Dear all,
A lotus for you, a Buddha to be.
Tulisan dibawah ini lumayan cukup panjang..dan mengenai isinya...mungkin tidak
terlalu penting... :)
Jadi klo boleh menyarankan, bagi Anda yang sibuk & tidak punya waktu banyak,
lewatkan saja. Hehehehe.....
=====================================================
Tgl 21 Januari 2007
Kunjungan ke Panti Wredha Wisma Mulia, Jelambar
Kami ber-6 (Anwar, ko Handoyo, Gunawan, Linda, Susan, dan aku) mengadakan
kunjungan ke panti jompo. Ini adalah kado Continuation Day dari Bro Anwar.
Hadiah yg kreatif sekali.. Aku akan coba menuliskan apa yg muncul dalam
diriku, mulai dari sebelum pergi;sesampainya disana, & setelah kunjungan
selesai. Bukan hanya apa yg terjadi dalam diri ini, tapi juga keadaan disana,
suasana yg terlihat, serta curhat dari para penghuninya. Kegembiraan mereka,
kemanjaan mereka, ketakutan mereka, dan lainnya.
Setelah KPD selesai, dari patra kami pun pergi ke vihara Ekayana terlebih
dahulu, sebelum menuju ke lokasi. Ada beberapa teman yg telah menyiapkan
makanan ringan dan sedikit buah-buahan.
Perjalanan menuju ke panti tidak terlalu lama, hanya membutuhkan waktu
sekitar 15 menit. Dan kami pun harus agak terburu-buru, karena waktu kunjungan
hanya dibatasi sampai jam 13.00
Dan sekarang kami telah sampai di panti. Dalam teriknya matahari, kami
berjalan turun dari mobil, dan membuka pintu pagar, yang dicat dengan warna
hitam. Rumah ini cukup luas, masih ada halaman, kolam, dan beberapa pohon.
Setidaknya suasananya lumayan adem disini. Dan cukup bersih. Terus terang aja,
sebelum sampai ada persepsi akan suatu ruangan yg kotor, tidak terawat, dan
bau, dan sebagainya.
Sewaktu dimobil, aku sempat berpikir, apa yang akan aku lakukan disana
nanti, harus memeluk mereka? Mau bicara apa? Bahasa apa yg akan aku gunakan?
Jika aku melontarkan pertanyaan, apakah tidak akan membuat mereka tersinggung,
dll, dkk, dst, dsb
.
Tapi begitu sampai, pikiran yg suram itupun tergantikan. Sambil menunggu
Anwar yg menelepon pengurusnya, kami berdiri di samping halaman, disebuah
koridor panjang. Sebelum kami berjalan masuk ke koridor, ada yg menarik
perhatianku. Seorang nenek, dia berjalan memutari sebuah meja yg terletak di
teras depan. Semula aku mengira dia adalah pengurusnya, tapi ternyata bukan.
Dia terus mengulangi hal tsb, entah sudah berapa kali.
Tak lama kemudian, ibu pengurusnya pun muncul menyambut kami, dia mungkin
telah berumur sekitar 60 tahun, berkacamata. Dan tampak cekatan. Kurus. Tampak
ramah. Dia datang sambil ditemani seorang karyawan, yg membawa sebuah dorongan
besi. Karena barang yg kita bawa juga tidak banyak, yah akhirnya kami bawa
sendiri. Sewaktu sedang mengangkat barang2, terdengar suara2 dari oma-oma, yg
bertanya, apa itu
wah ada yg datang..dikasih apa yah.. Suara lain menjawab,
itu roti, nanti kita makan. Nanti dibagiin itu. Ada sahutan lagi dari
temannya, yah..disini mah, ga mungkin itu, ada uang
Disini ga mungkin dikasi
duit..
Dalam hati ada rasa kecut, sebenarnya apa yg mereka harapkan? Apa mereka
akan menerima pemberian kami, apa kami tidak akan ditolak?
Hhh
.Buang semua pikiran itu, toh kita datang kesini, karena suatu niat yg,
mungkin tidak bisa disebut baik/murni, tapi setidaknya kita datang tanpa niat
jahat. Minimal itu.
Akhirnya kami pun masuk, dan membagi-bagikan roti pada mereka. Kamar yg kami
masuki pertama, luas sekali, mungkin didalamnya ada sekitar 10 orang. Kamarnya
agak gelap, dan berbau. Bau orangtua
Enggan aku akui; tapi rasa ingin menjauh, tak ingin berlama-lama disana, rasa
takut, rasa ingin menghindar, rasa malas & segan, itu muncul. Tapi, alangkah
sombongnya aku untuk merasa seperti itu.
Semua perasaan yg muncul itu, tak kugubris. Bersama dengan teman-teman yg
lain, kami mulai membagi roti pada semua. Aku berhenti pada ranjang terakhir,
di paling sudut. Nenek ini duduk sendiri, wajahnya tidak terlalu berseri, dan
sepertinya tidak begitu antusias melihat kedatangan kami.
Dalam hati berkata, setelah kasih roti ini, mau ngajak ngobrol ga yah
Kelihatannya, dia ga gitu nyambut de. Daripada ntar dicuekin..
