Tulisan ini saya tujukan buat rekan-rekan semuanya, termasuk diri saya sendiri yg punya banyak masalah. :-) ** ** *Sesungguhnya.. Masalah Hanyalah Sebesar EGO Kita Masing-masing*
Semua orang memiliki masalah dimasa lalu. Tidak terkecuali saya dan semua orang yg membaca tulisan ini, pasti pernah punya masalah. Jadi kita tidak sendirian. Ini normal dan tidak mungkin ada org yg selama hidupnya tidak pernah bertemu dengan masalah. Inilah salah satu yg disebut Dukkha, yakni : "Berkumpul dengan yg tidak disukai /dicintai". Dalam menghadapi masalah, ada yang mengungkapnya, ada yg berusaha melupakannya, ada yg bersikap seolah tidak ada masalah dan ada yg telah "berhasil" melewatinya. Ada juga yg disimpan dialam bawah sadar, sehingga sewaktu-waktu muncul dalam bentuk kekhawatiran, ketakutan, phobia yg seolah tanpa alasan yg jelas. Cara menghadapinya pun bisa melalui berbagai pendekatan. Tetapi karena ini milis Buddhist dan juga bagi saya pribadi pendekatan inilah yg paling cocok, maka saya coba bahas dari perspektif Dhamma. Bhante K.Sri Dhammananda pernah menyarankan : Pada saat masalah terasa begitu berat dan seolah terlihat terlalu besar buat kita, coba bayangkanlah seolah anda melayang dan melihat kebawah. Semua akan tampak mengecil. Orang-orang terlihat kecil, pohon, rumah, gedung semuanya tampak kecil. Bayangkan anda melayang lebih tinggi lagi. Gunung dan laut pun kelihatan kecil dan manusia serta rumah menjadi seperti kerikil-kerikil. Bayangkan anda melayang terus semakin tinggi hingga keluar angkasa. Bumi kita terlihat kecil, gunung dan laut tadi menjadi tidak kelihatan jelas lagi, apalagi manusia. Semakin jauh lagi, bumi sendiri tidak kelihatan dan hanya seperti debu dialam semesta. Pada saat itu, seberapa besar masalah kita ? Seberapa besar masalah kita didalam alam semesta ini? Sesungguhnya, besarnya masalah kita hanyalah sebesar EGO kita masing-masing. Semakin besar ego seseorang, maka semakin besar pulalah masalah itu terlihat olehnya. Terkadang ego kita bahkan sebesar dan setinggi gunung Himalaya, sehingga tidak heran apabila kadang kita merasa masalah kitalah yg paling berat, masalah kita tidak bisa dimengerti orang, paling penting dan mendesak, merasa tidak ada orang lain yg punya masalah lebih berat darinya, lupa bahwa orang lain yg diam dan tenang pun sebenarnya memiliki masalah yg mungkin jauh lebih besar dari kita, kita bahkan mengabaikan org-org lain yg selama ini dengan tulus mencintai kita karena masalah kita. Kita seolah menjadi tidak perduli kepada mereka, anak-anak kita, org tua, teman, saudara dan bersikap seolah mereka tidak lebih penting daripada masalah kita. Kita tega membayar semua kebaikan mereka dengan muka kusut kita. Kita menjadi orang aneh yg "lebih senang" menenggelamkan diri dalam lautan yg kita bilang kepada orang-orang lain sebagai "penderitaan". Masa lalu hanya menjadi masalah apabila tidak sesuai dengan harapan atau tidak kita harapkan terjadi. Dan hanya akan terus menerus menjadi beban utk periode selama kita masih menolaknya, belum bisa menerima bahwa itu memang terjadi, tidak menyukainya, malu, tidak percaya bisa terjadi, menyesal pernah terjadi, marah atau belum bisa memaafkan penyebabnya. Bagaimana menghadapi masalah seperti itu ? Terimalah kejadiaan dan kenyataan yg pernah terjadi apa adanya. Terimalah fakta bahwa masalah memang ada dan pernah terjadi. Siapapun atau apapun sebabnya, Terimalah tanpa berharap masalah berubah menjadi sesuai keinginan kita. Jangan menghakimi diri tetapi sayangilah diri kita. Maafkanlah diri kita, apabila kita merasa berbuat