Agenda Pasca-CGI

Iman Sugema

Setelah 15 tahun menjalin kerja sama dengan Indonesia,
akhirnya CGI dibubarkan oleh Presiden, Rabu (24/1)
lalu. Keputusan itu bisa merupakan langkah awal
terciptanya kedaulatan ekonomi. Tentu banyak yang
harus dibenahi agar kita betul-betul bisa berdaulat.

Yang jelas, mulai saat ini pemerintah setidaknya
menjadi lebih independen dalam menentukan arah
kebijakan sehingga lebih mampu mengedepankan
kepentingan publik domestik. Tekanan dan intervensi
dari kreditor diperkirakan akan berkurang.

Meski demikian, kita harus tetap waspada atas berbagai
bentuk intervensi yang masih dimungkinkan meski tanpa
forum resmi, seperti Consultative Group on Indonesia
(CGI). Jalur diplomasi di belakang pintu merupakan
celah yang tetap potensial untuk menitipkan "pesan
sponsor". Tetapi setidaknya, kini tak ada lagi forum
ritual dan seremonial yang mempertontonkan
ketidakberdayaan pejabat kita di hadapan kreditor
secara keroyokan.

Ini penting bagi bangsa yang memiliki semangat
kemerdekaan dan baru melalui masa-masa sulit dalam
sepuluh tahun terakhir. Krisis membuktikan, negara
yang telah merdeka secara konstitusi bisa dengan mudah
bertekuk lutut secara ekonomi dan politik di hadapan
bangsa lain dan lembaga internasional.

Berbagai agenda dan kepentingan asing secara kasatmata
dicantumkan dalam letter of intent (LOI) dan dokumen
pertemuan tahunan CGI kian menjauhkan negara dari
rakyatnya. Pasal 33 UUD 1945 tinggal nama, digusur
berbagai agenda liberalisasi penguasaan sumber daya
alam yang terkandung di perut bumi dan air.

Karena itu, pembubaran CGI seharusnya diterjemahkan
sebagai sebuah momen penting untuk meraih kembali
kedaulatan yang telah lama hilang.

Adalah salah jika di antara kita masih
menerjemahkannya hanya sebatas relasi finansial antara
kreditor dan debitor. Lebih luas lagi, kita ingin
memiliki kepercayaan atas kemampuan kita sendiri untuk
memecahkan masalah yang kita hadapi. Sudah lama rakyat
diokupasi persepsi, jika kita mau maju dan melangkah
dengan benar, dibutuhkan stempel dari pihak luar.

CK Prahalad yang beberapa waktu lalu berceramah di
Jakarta menyatakan, salah satu yang membedakan China
dengan Indonesia adalah tingginya rasa percaya diri.
Yang rendah diri tidak akan pernah menjadi bangsa yang
maju.

Dengan demikian, agenda pertama yang harus dilakukan
pemerintah adalah menunjukkan CGI tidak akan lahir
kembali dalam bentuk apa pun. Ketika pemerintahan
Soeharto membubarkan Inter-Governmental Group on
Indonesia (IGGI), lahir sebuah harapan kita akan lepas
dari ketergantungan terhadap pinjaman luar negeri.

Namun, sekelompok ekonom dengan berbagai alasan,
ditambah tekanan dari pihak luar, berhasil meyakinkan
Soeharto bahwa forum kreditor masih relevan sehingga
IGGI berganti baju menjadi CGI. Hingga kini, masih
banyak yang percaya kita masih harus "ditongkrongi"
para londo. Ini merupakan warisan mental kaum terjajah
dan merupakan bentuk ketidakmampuan kaum terpelajar
untuk keluar dari perangkap penjajahan.

Pembiayaan domestik

Agenda berikut yang harus dilakukan adalah penguatan
sumber-sumber pembiayaan domestik. Tahun lalu, dalam
sebuah forum, saya bertemu Gubernur Bank Sentral
Malaysia Dr Zetti Akhtar Azis. Dia sempat heran
mengapa Indonesia begitu lamban mengembangkan pasar
obligasi domestik. Dikatakan, seperti negara-negara
Asia lainnya, Indonesia merupakan high saving country
sehingga pemerintah mestinya tidak perlu kesulitan
mencari uang dari pasar obligasi domestik untuk
menutupi defisit anggaran.

Saat ini merupakan waktu yang tepat untuk mempercepat
pengembangan pasar obligasi domestik. Akibat belum
berkembangnya pasar surat utang, banyak dana nganggur
dan tidak bisa diserap sektor riil. Akibatnya, dana
yang diputar di pasar saham dan mengendap di SBI
membengkak. Karena perbankan kesulitan dalam
menyalurkan dana, maka Bank Indonesia terbebani
pembayaran bunga SBI.

Selain itu, pemerintah daerah mengalami kesulitan
untuk menempatkan surplus anggaran dalam bentuk
investasi yang produktif. Tiap tahun pemerintah pusat
berteriak kekurangan dana, sementara itu masyarakat
dan pemda kelebihan likuiditas. Fenomena yang amat
ironis.

Bukan antiasing

Pengembangan pasar obligasi domestik tidak harus
diterjemahkan sebagai sebuah gerakan nasionalisme
ekonomi atau antiasing. Ini adalah sebuah tuntutan
yang rasional dan menguntungkan secara ekonomi.
Berkembangnya pembiayaan domestik akan membawa
perbaikan dalam beberapa hal berikut.

Pertama, bila yang membeli obligasi pemerintah adalah
masyarakat Indonesia sendiri, maka uang yang digunakan
untuk membayar bunga setidaknya tetap mengalir dalam
perekonomian kita. Penghasilan bunga mampu menciptakan
efek perbaikan daya beli masyarakat. Berbeda dengan
pembayaran bunga utang luar negeri yang menyebabkan
uang kita tersedot ke luar.

Kedua, tekanan terhadap BI untuk melakukan pencetakan
uang menjadi berkurang. Kini, setiap terjadi kelebihan
likuiditas, BI harus menyerapnya dalam bentuk
penempatan dalam SBI. Total dana nganggur di SBI kini
lebih dari Rp 200 triliun. Uang sebesar itu harus
diberi bunga yang mendorong BI mencetak uang.
Akibatnya, BI tidak bisa sepenuhnya efektif dalam
mengendalikan inflasi karena jumlah uang beredar
bersifat endogenus.

Ketiga, kita juga bisa memperbaiki posisi tawar di
hadapan para kreditor. Dulu pemerintahan Soeharto
sering di-black mail bahwa utang dari kreditor tidak
akan cair jika tidak mau manut dengan resep kebijakan
mereka. Itu karena tidak ada alternatif lain selain
pinjaman luar negeri untuk menutup defisit. Karena
itu, mulai saat ini kita harus tegas bahwa kita
menginginkan kesetaraan hubungan antara kreditor dan
debitor. Dan itu bisa terjadi bila sumber pembiayaan
domestik dioptimalkan.

Sebagai penutup, masyarakat tentu menunggu
langkah-langkah selanjutnya pascapembubaran CGI. Jika
kita serius dan tegas, mungkin ini merupakan sebuah
langkah ekonomi yang paling bersejarah setelah 62
tahun merdeka.

Iman Sugema Senior Economist, Inter-CAFE, Institut
Pertanian Bogor 


 
____________________________________________________________________________________
Food fight? Enjoy some healthy debate 
in the Yahoo! Answers Food & Drink Q&A.
http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396545367

Kirim email ke