Nek, maaf mengganggu, ini ada roti dari kami, diterima yah
Dan nenek ini
pun tersenyum lebar, dan menerima roti, terus mengulurkan tangannya sambil
mengucapkan terimakasih, dan kami pun berjabat tangan.
Aku langsung duduk disampingnya. Dan mulai menggali tentang kehidupannya
selama di panti ini. Dalam hati ini, ada sedikit kontra dengan keberadaan panti
jompo. Dan oleh karena itulah, aku ingin tau lebih banyak tentang mereka, cara
hidup mereka, dan semua informasi yg mungkin aku dapatkan.
Nenek ini bernama Farida. (Nama yg bagus yah..), umurnya 84 tahun.
Penampilannya terlihat seperti awal 70-an. Dan diatas tempat tidurnya ada kayu
salib tergantung. Ketika menyentuh tangannya yg tua dan keriput itu, sungguh
dia telah tua sekali, dan sangat keriput, bukan hanya cuma keriput saja. Aku
malu mengakui bahwa, aku begitu narcis, ketika tangan kami bersentuhan, aku
merasa, koq kulitnya kasar sekali, jangan-jangan dia ada penyakit kulit de
Aduuu
.ternyata aku adalah seperti ini. Tapi ada suara sinis yg menjawab,
trus kenapa kalau dia sakit? Kamu takut tertular? Ck..ck
ternyata
Rasa takut itu aku tepis lagi. Dan meneruskan kembali percakapan kami.
Informasi yang aku dapatkan dari nenek ini; dia disini sudah sekitar 1 tahun,
dan setiap minggu pasti ada kunjungan dari gereja. Mereka datang sambil
membawakan makanan. Kemudian kenapa dia bisa sampai disini? Aku bertanya,
dimana anak-anaknya..? Dia bilang anak-anaknya sudah mati. Dan tidak ada lagi
keluarga yg merawat mereka. Dia terlihat begitu suka berbicara, enjoy sekali,
dengan giginya yg sudah hampir keropos dimakan usia. Ada beberapa kata yg tidak
begitu jelas.
Kemudian dia juga menceritakan tentang keadaan panti ini. (Aku sungguh
ingin tau, karena banyak beredar kabar miring tentang panti-panti yang
memperlakukan penghuninya dengan tidak manusiawi).
Syukurlah dari ceritanya, tampaknya panti ini cukup memperhatikan penghuninya.
Hanya ada beberapa gangguan kecil yg dirasakan nenek Farida. Dia bilang,
bahwa suster yang biasa mengurus dia, suka mengambil barang miliknya, seperti
baju, makanan, dll.
Dan nenek sudah pernah menceritakan pada pengurusnya, tapi tidak ada
tindakan.
Kemudian aku bertanya, berapa kali mereka makan disini? Dia menjawab,
seperti biasa, 3 kali juga. Pada jam 10 pagi, dan jam 4 sore (Nek Farida ini
tidak suka sarapan). Kalau mandi biasa sekali doank, yaitu pada jam 2 malam..!!!
Hah? Aku kaget..kenapa bisa begini, apakah nenek sendiri yg mau mandi jam
segitu atau memang hanya diijinkan pada jam segitu? Dia menjawab, bahwa pada
jam segitu, mereka dibangunkan..(Dalam hati kayanya masih ragu dee
Masa siii
)
Terus dia juga bilang, bahwa kayanya diruang ini, ada setannya, karena nenek
ini sering jatuh. Baru-baru ini dia jatuh, dan pinggangnya yg kena. Kemudian
beberapa waktu sebelumnya, dia jatuh juga, dan pelipisnya yg luka, dan masih
cacat sampai sekarang. Aku pun menyentuh luka itu. Seketika raut wajahnya
berubah, menjadi selembut anak kecil, begitu manja, sepertinya haus akan
belaian, sepertinya dia senang sekali, ternyata ada yg memperhatikan. Dan dia
juga bercerita, bahwa dia ga begitu akrab dengan penghuni lainnya. Mereka suka
ngomong yang tidak2, dan dia ga bisa bergaul dengan mereka, mending sendirian.
Oyah, ada yg lucu juga..Waktu dia bilang pinggangnya sakit, sambil memijat
ringan, aku menawarkan jasa untuk mengurut. Dia balik bertanya:
Kamu bisa mengurut? Yah dengan agak malu, aku menjawab, Yah, ga bisa sih
nek, tapi kalau cuma sekedar memijat bisalah..Hehehe
Dan nenek pun dengan tersenyum, bilang yah, ga usah, gapapa..Hehhee
Aku pun
cuma bisa nyengir kuda
.
Setelah cukup lama berbincang, akhirnya kami pun pergi, dan mengunjungi
kamar yg lain. Sebelum pergi, kupeluk ringan dia yang begitu ringkih. Kamar
berikut yang kami datangi lebih kecil dari kamar pertama. Dan beberapa diantara
mereka duduk santai di luar, dan ada yg masih kuat, ada juga yang sudah ga tau
apa-apa lagi.
