26 Januari 2007


Berangkat dari Ekayana, agak telat dari jadwal semula. Beberapa dari teman
kami, yang sebenarnya sangat tertarik dan ingin ikut, tetapi tidak bisa ikut
karena hal-hal tak terduga, seperti sakit dan banjir. Singkat kata, sampai
di pondok Amitayus, dalam kondisi yang cukup segar dan cukup dingin, apalagi
agak jauh dari kesumpekan udara kota Jakarta. Begitu sampai, kami di *briefing
*tentang hal-hal apa saja perlu diperhatikan selama retret ini, dan apa
tujuan dari retret ini.



Pertama-tama ko Agus (pembimbing retret Zen) dia mengajak para peserta,
terutama yang sebagian besar berasal dari Jakarta, untuk
meng-*appreciate *tempat
dan kondisi seperti di Amitayus yang bisa dibilang cukup kondusif untuk
melakukan retret dan jauh dari kebisingan perkotaan, yang mungkin sulit
sekali ditemukan tempat yang seperti ini di Jakarta, sedangkan bagi ko Agus,
di Jogja, setiap ada waktu dan kesempatan, dia bisa melakukan *sitting *di
tempat-tempat yang tidak terlalu sulit untuk dijangkau. Walaupun di
tempat  tersebut
(Amitayus), sering dipakai untuk retret, hanya saja, saat ini ada beberapa
kekurangan, seperti atap yang bocor pada saat hujan, dan jumlah selimut yang
kurang. Ko Agus juga mengajak peserta untuk mengapresiasi adanya Komunitas
seperti Dharmajala, yang belajar, berlatih, dan berbagi dalam suatu
komunitas Sangha. Ko Agus sendiri juga mengingatkan pentingnya Sangha untuk
saling *support *dan menunjang, seperti juga *sitting group* yang ada di
Jogja, dimana Ko Agus merupakan bagian dari Sangha disana.



Memasuki *briefing* tentang retret dan hal-hal yang perlu diperhatikan,
pertama Ko Agus menjelaskan tentang tujuan dari retret ini, yaitu dia ingin
mengenalkan praktek Dharma kepada peserta, juga agar para peserta menghargai
(*appreciate*) atau mensyukuri praktek tersebut, juga apabila mungkin, *connect
*dengan kehidupan sehari-hari peserta. Ko Agus mengatakan bahwa "rasa" dari
meditasi (*awareness*) ini, kurang menstimulasi (mungkin karena hasilanya
tidak *instant *dirasakan pada saat itu juga), itulah sebabnya dia ingin
memperkenalkan dan mengharapkan bisa menghargai (menyukai) praktek ini,
dengan tentunya sambil jalan, dia akan menceritakan manfaat-manfaat
dari *awareness
*ini. Kemudian selama retret peserta diharapkan untuk tidak saling menyapa,
tapi lebih pada pandangan mata melihat kebawah (tapi sebenarnya maksudnya
adalah melihat "kedalam"), dan tidak perlu untuk terlalu memperdulikan siapa
yang ada didepan kita, termasuk juga, kita diharapkan untuk tidak
melihat-lihat tulisan-tulisan yang ada didinding, juga pemandangan layaknya
sedang bertamasya, tapi lihatlah selalu dengan pandangan mata kebawah (*silent
illumination*). Dari sini saya baru menyadari bahwa memang selama ini, saya
sudah terlalu banyak menghabiskan waktu yang sebenarnya tidak perlu, untuk
berbicara, hal-hal yang tidak perlu, tidak penting, dan tidak bermanfaat
sama sekali, daripada menghabiskan waktu untuk mengamati apa yang sedang
terjadi, fenomena apa saja yang ada dan sedang terjadi didalam diri ini,
dimana kata ko Agus, selain kita akan lebih mengenal diri kita, kita mungkin
juga akan kaget dengan diri kita yang sebenarnya. Selama retret juga kita
diharapkan untuk selalu *relax our mind and body* dan anggaplah kita memang
sedang berlibur, hanya saja, hal yang dilakukan berbeda.



27 Januari, 2007



Bangun pagi, kami melakukan *morning exercise* dimana itu kita lakukan
dengan *mindfull */ penuh kesadaran. Walaupun disebut *exercise* tapi dalam
setiap gerakan, kita tetap disarankan untuk *relax* dan *mindfull* dimana
saya juga baru sadar bahwa kadang, selesai satu gerakan, ternyata ada juga
bagian-bagian dari tubuh saya yang tegang kembali, dimana juga dalam
keseharian aktifitas sehari-hari dimana saya merasa, pantas saja, bahwa
ternyata begitu malam hari, walaupun tidak melakukan sesuatu yang berat,
badan rasanya lelah sekali, ternyata kebiasaan otot-otot saya yang selalu
dalam keadaan tegang.


Selesai itu, kita meditasi duduk selama 1 jam, sebelumnya kita juga
melakukan relaksasi (yoga) sebelum meditasi duduk, seperti melakukan
perenggangan otot-otot leher, pinggang, dst. Begitu memasuki momen meditasi,
pertama kita dipandu untuk me-relaks-kan dari kepala, dahi, hidung, mulut,
leher, pundak, bahu, dada, perut, sampai ke telapak kaki, hal ini dilakukan
berulang-ulang sampai kita merasa benar-benar relaks, kemudian baru kita
membiarkan kelopak mata kita jatuh, dengan relaks, jadi tubuh benar-benar
duduk dalam keadaan relaks. Kemudian kita mengamati napas yang merupakan
jangkar untuk menghubungkan tubuh dan batin kita. Ko Agus juga memandu bagi
kita yang mengalami kesulitan untuk menghitung napas keluar, sampai 10 dan
ulang kembali dari 10, tentu saja, intinya bukan dibanyaknya hitungan, tapi
itu hanyalah *tool*, dan apabila peserta ngantuk, maka bisa juga dengan
membuka mata tapi tetap melihat kebawah, dan saya termasuk yang mengantuk
itu, bahkan sempat tertidur, seperti yang dibilang Ko Agus, begitu ada
gambar video dikepala anda, berarti anda sebenarnya telah "terbawa" oleh
arus pikiran anda, dan mungkin juga karena terlalu relaks dan memang
ngantuk, sempat tertidur juga dalam keadaan duduk, dan anehnya, untuk
pertama kalinya, duduk 1 jam, kaki sama sekali tidak merasakan sakit dalam
keadaan *full lotus*. Begitu meditasi selesai, kita masih tetap diharapkan
untuk mempertahankan kesadaran kita, dan tidak langsung bergerak begitu
saja, tapi amati dulu napas sebanyak 10x, kemudian secara perlahan-lahan,
kita melakukan *stretching *dan kita juga diharapkan dan sangat dianjurkan
untuk tidak dan menghindari keadaan batin yang seakan-akan seperti baru
keluar dari neraka (keadaan penderitaan), yang seakan-akan meditasi itu
seperti keadaan yang menyiksa diri.

<ting>

...bersambung...

Kirim email ke