Dear all, Namo Buddhaya, Memang binggung melihat berbagai kejadian aneh, semoga menjadi pengalaman berharga, semoga kita semakin waspada, dan belajar bijak dari kejadian-kejadian seperti ini. sungguh pelajaran berharga tentang awareness.
Vinaya memang tidak di beberkan kepada umat, bahkan seorang samanera juga tidak tahu apa isi Vinaya, tapi jaman modern seperti ini, tinggal googling saja, wuah...sana-sini sudah tersedia dalam bentuk file elektronik. Memang 'policy' Buddha adalah agar tidak umat tidak melancarkan kritik terhadap anggota sangha. Tapi entahlah, jaman 2500 (lebih) tahun lalu dan sekarang sungguh perbedaan besar, dan saat itu ketika ada hal yg tidak sesuai dgn norma budaya setempat, dan terjadi kasus, umat melapor kepada Buddha, dan Buddha kemudian yg menetapkan aturan dan akhirnya menjadi Vinaya, Vinaya juga tidak sekaligu jadi semua blek dua ratusan lebih, itu juga satu persatu; saya lagi membayangkan kalau Buddha masih hidup di jaman modern ini, mungkin bik(s)u (menurut KBBI hal 150, biksu, biku, biksuni, dan bikuni) tidak boleh menggunakan Hape..contoh saja, dan Vinaya juga barangkali ada yg dihapus dan ada yg aturan baru yg ditambahkan, tapi yg jelas akan bertambah banyak jumlahnya. Jaman begini memang harus ada sebagian yg perlu diketahui, tapi batasannya di mana? ini yg saya sungguh tidak tahu, karena tidak tahu menahu tentang Vinaya. Jaman dulu, umat bisa langsung lapor kepada Buddha, namun jaman begini lapor kepada siapa? memang sih masih bisa lapor kepada senior atau guru yg lebih senior atau minimal biksu yang sepantaran atau yg tidak terlalu jauh, cuman ini yg bisa kita lakukan. memang "lain lumbung lain padinya", dari generasi ke generasi yang naik turun seperti ombak di laut, kadang tinggi, kadang rendah, kadang tidak tinggi juga tidak rendah, kualitas penulisan juga beda karena beda generasi, ini yg perlu kita sadari yg terjadi dalam Dharma Prabha, bukan berarti generasi kali ini tidak baik loh.......barangkali editor atau pemimpin redaksi yg ke-slip (maklum aja, biksu dan umat biasa juga sama2 sulit mau jadi makhluk suci, sesuai topik di atas), sungguh indah peribahasa indonesia, "Tak ada gading yg tak retak", yah sekaligus buat pembelaan diri, memang cocok kan :) tulisan ini memang sangat mengelitik, namun cukup "sarkasme" dan lebih sedih lagi, sampai mengutip acara waisak di borobudur segala dan di bagian bawah juga di tulis "Kisah di atas hanya fiktif belaka....dst" tapi menyerempet salah satu kasus Rinpoche di Indonesia, saya pikir etika menulis di Majalah kurang "tepat", memang demokratis pers harus dihargai, namun tetap ada norma2 yg tetap harus di jaga, seperti etika menulis, tata cara menulis dsb, kita tidak akan membahas tentang ini, cukup sampai di sini saja. anyway, thanks bgt Bung Dayapala, saya jadi tahu dan belajar sesuatu yg baik dari artikel ini, walaupun dgn bernada "sarkasme", semoga teman2 yg lain juga memperoleh pelajaran berguna. Tetap semangat belajar, berlatih, dan berbagi hidup berkesadaran dan perhatian murni. Salam dari Dharamsala, India --- In [email protected], "Dayapala" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Di bawah ini ada sebuah artikel yang sangat menarik perhatian dan > cukup membuat saya TERGETAR. Bersumber dari majalah buddhis triwulan > nasional DHARMA PRABHA edisi ke-50 (edisi emas)hal 48-51. Mudah2-an > dapat menarik perhatian anda juga. > > Meskipun cukup panjang, BACALAH !!! dan mungkin anda akan TERGETAR.... > RRRRRRR.... RRRRRRR...... RRRRRRRR...... ^_^ > > > Bik(s)u juga Manusia Biasa > > Menurut gosip-gosip tetangga, Ibu Aris akhir-akhir ini menjalin > hubungan dengan Bapak F Supra (bukan merek motor, lho). Herannya lagi > bagi para tetangga, Pak F Supra ini kepalanya gundul. Kadang-kadang > pake selendang merah. Usut punya usut, ternyata kepala gundulnya itu > merupakan bagian dari disiplin "profesi"-nya, demikian pula dengan > selendang merahnya. Ya, Pak F Supra ini ternyata, konon katanya, > berprofesi sebagai bik(s)u. > > Kabar miring tersebut membuat sebagian orang kebakaran jenggot dan > merah telinganya, sampai-sampai mengadakan konferensi pers pula. > Dengan kemampuan ilmu komunikasinya, mulailah dicari segala dalih > untuk menutup aib tersebut, di antaranya dengan mengatakan bahwa yang > bersangkutan, Pak F Supra, bukan seorang bik(s)u. "Seorang bik(s)u > tidak boleh menikah, tetapi yang bersangkutan, Pak F Supra, menikah. > Jadi, dia bukan seorang bik(s)u." Begitulah salah satu cara mereka > bersilat lidah. Nyana Bhadra "May I become at all times, both now and forever; a protector for those without protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack of shelter; and a servant to all in need"-- H.H. The 14th Dalai Lama, Tenzin Gyatso -- Bodhicharyavatara [Tib. Jang-chub Sem-pa'i Cod-pa Nyid Jug-pa Zhug-so; Chapter III, Verse 18-19]
