Dari milis sebelah....

Be grateful...U have a MOM!!!

Best Rgrds,

Tristina
MG Sport & Music

Delapan Kebohongan Seorang Ibu Selama Hidupnya 
Posted by: "djody_2005" [EMAIL PROTECTED]   djody_2005 
Wed Jan 24, 2007 11:12 pm (PST) 


Delapan Kebohongan Seorang Ibu Selama Hidupnya

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat 
manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru 
sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan 
ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah 
energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak 
laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali 
kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil 
memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata: "Makanlah nak, aku tidak lapar" 
---------- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu 
senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan 
hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. 
Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. 
Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk di sampingku dan memakan sisa 
daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan 
yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu 
menggunakan sendokku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat 
menolaknya, ia berkata : "Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan" ---------- 
KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu 
pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan 
hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. 
Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih 
bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel 
kotak korek api. Aku berkata :"Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih 
harus kerja." Ibu tersenyum dan berkata :"Cepatlah tidur nak, aku tidak capek" 
---------- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. 
Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan 
gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi 
lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku 
dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh 
yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih 
kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk 
ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :"Minumlah nak, aku tidak haus!" 
---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai 
ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus 
membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah 
dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin 
parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun 
membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di 
sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali 
menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak 
mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : "Saya tidak butuh cinta" ---------- 
KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, 
ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk 
pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan 
hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan 
sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak 
mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : 
"Saya punya duit" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh 
gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di 
sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang 
lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. 
Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata 
kepadaku "Aku tidak terbiasa" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus 
dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik 
langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang 
terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan 
sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar 
di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan 
jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah 
dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku 
perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan 
tegarnya berkata : "jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan" ---------- 
KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup 
matanya untuk yang terakhir kalinya.

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh 
dan ingin sekali mengucapkan : " Terima kasih ibu !"

Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu 
kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang 
dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita 
selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang 
kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah.

Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. 
Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan 
atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita.

Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita?
Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah 
bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali 
lagi..

Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, 
lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di kemudian hari.

Kirim email ke