kersalahan. Tetapi sebaliknya maafkanlah orang lain, apabila orang tersebut pernah menyakiti kita, membuat kita menderita, trauma, marah atau benci dsb. Karena apabila kita terus menerus marah, benci atau trauma / takut, maka kita sebenarnya bukan sedang menyelesaikan masalah, kita bukan sedang menghukum ataupun membalas orang tersebut, melainkan kita sedang menyakiti diri sendiri. Kita sedang melakukan sesuatu yg berlawanan arah dengan keinginan kita utk bahagia dan bebas dari masalah di saat ini. Seorang murid memohon kepada gurunya ; Murid : "Guru, masalahku demikian berat. Tolonglah guru, bebaskanlah aku" Guru : "Siapa yg mengikatmu ?" "Iya ya..? tidak ada.." si murid menjawab sambil tersenyum malu. Dimanapun kita saat ini, cobalah tersenyum detik ini juga. Awalnya mungkin sulit, tapi apabila kita terus menerus mencoba, saya yakin kita bisa tersenyum setiap saat yg kita inginkan. Apakah ada sesuatu diluar sana yg melarang kita utk tersenyum ? Apakah ada yg membuat kita tidak bisa tersenyum ? Tidak ada. Kita bebas. Kita tidak diikat oleh apapun. Tidak ada belenggu apapun kecuali halusinasi kita sendiri. Kita dapat tersenyum kapan saja dan selama yg kita inginkan. Apapun kejadian yg sedang berlangsung diluar sana, kita tetap bisa tersenyum. Apakah diluar sana sedang hujan, sedang panas, sedang macet, sedang pesta, sedang perang, sedang damai, sedang berkumpul dengan siapapun dsb. Lalu mengapa kita merasa sulit tersenyum ? Karena kita sendirilah yg "mempersulit" diri utk tersenyum. Bukan menganjurkan utk EGP (Emangnya Gue Pikirin) ?, karena EGP berarti tidak mau tau apa yg terjadi atau cuek. Tetapi ini lebih kepada berusaha menjaga kondisi batin tetap tenang dan seimbang. Kondisi apapun yg terjadi diluar, tidak membuat batin harus ikut-ikutan terguncang atau tidak seimbang. Kita harus belajar utk tersenyum pada kondisi seburuk apapun. Itu penting sekali, karena hanya orang happy yg bisa melihat solusi, bisa tetap tenang dan jernih. Org happy tidak egois, Org happy baru bisa berbagi dgn tulus, tidak serakah. Org happy tidak takut dan khawatir. Org happy tidak pernah sedih sekalipun dalam kondisi menderita. Tidak gampang, namun bukan pula mustahil. Itulah hebatnya jalan yg ditunjukan oleh Buddha. Bukan teori karena banyak sekali yang sudah membuktikan keefektifan cara ini. Kita semua juga bisa, bukan hanya org suci saja. Ehipassiko (datang dan buktikan sendiri) !!! Penderitaan terletak didalam pikiran manusia, bukan diluar sana. Pengalaman sudah berlalu dan saat ini kejadian itu tidak ada lagi, tapi penderitaan masih tersimpan rapi didalam pikiran kita. Suatu hal akan menjadi masalah karena diri kita sendirilah yg menganggapnya sebagai masalah. Dan kita mengikat diri sendiri pada kepercayaan palsu. Kepercayaan bahwa kejadian itu masih nyata dan sedang terjadi saat itu. Kita melekatkan diri sendiri pada ingatan kejadian yg sudah kadaluarsa. Kita tidak benar-benar menyayangi diri sendiri. Kita kelihatannya lebih senang hidup menderita. Sering kita frustrasi dan berkata kepada org yg prihatin kepada kita,"Gampang saja kalian mengatakan bukan masalah. Saya juga ingin melupakannya, tapi ingatan itu tiba-tiba muncul tanpa saya harapkan.. Bagaimana tidak membuat saya menderita ?. Saya hanya bisa merasa sedikit bahagia kalau ingatan itu tdk pernah muncul lagi" Tetapi sayangnya pengalaman itu tidak kita cermati, Kita tidak belajar bahwa : Ingatan masa lalu memang selalu muncul sendiri meskipun tidak kita harapkan. Pikiran demikian tidak dapat dikontrol. Muncul dan tenggelam diluar rencana. Pikiran