
Zhu, dan semuanya disimpan dengan baik. Kepala sekolah memberitahu saya
bahwa setiap setengah tahun sekali, ibu saya pergi ke daerah di bagian
utara untuk menemui salah satu saudaranya.
Namun, tidak ada satu orangpun yang mengenal siapa saudara itu.
Mereka hanya merasa bahwa setiap ibu saya kembali dari sana, suasana
hatinya menjadi sangat baik.
Ibu saya menganut agama Budha di hari tuanya. Hal yang paling
membanggakan baginya adalah ia berhasil membujuk beberapa orang kaya beragama
Budha untuk mengumpulkan dana sebesar NT 1.000.000 yang disumbangkan ke
panti asuhan yang dikelola oleh agama Katolik. Pada hari penyerahan
dana, ibu saya juga ikut hadir.
Saya merasa merinding seketika. Pada suatu kali, ada satu bus
pariwisata yang membawa para penganut agama Budha yang berasal dari daerah
selatan. Mereka membawa selembar cek bernilai NT 1.000.000 untuk
disumbangkan ke De Lan Center.
Para biarawati sangat berterimakasih dan mereka mengumpulkan semua
anak-anak untuk berfoto bersama para penyumbang. Pada saat itu, saya yang
sedang bermain basket. Saya juga ikut dipanggil dan dengan tidak rela,
saya pun ikut berfoto bersama mereka. Sekarang saya menemukan foto itu
di dalam amplop ini. Saya meminta orang untuk menunjukkan yang mana ibu
saya. Saya tersentak seketika. Yang lebih membuat saya terharu adalah
di dalamnya terdapat foto kenangan- kenangan wisuda saya yang telah
difotokopi. Foto itu adalah foto saya bersama teman-teman saya yang sedang
mengenakan topi toga. Saya juga termasuk di dalam foto itu. Ibu saya,
walaupun telah membuang saya, tetap datang mengunjungi saya. Mungkin
saja dia juga menghadiri acara wisuda saya.
Dengan suara tenang, kepala sekolah berkata, "Kamu seharusnya berterima
kasih pada ibumu.
Dia membuangmu demi mencarikanmu lingkungan hidup yang lebih baik. Jika
kamu tetap tinggal di sini, bisa-bisa kamu hanya lulus SMP, lalu pergi
ke kota mencari kerja. Di sini hampir tidak ada orang yang mengecap
pendidikan SMU. Lebih gawatnya lagi, jika kamu tidak tahan terhadap
pukulan dan amarah ayahmu setiap hari, bisa-bisa kamu seperti kakakmu yang
kabur dari rumah dan tidak pernah kembali lagi." Kepala sekolah kemudian
memanggil guru yang lain untuk menceritakan hal-hal tentang saya.
Semuanya mengucapkan selamat karena saya bisa lulus dari Universitas
Guo Li. Ada seorang guru yang berkata, bahwa di sini belum ada murid yang
berhasil masuk ke Universitas Guo Li.
Saya tiba-tiba tergerak untuk melakukan sesuatu. Saya bertanya kepada
kepala sekolah apakah di dalam sekolah ada piano. Beliau berkata bahwa
pianonya bukan piano yang cukup bagus, tetapi terdapat organ yang masih
baru. Saya membuka tutup piano dan menghadap matahari di luar jendela
dan saya memainkan satu per satu lagu tentang ibu. Saya ingin
orang-orang tahu, walaupun saya dibesarkan di panti asuhan tetapi saya bukanlah
yatim piatu karena saya memiliki para biarawati yang baik hati dan
senantiasa mendidik saya.
Mereka bagaikan ibu yang membesarkan saya, mengapa saya tidak bisa
menganggap mereka selayaknya ibu saya sendiri? Dan juga ibu saya selalu
memperhatikan saya. Ketegasan dan pengorbanannya lah yang membuat saya
memiliki lingkungan hidup yang baik dan masa depan yang gemilang.
Prinsip yang saya tetapkan telah dilenyapkan. Saya bukan saja bisa
memainkan lagu peringatan hari ibu, tetapi saya juga bisa menyanyikannya.
Kepala sekolah dan para guru juga ikut bernyanyi.
Suara piano juga tersebar ke seluruh sekolah dan suara piano saya pasti
berkumandang sampai ke lembah. Di senja hari ini, penduduk- penduduk di
kota kecil akan bertanya, "Kenapa ada orang yang memainkan lagu tentang
ibu?" Bagi saya hari ini adalah hari ibu.
Sebuah amplop yang dipenuhi tiket kereta api membuat saya untuk
selamanya tidak takut untuk memperingati hari ibu.
Ini adalah sebuah kisah nyata dari rektor Universitas Ji Nan yang
bernama Li Jia Tong.
"Berterima kasihlah kepada mereka yang telah membesarkan dan membimbing
kita, hingga kita dewasa dan mencapai sebuah kesuksesan. Sekalipun
mereka bukanlah ibu atau ayah kandung yang telah membesarkan kita. Tetapi
ingatlah selalu budi yang telah diberikan kepada kita, hingga kita bisa
seperti sekarang ini".
---------------------------------
Don't pick lemons.
See all the new 2007 cars at Yahoo! Autos.