Aku kembali masuk kedalam satu kamar, disini penghuninya ada 3, yaitu: Nek
Akim (hampir setahun disini), Nek Ong Ango (baru 4 bulan disini), dan Nek
Fatimah(namanya klo gak salah). Kita pun ngobrol singkat. Yang paling banyak
menceritakan dirinya adalah Nek Fatimah. Dia dulunya menikah dengan seorang
pria Surabaya. Ternyata setelah menikah, suaminya ini sering berjudi, pulang
rumah jam 2 pagi. Semua uang hasil kerjanya tidak bersisa. Untuk menutupi
hutang pun, mereka terpaksa menjual rumah. Setelah itu mereka pun harus
menumpang di rumah adik Nek Fatimah. Namun, tidak berapa lama kemudian,
suaminya mendadak minta cerai. Dan setelah cerai, suaminya entah kabur kemana,
meninggalkan 2 anak cowonya. Anak cowonya, pun ada satu yang hampir stress,
karena beban ekonomi. Dulunya, mereka masih punya sebuah toko yang menjual
segala bumbu masak. Tapi karena hutang, itu semua harus ditutup. Dan
sepeninggal suaminya, Nek Fatimah pun stress karena kesal. Sehingga ga lama
kemudian,
Nek Fatimah dipindah lagi ke tempat adiknya yg di Jakarta ini. Ga lama
kemudian, Nek Fatimah pun di masukin ke panti ini, karena dia sudah tidak mampu
lagi menjaga toko.
Nek Fatimah terlihat masih menyimpan kekesalan akan masa lalunya, terhadap
suaminya (yg paling besar), terhadap anaknya, dan kegetiran akan sikap adiknya
(atau mungkinkah kegetiran ini cuma perasaan aku doank?) Ketika sedang
menceritakan suaminya, suaranya menjadi agak keras, dan terdengar gusar.
Kemudian aku bertanya juga, bagaimana dengan air minum mereka, waktu makan
mereka, jenis air yg digunakan.
Semuanya baik, dan setiap seminggu sekali pasti ada yg datang berkunjung
menjenguk Nek Fatimah, atau kalau tidak; pasti ada telepon untuk dia. Nek
Fatimah ini masih cukup segar; selain penyakit darah tinggi yg dia derita, dan
mungkin usianya sekitar 50 an. Kalau dikamar ini, hubungan mereka bertiga cukup
baik, dan tampak saling mengenal kehidupan pribadi.
Ketika sedang asyik bercerita, terdengar ketukan dipintu, ternyata Handoyo
yang memanggil. Sudah waktunya bagi kami untuk menyudahi kunjungan kali ini.
Sambil mengucapkan salam perpisahan, mereka juga bilang semoga bisa kembali
bertemu lagi. Kalau ada kesempatan, silakan datang kesini.
Sampai dipintu depan, kami berbincang sebentar dengan pengurusnya. Setiap
orangtua yang tinggal disini, harus ada keluarganya yang mengantarnya &
bertanggungjawab atasnya, atau pihak yayasan (seperti gereja). Kalau tidak
ada, maka tidak diijinkan. Panti ini akan menyediakan semua keperluan yang
mereka butuhkan (tentu ada biaya perbulannya). Jika ada penghuni yang
meninggal, maka ini menjadi urusan dari pihak penanggungjawab, bukan lagi
tanggujawab pihak panti.
Dari ibu pengurusnya juga, kami tau, ada penghuni yang begitu rajin, setiap
minggu pasti pergi ke gereja yang terletak di cideng, dengan naik ojek..!!! Dan
catatan; nenek ini berjalan dengan terpincang-pincang..Semangatnya tidak
pincang sama sekali..
Kemudian kami mampir sebentar ke kantornya, dan mengobrol sedikit lagi.
Setiap satu bulan sekali, ada seorang dokter yang datang memeriksa para
penghuni.
Dan nenek yang di awal cerita tadi aku ceritakan, masih saja berjalan
memutari meja, tanpa henti. Entah sudah keberapa kalinya. Ibu pengurusnya
menjelaskan bahwa sekarang ini sudah mendingan. Dulu waktu awal-awal
kedatangannya, lebih parah lagi. Jika dia sedang dalam kondisi yang ga mood,
maka dia bisa merobek-robek baju yg sedang dipakainya sendiri. Namun setelah
menjalani perawatan, dan meminum obat dari dokter secara teratur, sekarang dia
sudah mulai membaik.
Setelah Anwar menyerahkan bingkisan kecil, kami pun meneruskan perjalanan
kembali ke daerah Tanjung Duren lagi.
Demikianlah sharing atas kunjungan ke panti jompo ini.
Mungkin teman2 yang lain, bisa ikut sharing juga pengalamannya sewaktu
mengunjungi panti ini.
Terimakasih pada Bro & Sis, atas waktu yg telah diberikan untuk membaca
sharing ini.
Metta,
Julie
---------------------------------
Need Mail bonding?
Go to the Yahoo! Mail Q&A for great tips from Yahoo! Answers users.