*Kompas  - Selasa, 13 Maret 2007 *






Memelihara Asa

*Azyumardi Azra*

Sepanjang ingatan kolektif kita, agaknya sedikit sukar menemukan zaman di
mana keadaan sosial, ekonomi, dan psikologis bangsa Indonesia lebih sulit
daripada masa akhir- akhir ini. Jelas kian banyak kesulitan yang dihadapi
masyarakat kita; kesulitan itu merupakan akumulasi dari berbagai masalah
sejak dari kesulitan ekonomi yang kian meningkat, deprivasi sosial yang kian
luas, sampai kepada trauma sosial dan psikologis akibat bencana
berkepanjangan. Dampak lebih lanjut dari semua masalah itu adalah
meningkatnya sikap pasrah dan apatis atau putusnya asa dalam masyarakat.

Bahwa Indonesia kini berada dalam masa yang kian sulit, hal itu tidak hanya
dirasakan warga negeri ini; banyak pengamat asing juga mencemaskan Indonesia.
Salah satunya adalah Andre Vitchek, novelis dan senior fellow di Oakland
Institute Amerika Serikat, seperti terlihat dalam tulisannya yang dimuat dua
koran internasional, The International Herald Tribune dan The Financial
Times pada 12 Februari 2007. Judul tulisan itu cukup dramatis, "Indonesia:
Natural Disasters or Mass Murder", dengan isinya yang membuat miris. Artikel
ini diterjemahkan secara sukarela oleh beberapa penerjemah ke dalam bahasa
Indonesia dan tersedia dalam banyak situs internet dan milis.

Bisa dipastikan, artikel Vitchek itu bisa bernada lebih miris lagi jika dia
melakukan pemutakhiran data dengan terjadinya berbagai bencana
pascapenerbitan tulisan tersebut. Lihatlah, sejak tulisan itu terbit, masih
ada sederet bencana, sejak karamnya kapal Levina I, tanah longsor di
Manggarai (Flores) dan beberapa tempat lain, gempa di Sumatera Barat,
terbakarnya GA-200, angin puting beliung di sejumlah daerah, dan—meski tidak
kita harapkan—agaknya masih akan ada lagi.

Maka, tulis Vitchek, Indonesia kini sudah menggantikan Banglades dan India
sebagai negara yang paling rentan di dunia dalam hal bencana alam yang
memakan begitu banyak korban manusia. Menurut dia, Indonesia kini menjadi
"ladang pembantaian massal" karena sejak bencana tsunami di Aceh pada
Desember 2004, Indonesia telah kehilangan lebih dari 200.000 warganya dalam
berbagai bencana alam; angka ini belum termasuk mereka yang tewas di jalan
raya dan konflik komunal, seperti di Poso. Dengan angka sebesar itu, korban
bencana di Indonesia dalam waktu tiga tahun terakhir lebih banyak daripada
mereka yang tewas selama Perang Irak, atau perang saudara di Sri Lanka, atau
di Peru.

Namun, kita mungkin masih bisa bersyukur bahwa bagi masyarakat—khususnya
kalangan bawah dan menengah—kesulitan yang cenderung meningkat itu tidak
atau belum mereka alirkan ke kancah politik. Memang, belakangan ini terlihat
gejala peningkatan "kegelisahan" di kalangan elite politik yang menuntut
pencabutan mandat kepemimpinan nasional atau kembali naskah asli UUD 1945.
Akan tetapi jelas belum terlihat adanya gerakan politik dalam skala massal
dan besar, yang dapat memunculkan masalah politik dan keamanan serius.
Memang ada gejala kekerasan yang terjadi dari waktu ke waktu, tetapi umumnya
bersifat lokal dan sporadis; belum menjadi gerakan sosial berskala luas yang
dapat berujung pada biaya-biaya sosial, ekonomi, dan politik sangat mahal.

