Membongkar Jerat Kemiskinan

PRUDENSIUS MARING


Membongkar jerat kemiskinan berhubungan dengan
kejujuran dan akurasi data, kebijakan pemerintah,
tindakan konkret, perilaku masyarakat dan bagaimana
kita memaknai kemiskinan.


Sejak krisis sosial-ekonomi, gerak angka kemiskinan
menarik perhatian banyak pihak. Meski kecil, sejak
tahun 1998 terus terjadi pengurangan angka kemiskinan
dari 49,50 juta atau 24,23 persen (1998) hingga 35,10
juta atau 15,97 persen (2005).


Berkurangnya angka kemiskinan menjadi dalih pemerintah
mampu menggenjot pertumbuhan ekonomi. Namun, pada
Maret 2006 terjadi peningkatan angka kemiskinan
menjadi 39,05 juta (17,75 persen) (Susenas, 2006). Ini
memancing kritik terhadap kebijakan pemerintah.


Sikap menolak

Masalah dasar pengurangan kemiskinan bermula dari
sikap dan pemaknaan kita terhadap kemiskinan. Ia
seharusnya menjadi pusat perhatian, orientasi
pemerintah dan masyarakat.


Sajian Kompas (23/12/2006) dan Institute for Ecosoc
Rights (2006) tentang kemiskinan di Nusa Tenggara
Timur (NTT), menunjukkan dinamika kemiskinan riil. NTT
menjadi potret kemiskinan yang dibalut budaya korupsi,
lemahnya visi dan kebijakan pemerintah, perilaku
boros, cepat puas, dan lilitan adat. Ini pun terjadi
di tempat lain.


Realitas itu tidak sepenuhnya diterima. Pada acara HUT
provinsi NTT di Jakarta, Desember 2006, wakil gubernur
menganggap itu sebagai stigma yang menyulitkan NTT.
Padahal, pada Maret 2006, jerat kemiskinan menyebabkan
523 anak balita menderita busung lapar, 1.251 anak
balita gizi buruk, dan 86.275 anak balita kurang gizi
(Kompas, 23/12/2006).


Di tempat lain pun terjadi. Pengalaman
Multistakeholder Forestry Programme (Program Kerja
Sama Pemerintah Indonesia dan DFID-UK), di beberapa
kabupaten Jayapura, masyarakat menolak predikat miskin
yang dimasukkan dari luar. Mereka merasa
berkelimpahan.


Ini mengingatkan konsep kebudayaan kemiskinan (Oscar
Lewis, 1966) yang menggambarkan pertalian si miskin
dengan lingkungan kemiskinan. Jerat kemiskinan membuat
kesadaran kritis tentang kemiskinan buyar. Masyarakat
sulit melepas jerat kemiskinan karena dipandang
sebagai hal biasa. Ini diperkuat perilaku pemerintah
yang menghubungkan kemiskinan dengan nasib
kekuasaannya.


Di sini, penting penegasan AF Saifuddin (24/1/2007),
guru besar antropologi Universitas Indonesia,
perhatian yang tercurah pada angka makro bisa
melahirkan kebanggaan semu. Ia tak mampu menyelami
dinamika antara garis kemiskinan dan strategi
pemenuhan kebutuhan dasar sehari-hari. Bagaimana
masyarakat berjuang menggapai garis tidak miskin dan
tak jatuh kembali?


Kini, berbagai LSM, akademisi, dan pemerintah daerah
berusaha membangun definisi, kriteria, dan indikator
lokal. Upaya ini berusaha mendekati kemiskinan secara
mikro.


Keluar dari jerat

Adakah jalan keluarnya? Jawabannya dengan memperbarui
cara pandang kemiskinan, memastikan kelompok sasaran,
memperkuat sumber penghidupan, dan memperhitungkan
implikasi kebijakan serta aspek sosial-budaya
masyarakat miskin.


Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan memandang
kemiskinan sebagai "kondisi saat seseorang atau
sekelompok orang, laki-laki dan perempuan, tidak
terpenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan
mengembangkan kehidupan yang bermartabat". Tekanannya
pada kegagalan pemenuhan hak-hak dasar dan perbedaan
perlakuan, bukan ketidakberdayaan ekonomi (Komite
Penanggulangan Kemiskinan, 2005).


Jelas, masyarakat miskin harus difasilitasi dan
dilayani. Mereka harus mendapat pemenuhan kebutuhan
dasar seperti pangan, pendidikan, kesehatan,
perumahan, partisipasi, akses sumber daya, rasa aman,
dan keadilan gender. Masalahnya, bagaimana memastikan
efektivitas pemenuhan hak-hak dasar masyarakat itu.


Pengalaman dengan masyarakat sekitar hutan dan lembaga
kajian kemiskinan (Center for Economic and Social
Studies dan Overseas Development Institute)
menunjukkan pentingnya memastikan kelompok sasaran,
memperkuat strategi penghidupan, dan memperhitungkan
dampak kebijakan.


Kita tidak bisa mengklaim bekerja menanggulangi
kemiskinan tanpa mengetahui kondisi riil. Jika tidak,
kita terjebak pendekatan makro, menyamaratakan
masyarakat miskin desa atau perkotaan. Di mana orang
miskin berada, perlu dipetakan akurat. Sumber
penghidupan masyarakat harus diketahui pasti. Termasuk
potensi dan hambatan yang dihadapi.


Kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan perlu
memperhitungkan analisis kemiskinan mikro. Upaya ini
membutuhkan visi dan nurani pemerintah yang sensitif
terhadap masyarakat miskin. Orientasi program kerja
pemerintah harus berpusat pada kemiskinan.


Prudensius Maring Mahasiswa S-3 Antropologi
Universitas Indonesia; Dosen Politani Kupang 


 
____________________________________________________________________________________
Looking for earth-friendly autos? 
Browse Top Cars by "Green Rating" at Yahoo! Autos' Green Center.
http://autos.yahoo.com/green_center/

Kirim email ke