Sekuntum teratai untuk anda semua, para calon Buddha. Sekedar ingin sharing aja apa yg telah kami lakukan bersama ke posko2 banjir. Bukan untuk show off atau apa tapi
kami cuma menunjukkan rasa peduli terhadap korban banjir dan juga untuk menyalurkan dana baik berupa uang atau makanan (nasi bungkus) yang telah dan akan di sumbangkan oleh para donatur. Seperti yang telah di informasikan Bro Richard bahwa pada tanggal 5 Feb, beberapa dari anggota Dharmajala yaitu Liana,Nicky, Steven Cong,Vianti, Yohanes, Listanto, Eka Paskalis, Hendra Lim dan Julie bersama dengan 14 tim dokter dari INTI terjun ke sekitar Jakarta barat untuk bantu korban banjir. Telah dibagikan sekitar 300 nasi bungkus yang kita sediakan sendiri di rumah Sdri kita Liana. Hari minggu kemarin juga sudah dibagikan 216 nasi bungkus di sekitar daerah Angke. Mengenai dana untuk bantuan korban banjir untuk sementara ini masih di support oleh dana dari anggota kita sendiri ditambah bantuan dari Dokter INTI dan sebagian dana dari sisa dana baksos untuk Teluk Naga (yang untuk sementara di pending karena kondisi Jakarta yg tidak memungkinkan). Kemudian pada tanggal 6 Feb, tempat kumpul masih tetap di rumah sis Liana. Pada hari ini tim dibagi menjadi 2: - tim pertama : Julie, Steven, Rina pergi ke Tebet (cerita lengkap mungkin akan di sharing sdr oleh mereka) - tim kedua : Liana, Nicky, Eka, Momink, Erwin, Fang2, Linda, Gunawan dkk. Dikarenakan mobil akan diisi barang2 yang akan disalurkan maka tim kedua sebagian naik mobil dan sebagian naik motor. Kebetulan aku naik motor dan ini pengalaman pertama naik motor lewat jalan tol kebon jeruk. Berhubung jalan masih banyak yg banjir terutama di depan CL, latumeten dan jelambar maka akses jalan menuju Kapuk cuma lewat tol. Maka kami berempat (Nicky boncengan dgn Eka, Momink, dan aku) masuk ke jalan tol di depan apartemen kedoya elok. Naik jalan tol cukup menegangkan krn harus nyelip2 di antara mobil, tronton dan truk. Cukup banyak motor yang masuk ke tol, dan di perjalanan juga banyak ketemu motor yang dtg dari arah yg berlawanan. Jadi di samping harus waspada dgn mobil yang ada di kanan juga harus waspada motor yang dari arah depan (whewww...). Dalam perjalanan dari atas kami melihat ke bawah banyak terlihat rumah2 dan jalan2 yg terendam banjir. Setelah beberapa menit perjalanan yang cukup menegangkan maka sampai lah di Kapuk. Di sana telah berdiri Posko milik Yayasan Buddha Tzu Chi, disitu telahberdiri tenda2 pengobatan dan tenda penampungan bagi yang sakit. Tenda2 Passus juga banyak berdiri di situ. Para relawan Tzu Chi juga terlihat sangat sibuk menggotong makanan, minuman dll ke dalam perahu karet untuk dibagi2kan ke posko2 banjir yang ada di kapuk muara. Syukurlah perahu karet telah disediakan oleh Passus beserta mesin nya sehingga sangat memudahkan dalam penyaluran bantuan. Stlh sampai disana kami menunggu rombongan yang naik mobil. Dan setelah mereka sampai kami masih menunggu nasi bungkus yang dikirim oleh ibu Sutina. Setelah nasi bungkusnya sampai barulah kami bergerak menurunkan selimut, pakaian dalam, mie instan, beras dll dari mobil. Sebelum itu kami telah berkoordinasi dgn relawan Tzu Chi yang ada. Jumlah nasi bungkus 530 bungkus kemudian relawan tzu chi menawarkan tambahan dari mereka 100 bungkus lagi. Dengan informasi yang kami dapat dari Passus yang telah berulang kali mengantarkan bantuan dan mengevakuasi korban. Maka kami bersembilan naik perahu karet bareng dengan Passus dan beberapa relawan Tzu Chi. Semua total 3 perahu karet yg berangkat. Tempat yang kami lewati adalah kali yang terendam banjir dan merupakan akses untuk menuju kesana. Pada awal keberangkatan ada banyak tanaman air yang menghambat tapi dapat di lalui juga. Pada beberapa tempat mesin harus dimatikan karena tempatnya rendah atau ada palang jalan, dan harus mendayung. Passus (tentara) ini begitu memahami medan yg dilalui shg dgn cekatan mereka mengendalikan perahu dan mematikan mesin apabila tempatnya dangkal banjirnya. Di