Kompas, Kamis, 08 Maret 2007                                                    
                                                                                
                                                                                
                                                                                
                                                                                
                       
 
21 Penumpang Garuda Tewas 
Belum Semua Korban Tewas Teridentifikasi
  
Yogyakarta, Kompas - Guncangan hebat dua kali dalam pendaratan kasar (hard 
landing), disusul percikan api dari roda depan, serta "akrobat" turun dan naik 
tanggul sedalam tiga meter, membuat pesawat Garuda jenis Boeing 737/400, dengan 
nomor penerbangan GA 200 rute Jakarta-Yogyakarta itu hancur setelah terbakar 
dan meledak, Selasa (7/3) pukul 06.55. 
Musibah di kebun kacang, 300 meter di sisi timur landasan pacu Bandara 
Adisutjipto Yogyakarta, di Desa Tegaltirto, Berbah, Kabupaten Sleman, ini 
menewaskan 21 penumpang dari 140 penumpang; dengan rincian 133 penumpang, lima 
awak kabin, pilot, kopilot. 
Hingga berita ini diturunkan, baru lima korban meninggal yang dipastikan 
identitasnya, yaitu Ny Suwarni Sugaib (77), Oemaryati, Zaenah, Olga, dan Totok 
Yulianto. Suwarni meninggal karena serangan jantung dalam perjalanan ke rumah 
sakit. Ke-19 jenazah yang ditemukan hangus di bangkai pesawat dievakuasi dan 
diperiksa oleh Tim Laboratorium Forensik Rumah Sakit Umum Dr Sardjito, 
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. 
Penumpang di kursi 7F, Handoko Sindhunata yang selamat setelah nekat menerobos 
kobaran api menjelaskan, penumpang sangat panik setelah kontak pertama roda 
belakang pesawat dengan landasan. "Pesawat mendarat dengan keras dengan roda 
kiri belakang lebih dulu, disusul roda kanan. Pesawat naik lagi, dan dengan 
roda kiri dan kemudian kanan, baru kemudian roda depan menyentuh landasan 
dengan keras," katanya kepada Kompas saat melapor di Posko Bandara Adisutjipto, 
sejam setelah kecelakaan. 
Ketua Umum PP Muhammadiyah H Dien Syamsudin yang berada di kursi 7D--satu deret 
dengan mantan Rektor UGM Koesnadi Hardjasumantri, dan Handoko--, awalnya 
mengira guncangan yang terjadi, hal lumrah karena dia sudah hafal dengan 
karakter landasan bandara Adisutjipto yang pendek, dan pesawat biasanya akan 
segera direm."Pesawat ini seperti meluncur saja, dan tak dapat dihentikan. Lalu 
semua bergetar hebat. Ketika berhenti, saya seperti terbangun kembali," kata 
Dien kepada pers di Ruang ICU RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Dien yang memar 
di wajah dan bagian tubuh lain, semula akan bertemu dengan Menlu Australia 
Alexander Downer di Kantor PP Muhammadiyah. Rabu sore, ia merencanakan kembali 
ke Jakarta karena ibundanya meninggal. 
Hanguskan ban   
Penjelasan Handoko, sama dengan kesaksian calon penumpang Hariadi Saptono, yang 
tengah menunggu kedatangan pesawat itu untuk ke Jakarta. Olengnya badan pesawat 
ke kiri dan kanan saat mendarat dari arah barat, disertai kecepatan mendarat 
yang tinggi, membuat sejumlah calon penumpang di ruang tunggu dan restoran 
bandara panik, berdiri, dan berteriak histeris. 
Saat roda depan pesawat menyentuh landasan pacu, tiba-tiba muncul tersirat 
percikan api dan asap sekilas. Percikan masih kecil. Namun percikan api di roda 
depan pesawat dengan pilot M Marwoto, dan kopilot Budiman itu tidak mengecil, 
tetapi kian percikan api panjang di belakang roda dan "kaki" roda depan, 
disertai kepulan asap. Hingga melintas di depan ruang tunggu, kecepatan pesawat 
seperti tidak melambat, sedangkan api terus membakar ban depan, sampai ban itu 
habis terbakar, dan pesawat meluncur dengan roda depan tinggal "velg"-nya saja. 
Pesawat kemudian meluncur dengan terlihat berguncang, keluar dari landasan 
pacu. 
Begitu keluar landas pacu, pesawat melewati lapangan rumput, menuruni tanggul 
sedalam tiga meter di mana di bawah tanggul dipasang pagar besi setinggi satu 
setengah meteran, lalu melanggar got selebar 50 sentimeter, pemisah jalan 
(devider) setinggi 30 sentimeter selebar satu meter, turun ke jalan raya dua 
arah masing-masing selebar enam meter dengan devider selebar 1,5 meter. Jalan 
dua arah ini jadi akses ke Kompleks Pangkalan Udara dan Akademi TNI AU 
Adisutjipto. Selanjutnya pesawat melanggar lagi got kecil, menabrak pagar 
berduri lagi, dan menanjak lagi naik ke tanggul luar setinggi tiga meter 
