Manajemen Bencana Zaman Kalabendu

AB Susanto

Kini giliran Manado diguncang gempa. Seberapa jauh
kita mengalami kemajuan dalam menghadapi bencana?
Bencana demi bencana menghampiri, tetapi masih belum
membuka kesadaran kita untuk meningkatkan kualitas
manajemen bencana.

Manajemen bencana adalah sebuah siklus aktivitas yang
berkelanjutan, tanpa tergantung dari terjadi tidaknya
suatu bencana. Justru saat tidak terjadi bencana
merupakan kesempatan untuk menyusun aktivitas
manajemen bencana yang lebih baik. Kenyataannya,
manajemen bencana baru menjadi topik pembicaraan
setelah bencana terjadi, kemudian dilupakan sampai
saat bencana berikut terjadi kembali.

Zaman Kalabendu

Saat bencana datang beruntun, menyeruak kembali wacana
mengenai zaman kalabendu, bagian Ramalan Joyoboyo yang
diangkat oleh Ronggowarsito dalam Serat Kalatida.
Serat Kalatida, meski berkisah tentang kedahsyatan
bencana alam pada suatu era juga mengupas "bencana
moralitas (akhlak)". Bahkan mungkin menjadi titik
perhatian sang pujangga. Seolah bencana fisik sebagai
pertanda dari era kehancuran moral.

Bagaimana menghubungkannya dengan manajemen bencana
dan mengambil maknanya dari fenomena zaman kalabendu?
Saat masyarakat percaya kita memasuki zaman kalabendu
yang bertabur bencana, kewaspadaan akan meningkat.
Seperti diketahui, ada empat tahap dalam siklus
manajemen bencana, yaitu mitigasi, kewaspadaan,
tanggapan, dan pemulihan.

Terlepas dari akurasinya, ramalan zaman kalabendu
telah membangkitkan kewaspadaan masyarakat yang
memercayainya. Pesan moral yang disampaikan oleh Serat
Kalatida adalah siap dan tabah dalam menghadapi era
ini dan optimisme datangnya zaman kemuliaan dengan
munculnya Ratu Adil.

Kesiapan dan ketabahan dalam menghadapi masa penuh
bencana ini, dalam konteks manajemen bencana, memiliki
makna kesadaran bahwa negeri kita rentan bencana
karena ada dalam Pacific ring of fire. Atas kenyataan
ini bukan berarti kita pasrah pada situasi tanpa
bertindak apa pun. Penerimaan itu diwujudkan guna
menghadapi, jika mungkin mencegah bencana, dan
meminimalisasi dampaknya bila tidak mungkin dicegah.

Inilah tugas manajemen bencana, mengubah sikap yang
pasif menjadi proaktif. Optimisme atas zaman kemuliaan
merupakan sisi positif karena masyarakat korban
bencana akan menghadapi berbagai masalah yang dapat
menggilas semangat mereka. Tetapi harapan itu tidak
hanya berupa harapan pasif dan menunggu datangnya Ratu
Adil. Zaman kemuliaan itu dibangun di atas prakarsa
sendiri, keinginan untuk bangkit dari keterpurukan
akibat bencana, serta mengambil langkah untuk mencegah
atau menghindari bencana lainnya.

Manajemen bencana

Persepsi bahwa manajemen bencana hanya memberi
pertolongan kepada korban harus diluruskan agar semua
pihak memahami proses manajemen bencana yang merupakan
siklus tak terputus, meliputi mitigasi, kewaspadaan,
tanggapan, dan pemulihan. Dengan demikian, manajemen
bencana harus dilakukan sebelum bencana dan tetap
dijalankan setelah bencana terjadi.

Mitigasi acap menjadi salah satu titik lemah seluruh
proses pengelolaan tindakan dalam menghadapi bencana
di negeri kita. Proses mitigasi melibatkan pencegahan
bencana dan pengurangan dampak buruk bencana pada
tahap minimal. Kebijakan mitigasi adalah kebijakan
jangka panjang, dapat bersifat struktural maupun
non-struktural. Kebijakan yang bersifat struktural
menggunakan pendekatan teknologi, sedangkan kebijakan
non-struktural meliputi legislasi dan perencanaan
wilayah.

Misalnya kebijakan penetapan rencana umum tata ruang
untuk mencegah banjir. Contoh mitigasi yang gagal
adalah saat hutan dirusak tanpa bisa dicegah oleh
hukum sehingga menyebabkan tanah longsor dan banjir.

Pelaksanaan manajemen bencana menuntut political will
pemerintah. Kemauan politik itu harus diwujudkan dalam
berbagai aspek pembangunan sosial ekonomi yang terkait
bencana. Ada sejumlah faktor yang memperburuk bencana
di negeri kita yang harus diwaspadai dan
dipertimbangkan, seperti kemiskinan, pertumbuhan
penduduk, urbanisasi yang cepat, transisi dalam
praktik budaya, dan kerusakan lingkungan.

Berbagai upaya meningkatkan kesadaran terhadap bencana
sering kurang berarti saat dihadapkan pada masalah
kemiskinan. Masyarakat lereng Gunung Merapi resisten
terhadap imbauan pengungsian karena masalah ekonomi.
Kemiskinan yang menyebabkan penduduk terpaksa tinggal
di bukit-bukit yang rawan longsor, tinggal di dekat
gunung berapi, dan menetap di sepanjang bantaran
sungai yang rawan banjir. Transisi dalam praktik
budaya juga acap menjadi ganjalan.

Di tingkat lebih nyata, perlu panduan dalam menyusun
struktur organisasi manajemen bencana. Organisasi
manajemen bencana merepresentasikan fungsi-fungsi
mitigasi, kewaspadaan, tanggapan, maupun pemulihan
yang dijabarkan dalam fungsi-fungsi organisasi.

Berdasarkan fungsinya, untuk "mitigasi" maupun
"pemulihan" organisasinya bersifat koordinatif karena
mencakup lintas fungsi yang melibatkan banyak
institusi lain. Tetapi untuk fungsi kewaspadaan dan
tanggapan, selain bersifat koordinatif juga harus
mempunyai "tangan" operasional karena faktor kecepatan
menjadi amat penting sehingga kedua fungsi itu
bersifat coordinating sekaligus operating.

Timbul pertanyaan, sudah tepatkah pendekatan
organisasional kita selama ini yang ditangani badan
yang sifatnya koordinatif? Pertanyaan lain, apakah
Satkorlak PBP dan Satlak PBP yang hanya menjadi
jabatan "sampingan" para kepala daerah dapat berjalan
efektif?

Para kepala daerah tentu tidak mempunyai waktu dan
perhatian memadai untuk menjalankan seluruh fungsi
manajemen bencana, terutama yang bersifat preventif,
seperti mitigasi dan kewaspadaan. Dan "kewaspadaan"
bukan kondisi statis, yang ditulis lalu disimpan,
tetapi merupakan tahapan dinamis yang terumuskan dalam
operasi di lapangan. Dengan demikian diperlukan
semacam "pasukan" khusus yang merupakan wujud kemauan
politik pemerintah.

AB Susanto Managing Partner The Jakarta Consulting
Group, Penulis Buku "Comprehensive Disaster Management
di Negeri Rentan Bencana" 


 
____________________________________________________________________________________
We won't tell. Get more on shows you hate to love 
(and love to hate): Yahoo! TV's Guilty Pleasures list.
http://tv.yahoo.com/collections/265 

Kirim email ke