Sering mengklaim Indonesia sebagai bangsa "religius", para agamawan dan
pemimpin politik hampir selalu menyatakan, di balik setiap masalah dan
bencana ada hikmahnya. Namun, sementara bencana demi bencana terus terjadi,
hikmah yang diharapkan itu tidak juga terlihat dan disadari manusia-manusia
Indonesia, seperti gambaran karikatur Kompas (Sabtu, 9 Maret 2007). Agaknya,
jika hikmah yang ditunggu-tunggu itu tidak muncul juga, bukan tidak mungkin
asa bagi perbaikan keadaan semakin menipis pula, sehingga dapat mendorong
orang menempuh cara mereka sendiri dalam mengatasi berbagai impitan yang
mendera masyarakat.

Kajian-kajian tentang gerakan sosial (social movement) di Indonesia, seperti
banyak dilakukan sejarawan terkemuka senior Sartono Kartodirdjo menunjukkan,
berbagai keresahan sosial (social unrest) karena bertubi- tubinya impitan
sosial, ekonomi, dan politik sangat berpotensi memunculkan gejala-gejala
lanjutan tidak kondusif lainnya. Pertama, dapat menimbulkan perlawanan dan
bahkan "pemberontakan" terhadap otoritas politik yang dipandang tidak
berbuat apa-apa, atau dianggap membuat keadaan kian sulit. Kedua, mencari
perlindungan dan pertolongan eskatologis yang diyakini dapat membalikkan
keadaan, daripada yang sangat sulit menjadi lebih baik.

Gejala kedua (eskatologisme) ini kelihatan meningkat di Tanah Air sejak masa
pasca-Soeharto, dengan terbukanya "kotak pandora" yang terus mengeluarkan
banyak kesulitan. Gejala ini terlihat misalnya dalam berbagai bentuk seruan
dan aksi seperti "taubat nasional", "istigosah", zikir massal pada tingkat
lokal dan nasional, atau "ruwatan" berdasarkan tradisi masyarakat Jawa, dan
tradisi spiritual lokal lainnya. Bahkan, berikutnya acara "taubat" dan
"zikir nasional" di Masjid Istiqlal, Jumat pekan lalu, yang dihadiri
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan pejabat
tinggi lainnya. Departemen Agama akan menyelenggarakan acara semacam itu
tiga kali sebulan. Semua ini pada dasarnya merupakan upaya menggantungkan
asa pada kekuatan eskatologis di luar diri manusia dan masyarakat; dan,
karena itu, dalam logika murni, sulit diharapkan dapat memperbaiki keadaan.

Agama dan tradisi spiritualitas memang mendorong manusia agar senantiasa
memiliki asa dengan memanjatkan banyak doa, zikir, atau ibadah dan ritual
lainnya. Sebaliknya agama melarang mereka berputus asa. Namun jelas,
penumbuhan asa dengan sandaran kerohanian belaka hanya dapat mendatangkan
ketenangan psikologis sesaat; karena agama tidaklah memberikan solusi instan
terhadap berbagai masalah yang secara aktual dihadapi manusia. Agama pun
menekankan pentingnya upaya dan ikhtiar sesuai dengan kemampuan maksimal
anak manusia.

Oleh sebab itu, asa yang tidak ilusif harus ditumbuhkan dengan upaya dan
ikhtiar yang terencana, dan terpadu, yang dijalankan dalam semangat dan etik
disiplin nasional baik oleh pemimpin, masyarakat, maupun individu. Pihak
paling bertanggung jawab dalam hal ini tentu saja adalah pemerintah yang
berkewajiban melindungi warga negara untuk tidak terus menjadi korban
bencana yang semestinya bisa dihindari atau dikurangi, jika tidak dapat
dihilangkan sama sekali. Karena itu, sudah saatnya elite pemerintah dan
politik meninggalkan retorika politik yang penuh basa-basi, dan sebaliknya
mengambil langkah dan kebijakan lebih desisif dan afirmatif. Jika tidak, asa
dan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah dan elite politik pastilah
terus merosot. Kalau sudah begitu, Indonesia tetap kian terpuruk.

*Azyumardi Azra **Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah, Jakarta *

Kirim email ke