memang tidak senang berada di masa kini. Kejadian sudah 10 thn lalu, tapi pikiran masih saja berada dimasa itu. Oleh karena itu, tidak perlu berusaha melupakan atau lari dari masalah. Dengan berusaha melupakannya, berarti anda sedang berpikir ttg masalah itu. Pikiran selalu bekerja secara dualisme, disaat kita ingin melupakan sesuatu, disaat itu pulalah sesuatu muncul di pikiran kita. Bisa kita buktikan sekarang juga, cobalah melupakan kucing hitam dan perhatikan apa yg muncul dalam pikiran kita saat itu. Cara melupakannya adalah dengan membiarkan pikiran itu muncul waktu dia muncul, menerima kehadirannya, tetapi jaga jangan sampai kita hadir dalam lamunan itu. Kita tidak berada didalam alam pikiran. Jangan terlibat didalamnya kejadian yg sedang dipikirkan itu dan cukup diketahui saja kehadirannya. Sadari dimana anda berada dan apa yg sebenarnya sedang anda kerjakan saat itu. Karena itulah yg benar-benar nyata. Katakana saja pada pikiran, "Ingatan, ingatan, ingatan... Hei pikiran, silahkan teruskan ingatannya, aku tidak ingin terlibat, aku akan mundur menjadi penonton yg mengamati saja". Cobalah, ini sama sekali bukan lelucon, tapi serius. Kita menjadi menderita, karena kita yakin bahwa yang mengingat itu adalah kita, Kita yakin bahwa pikiran adalah diri kita. Padahal kalau kita mau coba tenang, hening lalu mundur dan mengamati ingatan yg muncul itu, kita akan merasakan fenomena terpisah dari ingatan itu. Kita tidak terlibat dalam ingatan itu. Kita bebas dari proses berpikir itu. Kita bukan ingatan itu. Kita tidak menderita karena tidak ikut hadir dimasa lalu yg direkayasa oleh pikiran. Oleh karena itu cobalah tenang dan hening sejenak. Kalau kita mengikuti acara Melangkah di Keheningan, mungkin kita masih ingat ceramah B.Uttamo yg mengatakan bahwa "Hampir semua masalah bisa diselesaikan dalam keheningan". Carilah solusi didalam diri kita. Kalau kita mampu merubah cara berpikir, maka kejadian diluar diri pun akan menjadi berbeda. Untuk solusi yg lebih nyata, saya mengajak semuanya untuk melakukan meditasi. Kita bisa memulai dengan meditasi Cinta Kasih terlebih dahulu. Tentunya kita perlu belajar terlebih dahulu dengan jelas cara melakukan latihannya. Coba dan buktikanlah, kita akan melihat sendiri bahwa kekuatan cinta kasih bisa membuat kita menerima apapun tanpa syarat. Memaafkan diri sendiri dan orang lain akan membuat kita hidup lebih tenang dan bahagia. Tetapi ini memang tidak gampang. Oleh karena itu kita butuh latihan yg salah satunya adalah melalui meditasi cinta kasih ini. Setelah kita mulai bisa tenang dan mampu memberi maaf kepada diri sendiri dan org lain, maka kita bisa mulai melatih Vipassana. Hal ini utk menuntaskan penderitaan kita sampai keakar-akarnya. Cobalah, ini bukan janji, tetapi apabila kita berlatih dengan sungguh-sungguh, bisa dipastikan kita akan merasakan sendiri manfaatnya. Dan kita boleh melupakan semua bahasan panjang lebar diatas. Karena semuanya akan kita dapatkan jauh lebih baik dan lebih detail melalui pengalaman latihan kita sendiri, bukan mendengar teori dari siapapun. Semua tergantung kepada kita masing-masing. Kebahagiaan diri ada ditangan kita sendiri. Kebahagiaan lebih kepada KETRAMPILAN, bukan pemberian dari siapapun. Mudah-mudahan masalah lampau kita menjadi lebih ringan dan suatu saat nanti tidak membebani kita lagi. Ingatlah, Ajahn Brahm pernah berkata : "Masalah yg tidak memiliki solusi / tidak bisa diselesaikan, adalah BUKAN MASALAH" . Semoga kita semua mau mencoba jalan yg telah ditunjukan oleh Guru Agung kita. Sadhu sadhu sadhu… Salam, Wi Tjong