perjalanan kami banyak melihat anak2 kecil yang bermain perahu karet kecil, dan banyak sekali yang berenang2. Kebanyakan rumah2 disitu terendam banjir setinggi +/- 1m bahkan ada yg lebih dalam. Sepanjang perjalanan juga hati deg2an karena banyak sekali penduduk disana yang meminta sembako yang kami bawa. Passus sdh pesan ke kami jgn dikasih krn kalau dikasih satu maka yang lain akan berebut ambil juga. Dalam pikiran sempat terlintas "wah untung ada prajurit TNI bersama kami kalau tidak mungkin di tengah jalan sudah di cegat dan di rebut penduduk" tapi ini cuma asumsi pikiranku lho hehe... DI tengah perjalanan juga kami ketemu pak wakil camat. Beliau juga mau mensurvey pengungsi yg ada disana. Setelah beberapa kali melewati belokan dan banyak rumah penduduk akhirnya kami tiba di posko banjir yang tadinya merupakan sekolah. Kemudian bahan makanan dan perlengkapan di bawa turun dari perahu karet secara estafet. Disitu telah terdapat banyak pengungsi yg rumahnya terendam total oleh banjir. Cukup banyak jumlahnya dan mereka tinggal di ruang2 kelas dan di halaman. Ada banyak anak kecil yang lagi bermain kemudian bertanya ke sis Liana yg kmrn ikut dtg "Mana cici yg kmrn?" maksud mereka Vianty yg ikut kmrn dan mengajak mrk bermain. Barang2 yg diturunkan langsung diserahkan ke Ketua RW di tempat logistik yg tadinya merupakan ruang kelas. Barang kemudian didata kembali dan dihitung jumlahnya. Kami juga membagikan kertas2 yg berisikan himbauan untuk menjaga kebersihan atau memisahkan sampah kepada mereka untuk di tempel di tiap lantai gedung. Hal ini dilakukan krn kmrn nya sampah banyak berserakan disana dan sangat kotor. Sehingga perlu utk di himbau agar menjaga kebersihan agar tidak muncul penyakit2. Dikarenakan ada perahu yg bocor dan agar yg empunya perahu (Passus) tidak menunggu terlalu lama maka kami pamitan sama mereka dan pak wakil camat mengucapkan terima kasih mrk (gpp pak cuma ini yg bisa kami lakukan). Kembali perjalanan pulang melewati perkampungan yg terendam banjir, di jalan beberapa kali mesin mati krn kelebihan beban hehe...dan beberapa kali hampir menabrak tembok. Di tengah perjalanan pulang kami berpapasan dgn rombongan sukarelawan tzu chi yg naik speed boat, mereka menyapa dgn melambaikan tangan dan kami juga melambaikan tangan. Di perjalanan kami jg di peringatkan penduduk bahwa terdapat palang dan agar berhati2 melewatinya. Tanaman air yg tadi merintangi ternyata udah hanyut terbawa arus shg jalanan udah terbuka. Akhirnya sampai di tempat kami berangkat tadi dan ternyata tanaman air sdh hanyut kesana. Kami mengucapkan terima kasih kepada para prajurit yg siap membantu 24 jam. Tidak berapa lama ternyata ada boat lagi yg membawa penduduk yg sakit, ada anak seorang ibu yg habis makan mie instan kemudian kejang2 dan segera di tolong oleh tim medis Tzu Chi. Ibu anak itu hampir pingsan melihat keadaan anaknya dan kemudian ditenangkan oleh relawan tzu chi. Jam telah menunjukkan pukul enam dan kami pun memutuskan pulang krn hari sdh mau gelap. Kembali kami naik motor melewati jalan tol td, tp kali ini berlawanan arah shg hrs lebih hati2. Mendekati daerah jelambar jalan tol padat merayap. Hal ini dikarenakan di depan untar jalan tol tergenang air sehingga harus pelan2 melewatinya. Kami keluar dr tol setelah melewati banjir di depan untar dan mengambil jalan biasa menuju putaran TA. Jam 7 kami tiba di rumah sis Liana dan disitu telah tiba tim pertama. Sisa Rombongan yg ikut naik mobil tentu saja masih tertahan di tol yg padat sekali. Sekian lah sharing dari kami ttg perjalanan pergi ke posko banjir di kapuk muara dan sekitarnya. Mungkin banyak kejadian yg terlewatkan dari cerita diatas dan mungkin ada dari tambahan dari bro/sis yg ikut kmrn silahkan aja ditambahkan. Salam Perjuangan Vimalananda Pema Dam Choe ____________________________________________________________________________________ TV dinner still cooling? Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV. http://tv.yahoo.com/
