MENEMUKAN HAKEKAT KITA YANG SEJATI (1/3)
Dalam salah satu khotbah-Nya, Buddha bercerita tentang empat jenis kuda: kuda unggul, kuda yang baik, kuda buruk, dan kuda pecundang. Kuda unggul, menurut sutra (khotbah atau ajaran Buddha) itu, berlari bahkan sebelum pecut menyentuh punggungnya, bayangan pecut atau suara kusir saja pun cukup membuatnya berlari. Kuda yang baik berlari setelah pecutan ringan mengenai badannya. Kuda buruk mau bergerak sebelum merasa sakit akibat dipecut, dan kuda pecundang tetap diam hingga rasa sakit itu menusuk tulangnya. Pada waktu Shunryu Suzuki bercerita tentang kuda-kuda ini dalam bukunya, Zen Mind, Beginner's Mind, ia menyebutkan bahwa kebanyakan orang hendak menjadi kuda yang unggul, namun sebenarnya, kala kita duduk, tidak menjadi masalah apakah kita ini kuda terbaik atau terburuk. Ia lebih lanjut menyatakan bahwa sesungguhnya, kuda yang benar-benar sulit adalah praktisi terbaik. Yang telah saya sadari melalui latihan adalah bahwa latihan itu bukanlah untuk menjadikan kita kuda unggul, kuda baik, kuda buruk, ataupun kuda pecundang. Latihan adalah untuk menemukan hakekat sejati diri kita, dan lalu berbicara mulai dari sana, bertindak dari sana. Apa pun sifat yang kita miliki, itulah mestika dan keindahan kita; Itulah yang ditanggapi oleh orang lain. Satu kali, saya berkesempatan berbicara dengan Chögyam Trungpa Rinpoche, mengenai fakta bahwa saya tidak mampu menjalankan latihan dengan benar. Waktu itu, saya baru mulai berlatih secara Vajrayana dan saya harus melakukan visualisasi. Saya tidak mampu memvisualisasi apa pun. Saya mencoba dan mencoba lagi, tetapi tidak berhasil juga; saya merasa seperti orang dungu karena latihan itu tidak biasa bagi saya. Saya cukup sengsara karena setiap orang kelihatannya sedang melakukan berbagai macam visualisasi dan melakukannya dengan sangat baik. Beliau berkata, "Saya selalu meragukan mereka yang senantiasa berkata bahwa semuanya beres. Jika anda berpikir bahwa segalanya berjalan dengan benar, itu menunjukkan suatu keangkuhan. Jika latihan itu terlalu mudah bagi anda, anda akan menjadi santai. Anda tidak benar-benar berjuang, dan karenanya anda tidak pernah tahu bagaimana menjadi manusia seutuhnya." Jadi, beliau mendorong saya dengan mengatakan bahwa sepanjang saya masih memiliki keraguan seperti itu, latihan saya akan berlangsung dengan baik. Jika anda mulai berpikir bahwa semuanya berjalan sempurna dan merasa lebih baik dari yang lain, berhati-hatilah! (bersambung) Sumber : The Wisdom of No Escape and the Path of Loving-kindness by Pema Chödron Penerjemah : Swarnasanti Edij Juangari
