Kompas, Kamis, 08 Maret 2007                                                    
                                                                                
                                                                                
                                                                                
                                                                                
                       
 Kecelakaan Itu Dapat Diungkap 
 
F Djoko Poerwoko  
"Garuda Two Zero zero... On Final"; "Garuda, runway clear... clear to land"  
Itulah prosedur baku komunikasi saat Garuda (PK-GZC) jenis Boeing 737-400 nomor 
penerbangan GA-200 mendekati landas pacu R/W-09 Bandar Udara Adisucipto, 
Yogyakarta pagi hari 7 Maret 2007 untuk siap mendarat. 
Pesawat yang baru saja terbang dari Bandara Soekarno-Hatta, itu membawa 133 
penumpang beserta tujuh awak pesawat, dengan perhitungan standar bahan bakar 
tersisa 3.200 kg, cukup andaikata pesawat ini harus menuju alternate di 
Surabaya bila diperlukan. 
Pendaratan ini seharusnya terjadi normal, pandangan pun cukup bagus, cuaca 
cerah, angin masih dalam batas toleransi, pesawat dalam kondisi prima, awak 
pesawat fit for flying dan prosedur pendaratan telah dilakukan semua. Check dan 
cross check baik antarawak kokpit maupun awak kabin pun telah dilakukan. 
Saat itu di udara hanya ada dua pesawat yang sedang latihan, yaitu pesawat KT-1 
Wongbee dan SA-220 Bravo. Kedua pesawat itu terbang dalam latihan rutin. 
Pendaratan yang diharapkan mulus itu ternyata menuai musibah. Pesawat 
terperosok keluar landas pacu setelah didahului bounching beberapa kali, keluar 
api dari bagian bawah pesawat dan tetap menghanguskan badan pesawat meski 
pesawat telah terhenti di luar landasan. Kejadian ini menewaskan puluhan orang, 
tetapi kedua awak kokpit selamat. Adakah kesalahan dalam pendaratan ini 
sehingga begitu fatal akibatnya bila dilihat dari sisa kebakaran pesawat yang 
tinggal ekornya. 
Masa kritis  
Fase pendaratan adalah masa paling kritis dalam seluruh rangkaian penerbangan 
pesawat. Hampir lebih dari separuh kecelakaan pesawat terjadi pada fase 
pendaratan. Bagi pesawat modern sejenis B737-400, ada banyak parameter yang 
harus ditepati agar pendaratan berjalan aman, mulai dari kecepatan pesawat, 
arah pesawat, posisi throtle, posisi flaps, posisi switch spoiler, berat 
pesawat, panjang landasan, hingga arah angin. Dalam kondisi pendaratan normal 
untuk B737-400 di landasan sepanjang 2.250 meter seperti di Bandara 
Adisutjipto, sang pilot akan mendekat dengan kecepatan 148 Kts bila flaps di 
set pada 30 derajat atau dengan kecepatan 143 Kts bila flaps di set pada 40 
derajat tetapi masih bergantung pada adjustment. 
Pengaruh flaps amat dominan bagi kecepatan pesawat karena perbedaan besaran 
flaps memengaruhi flare out (masa mengapung) saat mendarat berakibat 
memengaruhi landing roll pesawat juga. 
Dari ketinggian 45 kaki, pesawat ini hanya perlu waktu tujuh detik sampai roda 
utama menyentuh landasan, baru dilakukan pengereman secara normal. Posisi flaps 
kurang dari 30 derajat jangan diharap pesawat bisa berhenti di ujung landasan. 
Pada perhitungan kasar dikatakan, perbedaan flare out tiga detik saja akan 
berakibat pesawat melaju lebih dari 750 kaki. Bahkan, bukan hanya posisi flaps 
yang berpengaruh saat mendarat, perbedaan ketinggian juga akan berpengaruh (1 : 
10) bermakna setiap satu kaki pesawat akan maju 10 kali dari tempat berhenti. 
Begitu juga dengan kondisi speed brake, spoiler, atau brake apply sequence. 
Namun faktor paling dominan adalah kecepatan approach, setiap perbedaan 10 Kts 
lebih, pesawat akan maju 400 kaki itu pun masih dipengaruhi kondisi landasan 
basah atau kering. 
Spekulasi  
Faktanya, pesawat keluar landasan dan terbakar. Faktanya juga, banyak spekulasi 
berkembang, termasuk kemungkinan sabotase, sehingga perlu dibentuk 
"penyelidikan nonteknis". 
Memang sulit dicari korelasi antara kesalahan teknis dan penyelidikan 
nonteknis. Sampai kapan pun kedua hal ini tak akan bertemu. Namun yang 
terpenting, guna mengungkap kejadian ini kita harus sepakat, kejadian 
terbakarnya pesawat ini di ujung landasan adalah sesuatu yang dapat diungkap 
jika kita percaya akan keadaan voice data recorder dan flight data recorder 
yang masih utuh terpasang di pesawat. Dengan membaca kedua data itu, akan mudah 
mengungkap kejadian sebenarnya atau kita lihat secara visual kenyataan posisi 
flaps saat ini. 
Selamat bekerja KNKT, mari kita ungkap kejadian yang sebenarnya dan kejadian 
sebelumnya.  
F Djoko Poerwoko Pemerhati Penerbangan 

 
---------------------------------
Don't pick lemons.
See all the new 2007 cars at Yahoo! Autos.

Kirim email ke