Berita Utama Selasa, 27 Februari 2007 Menanam Kebaikan
Saya lupa hari dan tanggalnya. Pagi itu, kira-kira 10 tahun lalu, sebagai anak muda yang naif, saya bertanya kepada Muhammad Yunus, "Apa cita-cita Anda sebenarnya? Apakah dari kecil ingin mendirikan pusat pemberdayaan rakyat, seperti Grameen Bank?" Karena ini pembicaraan informalkami berdiri dan saya minum kopiia menjawab ringan, "Saya hanya ingin menanam kebaikan." Tahun 2006, ia dianugerahi Nobel Perdamaian. Ternyata, kebaikan yang ditanamnya selama ini tumbuh subur dengan akar yang tertancap kokoh di hati rakyat Banglades. Ia juga telah menginspirasi dunia. Padahal siapa pun anak Indonesia tentu pernah mendapatkan nasihat dari orangtuanya, yang mirip dengan ucapan Muhammad Yunus tersebut. Pada orang Jawa, nasihat itu biasanya datang dari ibu, yang dengan tulus berkata, agar kita selalu nandur kebecikan (menanam kebaikan). Cita-cita terpenting dalam hidup adalah menanam kebaikan. Oleh karena itu, di mata seorang ibu, menjadi presiden, menteri, gubernur, direktur utama, dan lain-lain adalah tidak penting. Gelar profesor, doktor, master adalah tidak penting. Pangkat kapten maupun jenderal juga tidak penting. Yang terpenting adalah nandur kebecikan. Sekadar "jadi orang"? Menyaksikan simpang siur perilaku elite kita akhir-akhir ini, nasihat menanam kebaikan itu tiba-tiba menyergap pikiran saya. Hati saya bertanya-tanya tentang apa sebenarnya cita-cita para pemimpin kita? Apakah mereka ingin menanam kebaikan pada rakyat atau sekadar ingin "jadi orang" (jadi pejabat)? Tentu tidak mudah menilai seseorang, apalagi menghakimi cita-citanya. Namun, sejujurnya, saya prihatin menyaksikan perilaku sebagian elite kita. Saya tidak habis mengerti mengapa Taufiequrachman Ruki, misalnya, berhadapan dengan Yusril Ihza Mahendra menyangkut tender pengadaan barang. Padahal keduanya adalah bagian dari pilar-pilar penyangga kewibawaan pemerintah. Hal lain yang juga sulit saya pahami adalah penyimpangan operasi pasar beras, banjir yang tidak terbendung, flu burung yang menyebar, kecelakaan pesawat dan kapal, antrean rakyat membeli minyak tanah dan beras, makan nasi aking dan jagung, serta persoalan lumpur Sidoarjo yang belum juga tuntas. Sebagai peneliti yang tertarik pada budaya politik, sejujurnya kasus Lapindo membuat saya lebih khawatir dibandingkan dengan masalah-masalah lain. Ini berkaitan dengan karakter dan simpul-simpul historis Jawa Timur. Sejak zaman Mataram sampai awal Republik, wilayah ini sarat dengan sikap penentangan. Kerajaan Mataram tidak pernah sepi dari gangguan pemberontakan "Brang Wetan" , sedangkan pada awal Republik, gerakan komunis juga berpusat di wilayah ini (Madiun, Blitar dan sekitarnya). Selain itu, masih ada fenomena bandit sosial (aksi ala Robin Hood) yang tumbuh pada zaman kolonial dan kenekatan "bonek" pada masa kini. Belum lagi kalau keberanian Bung Tomo dan kawan-kawan sewaktu melawan Belanda ikut diperhitungkan. Pendeknya, secara historis ada indikasi bahwa karakter warga "Brang Wetan" adalah spoiler (penentang). Oleh karena itu, para pemimpin nasional sebaiknya tidak sekadar terjebak pada pusaran jabatan semata. Mereka harus berani menanam kebaikan, yaitu menuntaskan masalah lumpur panas dan tidak meremehkan aksi sekitar 10.000 warga Sidoarjo yang memblokir jalan Sidoarjo-Surabaya. Pendeknya, jangan sampai kasus itu akan menjadi pemicu mengerasnya sikap masyarakat "Brang Wetan". Republik ini bisa repot dan kehabisan energi jika hal itu sampai terjadi. Menanam kebaikan Simpang siurnya sikap elite dan lambatnya penanganan masalah yang ada mengesankan bahwa kita ini tak rapi dalam bernegara. Akibatnya, optimisme rakyat tidak bangkit. Jika demikian keadaannya, tidak ada pilihan lain, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus menjadi pelopor untuk menanam kebaikan. Setulusnya saya percaya bahwa Presiden Yudhoyono sudah mencoba nandur kebecikan selama ini. Namun, usaha itu tampaknya masih kurang keras. Sejauh ini rakyat masih belum bisa mesem (tersenyum), apalagi gemuyu (tertawa). Agar kebaikan yang ditanam Presiden tersebut tumbuh subur, sekurangnya ada tiga langkah yang perlu segera dilakukan oleh Presiden. Pertama, segera merombak kabinet dan membentuk zakenkabinet. Kalaupun ada orang partai yang dipilih, sebaiknya hanya dari Partai Golkar dan Partai Demokrat yang memang menjadi pilar utama kekuasaan Presiden. Kedua, irama politik Presiden dan Wakil Presiden harus diselaraskan. Pernyataan-pernyataan politik yang berbeda, apalagi bertentangan, tidak boleh terjadi lagi di masa depan. Ini memperlemah energi untuk menumbuhkan kebaikan publik. Terakhir, segera melakukan program aksi kebijakan yang prorakyat bahkan kalau perlu mengambil risiko terberat, misalnya, mempergunakan dana cadangan devisa untuk mendorong putaran sektor riil dan proyek padat karya. Selain itu, juga berani menurunkan pajak, membuka akses kredit seluas-luasnya untuk usaha kecil dan industri rumah tangga serta menjamin biaya pendidikan dan kesehatan rakyat. Jika Presiden karena alasan-alasan politis tidak berani mengambil langkah-langkah tersebut? Ibu saya pasti akan menjawab, "Ya, sudah, tidak apa-apa. Toh Gusti ora sare (Tuhan tidak tidur)." (Sukardi Rinakit, Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate) ____________________________________________________________________________________ Don't pick lemons. See all the new 2007 cars at Yahoo! Autos. http://autos.yahoo.com/new_cars.html
