Berita Utama   
Jumat, 09 Februari 2007

Pascabanjir
Sampah Berserakan di Jakarta

Jakarta, Kompas - Setelah banjir surut, Jakarta kini
menjadi tempat sampah berserakan. Di hampir semua
sudut jalan, perkantoran, kawasan industri, permukiman
warga, pintu air, dan muara sungai di wilayah itu
sampah dan lumpur berserakan.

Berbagai jenis sampah, seperti kasur, puing bangunan,
batang kayu, kayu gelondongan, misalnya, memenuhi
saringan sampah Kali Jelangkeng di Jalan Pluit Raya,
Jakarta Utara.

Selain yang dibawa air 13 sungai di Jakarta, sampah
memenuhi pula jalan-jalan permukiman warga. Berbagai
jenis perabot rumah tangga yang terendam air dibuang
pemiliknya, seperti sofa, kasur, dan barang
elektronik. Barang-barang itu umumnya rusak karena
terendam air dan bercampur lumpur.

Sampah yang terbawa sungai dalam dua hari ini, menurut
Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta Eko Bharuna, Kamis
(8/2), meningkat dua kali lipat, dari 300 meter kubik
per hari menjadi 600 meter kubik per hari. Peningkatan
tersebut menyebabkan Dinas Kebersihan DKI kewalahan
karena peralatan yang tersedia tidak seimbang dengan
sampah yang ada.

Sampah yang terangkut pada awal banjir 2-5 Februari
masih berupa sampah rumah tangga yang dibuang ke
sungai. Namun, setelah itu sampah berganti dengan
puing-puing rumah yang hanyut dan segala perabotan.

Pengamatan menunjukkan, sampah yang menumpuk di Pintu
Air Manggarai, Kamis, diangkut dengan menggunakan alat
angkut ukuran besar. Namun, jumlah truk pengangkut
sampah terbatas sehingga pengangkutan berjalan lama.

Eko mengatakan, Dinas Kebersihan DKI memiliki 736 truk
pengangkut, tetapi sebagian besar digunakan untuk
mengangkut sampah di dalam kota. Adapun untuk
mengangkut sampah dari sungai hanya tersedia 10 unit
truk, ditambah 4 unit dari suku dinas kebersihan.
Jumlah truk pengangkut tersebut tidak imbang dengan
sampah yang ada.

Karena itu, Dinas Kebersihan DKI berencana bekerja
sama dengan swasta, untuk mengangkut sampah. Sampah
rumah tangga diangkut sampai ke tempat pembuangan
akhir (TPA) sampah Bantar Gebang. Adapun sampah berupa
puing rumah hanya sampai ke dekat TPA itu agar dapat
diambil oleh para pemulung. Kebijakan tersebut diambil
karena TPA Bantar Gebang sulit mengolah puing-puing
rumah tangga. (eca/cal/cas/arn/hln/nel) 


 
____________________________________________________________________________________
We won't tell. Get more on shows you hate to love 
(and love to hate): Yahoo! TV's Guilty Pleasures list.
http://tv.yahoo.com/collections/265 

Kirim email ke