Kita kemudian sarapan dengan penuh kesadaran. Sebelumnya Ko Agus sudah
mengingatkan setelah makan, harap piringnya untuk "dibersihkan" dengan air
minum kita, kemudian kita meminum sisa-sisanya, selain untuk menghargai dan
tidak menyia-nyiakan makanan, juga untuk membantu meringankan kerja panitia
dalam mencuci piring. Muncul perasaan yang merasa jijik dan aneh, dimana
kita harus meminum sisa-sisa makanan kita yang agak berminyak. Sebelum
makan, kita melakukan persembahan kepada Buddha, Dharma, Sangha dan semua
makhluk terlebih dahulu, dan kemudian melakukan perenungan, dan bagian
perenungan yang saya merasa seperti "tertampar" adalah yang mengatakan,
entah sudah berapa banyak karma baik yang sudah kita lakukan untuk bisa
mendapatkan sepiring makanan ini, ini sangat membantu kita untuk menghargai
makanan yang ada didepan kita dan merenungkan kondisi kelaparan yang ada
diluar sana, karena karma baik mereka yang tidak sebanyak (sebaik) kita.
Selama proses makan pun, saya merasakan makanan yang telah dikunyah, setiap
bagian, setiap lekukannya, kemudian muncul visualisasi makanan yang telah
dikunyah ini dengan rasa yang seperti ini, kemudian apabila saya
muntahkan/keluarkan dengan bentuknya yang sudah tidak karuan, apa kemudian
masih bisa saya makan? Padahal bukankah rasanya akan tetap sama saja?
Akhirnya saya menyadari bahwa ini semua (perasaan jijik, aneh, kotor)
hanyalah permainan pikiran saja, karena pikiran kita yang mengatakan seperti
itu, membuat kita tidak ingin memakannya, padahal dalam keadaan yang seperti
itu pun setelah ditelan, rasanya masih tetap sama.



Selanjutnya diisi dengan sesi *sharing *dan tanya-jawab. Pada bagian ini,
peserta sepertinya sangat antusias. Ko Agus *sharing *tentang
pentingnya *knowing
mind*, pikiran yang *aware*, selalu sadar. Dia menceritakan saudaranya yang
begitu dipepet dikit sewaktu menyetir, langsung buka jendela, dan anjing
keluar dari mulutnya, seketika itupun saya merasa, "wah, gue banget!" Dan
dia pun melanjutkan bahwa, ketika ditanya kenapa saudaranya begitu, ada rasa
puas setelah dia melakukan itu, dan saya pun pernah merasa bukan saja puas,
tapi juga rasanya hebat seperti sudah terbang ke langit. Padahal kalau mau
dilihat secara mendalam, hal tersebut sama sekali tidak menyelesaikan
masalah, dan punya kecenderungan yang sangat besar untuk menimbulkan masalah
baru, yang terus berkelanjutan, disinilah pentingnya untuk menjaga kesadaran
kita. Ko Agus juga bercerita bahwa dia punya ketakutan yang berlebih pada
kegelapan, pernah sekali dia baru ingat bahwa pada saat itu sudah bukan
bulan puasa lagi, karena selama puasa, tempat dia beristirahat pada sore
harinya (setelah buka puasa) biasanya banyak yang berolah-raga, tapi hari
itu, sepi sekali dan dia baru sadar bahwa didekatnya ada kuburan. Disitu
mulailah ketakutan-ketakutan itu kemudian muncul, tapi karena dia
*aware*dia mampu menguasai rasa takut itu, walaupun pada akhirnya
begitu dia sempat
lengah, dan kembali, justru rasa takut itu yang mengambil alih. Pada cerita
lain juga, Ko Agus menceritakan bahwa istrinya adalah orang yang sangat
bersih dan rapi, jadi begitu dia selesai keluar, dan tanpa mencuci tangan
dulu, kemudian langsung mengambil makanan/minuman yang kemudian dimarahi
oleh istrinya, dan kemudian terjadilah saling beradu argument, dan istrinya
sempat "memencet hot button" Ko Agus dengan mengatakan bahwa "katanya
meditator, tapi gak sadar", akhirnya muncullah kemarahan, dan karena Ko Agus
adalah orang yang pandai bersilat lidah, akhir kata, istrinya yang kalah
berdebat pun, masuk kamar dengan membanting pintu, dan dia pun rasanya ingin
membanting gelas yang sedang dia pegang itu, tapi kemudian <ting> ko Agus
menyadari kemarahan yang muncul, dia "menahan" diri, satu detik, dua detik,
dia sepenuhnya berada pada saat itu, dan beberapa saat kemudian rasa marah
itupun seakan marah tak berbekas.