sebelum kedua mesin di kiri kanan sayap pesawat coplok (terlepas) berantakan. 
Di lahan kebun kacang itulah, pesawat terseok berhenti dalam kondisi terbakar, 
dan sesaat kemudian terjadi ledakan besar. 
Puluhan awak dari sejumlah maskapai penerbangan, segera berhamburan ke arah 
ujung landasan, termasuk sejumlah mobil pemadam kebakaran, dan ambulans yang 
langsung dipacu memasuki landasan. Suasana mencekam, karena kepulan asap hitam, 
dan jilatan api makin besar. Dan sekitar dua atau tiga menit dari saat 
mendarat, terdengar letusan keras. Pesawat itu diselimuti bola api. 
Tim Forensik Gabungan RS Dr Sardjito dan polisi mengalami kesulitan 
mengidentifikasi korban meninggal yang sebagian besar gosong atau menjadi 
arang. Awalnya tim forensik berharap bisa mengidentifikasi korban dari giginya, 
tapi suhu tinggi kebakaran telah merusak gigi korban. "Yang rusak terutama gigi 
bagian depan. Kerusakan gigi ini hanya bisa disebabkan oleh suhu di atas 600 
derajat Celcius," kata Prof Dr Drg Sudibyo, anggota tim itu. 
Kesulitan inilah, yang menyebabkan pencarian mantan Rektor UGM Prof Dr Koesnadi 
Hardjasumantri yang duduk di kursi 7C, dan Masykur Wiratno, Ketua Majelis 
Pendidikan Tinggi PP Muhamadiyah, hingga pukul 22.00 semalam belum bisa 
dipastikan sosoknya. "Identitas lain di tubuh ternyata juga sudah sulit dicari, 
kata Sudibyo. 
Diperoleh informasi dari Posko Bandara Adisutjipto, dari 144 penumpang, 
terdapat sembilan warga Australia, dua warga Jepang, dua warga Brunei 
Darussalam, dan seorang warga Italia. (Lihat Tabel) 
Menlu Australia Alexander Downer yang didampingi Duta Besar Australia untuk 
Indonesia Bill Palmer tiba di Adisutjipto pukul 13.000 dan mengunjungi satu 
warga Australia yang dirawat di RS Bethesda, Michael Hatton (47), staf keamanan 
kedutaan yang patah tulang bahu sebelah kiri. Semula ia merencanakan bertemu 
dengan HB X dan petinggi PP Muhamadiyah. 
Laik terbang   
Hingga kemarin, belum ada penjelasan teknis penyebab kecelakaan dari pengelola 
Bandara Adisutjipto maupun manajemen Garuda, kecuali dibukanya posko yang 
mengkordinir penanganan pascakecelakaan, dan melansir perkembangan data korban, 
serta perawatan di rumah sakit. 
Menteri Perhubungan Hatta Radjasa, Rabu petang di Kantor Pemprov DI Yogyakarta 
Kepatihan menyatakan, kotak hitam pesawat GA 200 sudah ditemukan dan kini di 
tangani Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). 
Didampingi Inspektur Jenderal Perhubungan Udara Ikhsan Tatang, Direktur Garuda 
Indonesia Emir Syahsatar, serta Gubernur DIY Sultan HB X, Hatta Radjasa 
mengatakan, pemerintah telah membentuk tim investigasi di bawah KNKT. "Kami 
akan bekerja sama dengan pemerintah Australia. Jangan dulu berspekulasi tentang 
penyebab musibah ini," ujar Hatta. 
Di tempat terpisah, investigator KNKT J Tumenggung menyatakan perlu waktu dua 
pekan untuk membaca kotak hitam. Karena itu, KNKT akan bekerja sama dengan 
Australia. Tumenggung tidak mau terburu-buru menduga penyebab kecelakaan, 
sebelum tahu persis apa yang terjadi. Namun dia memastikan, terbakarnya pesawat 
terjadi sesudah benturan. Beberapa bagian mesin pesawat, juga terbakar. 
Tentang komunikasi terakhir dari pilot dengan bandara, Ichsan Tatang mengatakan 
informasi itu juga sedang dikumpulkan KNKT. Pesawat itu sendiri dipastikan laik 
terbang. 
Pemeriksaan C-Check pesawat dilakukan terakhir pada 2 Februari 2007 dalam 
posisi jam terbang 31.942. Sedangkan kalibrasi terakhir terhadap fasilitas 
navigasi di bandara dilakukan 18 Februari 2007, dengan hasil dinyatakan laik. 
PT Asuransi Kecelakaan Jasa Raharja (Persero) akan menanggung biaya perawatan 
korban kecelakaan GA 200 di rumah sakit. Sedikitnya 70 penumpang masih dirawat 
di lima rumah sakit di Yogyakarta. 
"Kami menanggung biaya perawatan mereka maksimal Rp 25 juta per orang. 
Sementara korban meninggal yang telah teridentifikasi akan disantuni Rp 50 juta 
per orang," kata Direktur Operasi Jasa Raharja Hamka Santri Anom yang saat 
dihubungi berada di Yogyakarta. 
Petugas Jasa Raharja telah berkoordinasi dengan manajemen kelima rumah sakit 
soal biaya perawatan korban kecelakaan GA 200.   
(AB2/AB3/AB9/ENY/WER/WAK/RWN/PRA/TOP/CAN/HRD/HAR/MAM/DWA/
JOS/SON/TRI/HAM/OTW/JOGYA) 

         
---------------------------------
Looking for earth-friendly autos? 
 Browse Top Cars by "Green Rating" at Yahoo! Autos' Green Center.  

Kirim email ke