Pemberdayaan Masyarakat (1)
Uluran Kail bagi Kaum Marjinal

Nasrullah Nara

Senin (5/2) siang, warga Jakarta dan sekitarnya masih
diliputi trauma banjir. Meskipun genangan air yang
merendam lebih separuh wilayah Ibu Kota sudah
perlahan-lahan menyusut, kegundahan hati pengungsi
yang terkonsentrasi di tenda-tenda, rumah-rumah
ibadah, dan persekolahan belum juga surut.

Harap maklum, bahan makanan dan minuman yang mereka
sempat selamatkan dari rumah masing- masing sudah
menipis. Keresahan warga tersebut sempat terdengar
oleh jajaran direksi PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk.
Siang itu juga, dua unit truk dan dua unit minibus
beriringan keluar dari halaman Gedung Cordova di
kawasan Ancol, Jakarta Utara, tempat jajaran direksi
perusahaan pengelola kawasan wisata tersebut
berkantor.

Iring-iringan keempat kendaraan tersebut mengangkut mi
instan dan air mineral. Salah satu area yang dituju
adalah lokasi pengungsian warga Kelurahan Pulo Gebang,
Jakarta Timur.

"Kebutuhan yang sangat mendesak bagi korban banjir
adalah makanan buat pengganjal perut," ujar YJ
Harwanto, Kepala Departemen Corporate Plan PT
Pembangunan Jaya Ancol.

Itu sekadar gambaran spontanitas PT Pembangunan Jaya
Ancol terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat
sekitarnya. Di luar dari yang bersifat spontan atau
darurat itu, selama ini telah berjalan sebuah pola
hubungan baku antara perusahaan tersebut dengan
masyarakat sekitarnya.

Sejak dua-tiga tahun lalu, PT Pembangunan Jaya Ancol
merangkul masyarakat di sekitarnya, terutama di
Kelurahan Ancol, untuk mengubah kawasan kumuh menjadi
kawasan hijau lestari. Cobalah jalan-jalan ke RT 02 RW
02, Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan. Gang-gang
sempit di permukiman padat tersebut sudah sedikit
tampak asri dengan hadirnya deretan pot tanaman hias
di sisi kiri atau kanan gang. Kehadiran hehijauan
tersebut setidaknya mengembuskan kesejukan di tengah
gerahnya udara dari Teluk Jakarta.

Program bertajuk "Ancol Sayang Lingkungan" tersebut
tak sekadar menyadarkan masyarakat akan perlunya
menciptakan suasana permukiman yang asri, tetapi juga
menjelma sebagai semacam proyek pemberdayaan
masyarakat. Dari kegiatan daur ulang kertas dan
pengolahan sampah rumah tangga sampah menjadi kompos,
misalnya, lahir tata hubungan yang saling
menguntungkan kedua pihak.

Di situ ada proses pembelajaran bagi warga untuk
memanfaatkan limbah perusahaan dan limbah rumah tangga
sebagai komoditas baru yang dipandang sebelah mata.
Kertas bekas dari PT Pembangunan Jaya Ancol yang
biasanya dibuang begitu saja, ternyata dapat didaur
ulang menjadi aneka produk bernilai ekonomis. Sampah
rumah tangga warga sekitar yang semula menggunung dan
beraroma kurang sedap di tempat pembuangan sementara,
dapat diolah warga jadi kompos.

Paling tidak cakrawala berpikir warga setempat terbuka
luas untuk memahami bahwa sebuah kegiatan ekonomi
tidak mesti bermodal infrastruktur padat modal, tetapi
cukup dengan kreasi, ketekunan, dan keuletan. Dari
sisi keramahan lingkungan, paling tidak warga
menyadari bahwa sebuah produk industri tak mesti lahir
dari ingar-bingar pabrik yang diwarnai cerobong asap.
Semuanya bisa dikerjakan dengan memanfaatkan
bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan kimia.

Berbagai produk kegiatan daur ulang kertas misalnya,
langsung terserap oleh unit-unit usaha dalam naungan
PT Pembangunan Jaya Ancol. Contohnya, tatakan meja
makan dibeli oleh restoran Putri Duyung Ancol.
Sedangkan kertas untuk keperluan surat-menyurat dan
kebutuhan lainnya dijual kepada manajemen direksi PT
Pembangunan Jaya Ancol.