Itulah sedikit cerita yang dibagikan ko Agus, tentang manfaat (transformasi)
dari kita yang terjaga, dan dalam keadaan yang terjaga itupun, bisa
diibaratkan bahwa kita harus bertindak sebagai *host *(tuan rumah) yang
kemudian mengamati para *guest* (tamu) yang datang dan pergi, tapi jangan
mau dan jangan sampai, tamu itu kemudian mengambil alih menjadi tuan rumah.
Apabila kita sanggup sepenuhnya *aware, *misalnya pada perasaan marah,
jengkel, sedih, kecewa, maka kita akan dapati bahwa itu bukanlah keseluruhan
diri kita, karena kesadaran kita pada saat itu tidaklah merasa demikian,
itulah juga yang saya dapati ketika sedang marah/sedih, saya sempat
mengatakan pada diri saya bahwa, "saya sedang sedih" tapi anehnya koq ada
bagian dari diri saya (kesadaran saya) pada saat itu, tidak mengalami hal
tersebut atau berada dalam keadaan tersebut?



Ko Agus juga ada bercerita perjuangan dia dan kegigihannya dari sebelum
menjadi seorang Buddhis, kemudian kelahiran anaknya yang kedua, yang
mengalami Autis, yang kondisinya lemah bagai sayur, tapi sekarang sudah agak
mendingan, dan sudah lebih tinggi dari Ko Agus sendiri, yang kemudian
membuat dia menemukan Buddha-Dharma. Dia bercerita bagaimana selama 12/14
tahun dia tidak pernah, tidur lebih dari 3 jam (CMIIW), karena setiap 2 atau
3 jam, anaknya pasti akan bangun, dan mulai "kambuh" sehingga mereka tidak
bisa tidur, dan untungnya Ko Agus, termasuk mampu secara financial, sehingga
dia masih sanggup untuk mengobati anaknya sampai bolak-balik keluar negeri.
Tapi yang membuat Ko Agus lega adalah pernyataan Master Sheng Yen yang
mengatakan bahwa pikiran ini adalah ilusi, hal-hal yang kita sebut kenyataan
ini sebenarnya adalah hanya rekayasa pikiran kita saja, dan walaupun Ko Agus
sempat lega, tapi juga ragu akan kebenarannya, tapi menurut Ko Agus, hal ini
bagi dia sudah tuntas secara intelek (melalui studi dan perenungan).



Kita kemudian melakukan *sitting *selama 35 menit, yang sama seperti
sebelumnya dimana kita me-relaks-kan tubuh kita dari ujung kepala sampai
ujung telapak kaki. Agak berbeda dengan duduk yang 1 jam tadi, kali ini,
kaki sudah mulai terasa sakit, dan semakin rasa sakit itu diamati, semakin
besar pula rasa sakit itu, tapi rasa sakit itu (pada saat itu) sangat
membantu saya untuk menyadari rasa sakit itu dan terus berada pada saat itu,
walaupun sebentar-bentar muncul pikiran "berapa lama lagi, yah?",
"sepertinya sudah mau selesai". Mungkin karena rasa sakit itu belum terlalu
*intense *sehingga itu sempat membuat konsentrasi saya akan rasa sakit itu
begitu kuat sampai begitu hilang sejenak rasa sakit itu, rasanya kosong, dan
tidak lama kemudian, diantara kekosongan itu, muncul lagi rasa sakitnya.
Selesai meditasi, hal yang sama pasti dan selalu dilakukan, kita tidak
langsung membuka mata dan bergerak, untuk tetap mempertahankan keadaan sadar
tersebut dan menghindari keadaan batin yang seperti baru keluar dari
penjara, kemudian melakukan *stretching*. Dilanjutkan dengan makan siang,
dan istirahat siang.


Selesai beristirahat, kita melanjutkan dengan meditasi jalan biasa, dan
jalan cepat. Beberapa kali sempat muncul pikiran yang mengatakan, "wah ini,
yang didepan kenapa jalan lambat sekali!" apalagi ditambah instruksi dari Ko
Agus, yang bilang "lebih cepat lagi, lebih cepat lagi!", membuat pikiran
yang tidak sabaran ini pun kemudian muncul, ada juga pikiran jijik dan takut
terinjak tahi ayam. Pada saat meditasi jalan cepat (lari) kita tiba-tiba
disuruh "STOP!!!", dan seketika itu juga, kita ditanya "Perhatikan, dimana
pikiran anda saat ini?" dan bertanya pada diri ini, "Siapakah yang sedang
berdiri ini?" Dalam keadaan napas terengah-engah, dan "dihantam" pertanyaan
seperti itu, ternyata memang benar adanya bahwa hal tersebut benar-benar
membuka lebar kesadaran kita, dan saya merasakan bahwa saya benar-benar
hadir dan berada disaat itu sepenuhnya, napas yang terengah-engah, kepala
yang berdenyut-denyut, kulit yang mulai mengeluarkan keringat, tanah yang
lembek yang sedang diinjak, dst.

<ting>

...bersambung ke bagian 3...

Kirim email ke