Adapun pengolahan sampah menjadi kompos telah
menghasilkan produk pupuk organik yang bisa dijual
kepada PT Pembangunan Jaya Ancol untuk perawatan
tanaman penghijauan di kawasan rekreasi.

Akhir tahun lalu, sebagai dukungan terhadap
pengembangan pasar ke berbagai segmen, Pemerintah
Provinsi DKI Jakarta berkomitmen untuk menyerap produk
industri kecil dari komunitas tersebut.

Kehati Award

Atas kemampuannya bersinergi dengan masyarakat sekitar
untuk melahirkan aktivitas yang ramah lingkungan
secara berkelanjutan tersebut, akhir tahun 2006 PT
Pembangunan Jaya Ancol mendapatkan penghargaan berupa
Kehati Award dari Yayasan Keragaman Hayati Indonesia.
Anugerah yang merupakan penghargaan tertinggi untuk
pelestari keragaman hayati Indonesia itu diserahkan
oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar.

Tanggung jawab sosial

Pemberdayaan masyarakat dalam sebuah hubungan
simbiosis mutualisme telah ditampakkan oleh PT
Pembangunan Jaya Ancol. Hubungan tersebut terencana
tanpa bergantung permintaan spontan masyarakat.

Pemberdayaan menjadi "titik tekan" karena di sini
masyarakat tidak dibiasakan meminta dan meminta,
tetapi diarahkan berkreasi untuk mengoptimalkan tenaga
dan pikirannya dalam kegiatan produktif. Dalam
paradigma bisnis modern, inilah yang dinamakan
tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social
responsibility alias CSR).

Rupanya telah berkembang kesadaran di kalangan bisnis
bahwa investasi berkelanjutan hanya akan dapat
dipertahankan kalau ada keseimbangan antara aspek
ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup. Keberlangsungan
hidup perusahaan juga sangat bergantung pada
keberlangsungan hidup dan dukungan lingkungan
masyarakat tempatnya tinggal dan berpijak.

Sejumlah perusahaan terkemuka juga telah mewujudkan
tanggung jawab sosial untuk pemberdayaan tersebut. PT
Unilever juga memberdayakan masyarakat dengan, antara
lain, berfokus di bidang lingkungan. Sentra binaan
pemilahan sampah organik dan non-organik perusahaan
ini tersebar di Mampang (Jakarta Selatan), Klender
(Jakarta Timur), dan Jambangan (Surabaya). Selain itu,
tersebar 200 sekolah yang merupakan mitranya dalam
program Green and Clean School demi penyadaran akan
pentingnya pelestarian lingkungan.

Kelompok usaha Indofood Sukses Makmur Tbk tak mau
ketinggalan. Divisi Bogasari, misalnya,
menyelenggarakan pendidikan untuk tukang roti,
pengusaha kecil yang selama ini menjadi mitra bisnis
maupun siapa saja yang ingin mulai berusaha. Targetnya
adalah mencetak pengusaha mandiri. Bogasari Baking
Center mendidik mereka membuat berbagai makanan,
seperti roti, martabak, mi, dan sejenisnya.

Di tengah keterbatasan kemampuan negara memberdayakan
masyarakat, perusahaan- perusahaan itu terpanggil
mengemban misi sosial.

Sebagai imbalannya, sudah semestinya pemerintah ikut
mendorong lahirnya iklim yang sehat bagi mereka yang
mulai berdaya itu, termasuk menyerap produk mereka
untuk keperluan instansi. Adapun terhadap perusahaan
yang membina dan memberdayakan masyarakat, pemerintah
mestinya memberi kompensasi, termasuk jaminan keamanan
dan kenyamanan berinvestasi. Jadi, bukan justru
sebaliknya.... 


 
____________________________________________________________________________________
Expecting? Get great news right away with email Auto-Check. 
Try the Yahoo! Mail Beta.
http://advision.webevents.yahoo.com/mailbeta/newmail_tools.html 

Kirim email ke