Send reply to: [EMAIL PROTECTED]
To: [EMAIL PROTECTED]
Date sent: Wed, 23 Dec 1998 18:07:00 +0100 (CET)
Copies to: [EMAIL PROTECTED], diskusi-
[EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
(Reformasi Indonesia),
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
From: Arbi Dimyati <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [federal-l] Re: [demi-demokrasi] [Minangkabau]
PARPOL-PARPOL HANYA MEMIKIRKAN KURS
> According to [EMAIL PROTECTED]:
> > From [EMAIL PROTECTED] Tue Dec 22 15:12:45 1998
> > From: Arbi Dimyati <[EMAIL PROTECTED]>
> > Send reply to: Arbi Dimyati <[EMAIL PROTECTED]>
> >
> > > > > > Info-PEMBEBASAN
> > > > > > http://www.eGroups.com/list/pembebasan-list
> > > > > > ----------------------------------------------------
> > > > > >
> >
> >
> > Ya, cuma begini bisanya orang yang berotak kadal ini.
> >
> > Apa fakta baru yang dibawanya, apa argumen tandingan yang
> > dibawanya dalam diskusi?
>
> Anda bertanya tentang argumen? ... Okey, ... PRD adalah satu-satunya
> partai yang tidak setuju terhadap kesepakatan sembilanpuluh partai lainnya
> yang hadir di UGM tempo lalu, dan melakukan walk out. Tidak sekedar itu,
> dia pun lalu menyetempel 99,9% partai yang berbeda pendapatnya dengan dia
> sebagai rekayasa penguasa.
>
Ada sembilan puluh partai yang ikut, menurut orang berotak kadal
ini satu diantaranya (PRD) menolak keputusan ini.
Dan persentase suara PRD itu adalah 0,1 (100-99,9%)
Ada nggak yang bisa berhitung diantara kita?
Tapi ini masaalah kecil.
Dibalik itu - dan ini lebih penting - apakah betul hanya PRD yang
tidak setuju atau yang walkout?
PRD berkata ada partai lain yang yang juga keluar.
Karena saya tidak hadir dan saya tidak memiliki sumber yang saya
percayai pada saat ini, maka saya anggap terbuka kemungkinan bahwa
bukan hanya PRD yang keluar dari rapat itu.
Artinya terbuka kemungkinan bahwa Arbi Dimyati juga berbohong
ketika dikatakannya bahwa hanya PRD yang keluar dari rapat itu.
> Kalau PRD bersikap demokrat sejadi dan tidak demokrat gunung kidul,
> mestinya dia menerima keputusan bersama.
>
Jadi, menurut orang berotak kadal ini (argumen telah saya
berikan sebelumnya, jadi tidak perlu ulangi):
"Kalau PRD bersikap demokrat sejati dan tidak demokrat gunung
kidul, mestinya dia menerima keputusan bersama".
Apa pangkatnya Arbi Dimyati ini untuk memutuskan bahwa PRD harus
menerima keputusan bersama dimana PRD tidak setuju untuk (terus)
ikut ambil bagian dalam pengambilan keputusan itu?
Alur pikiran ini adalah alur pikiran fascist!
Orang yang berotak kadal ini juga adalah fascsist!
Bagi yang belum jelas:
Menolak untuk (terus) ikut sebuah pertemuan yang dianggapnya tidak
(lagi) memenuhi syarat demokratik (atau apapun alasannya) adalah
hak PRD, karena hak azasi manusia!
Menolak untuk menyetudjui keputusan yang diambil orang lain adalah
hak PRD, karena hak azasi manusia.
Dan semua ini - karuan saja - tidak bertentangan dengan prinsip
demokratik.
Tanpa harus setuju, seorang demokrat akan menghargai sikap PRD itu.
Dan saya sungguh senang, sungguh merasa bahagia bahwa ada orang di
Indonesia yang berbeda pendapat dari kebanyak orang lain dan
menyatakannya.
Sekali lagi, perbedaan pendapat, keragaman pendapat dan adanya
pertentangan pendapat adalah demokratik!
Hanya fascis yang menyalahkan dan menolak orang punya pendapat
lain!
Dan Abi Dimyati ini menyalahkan PRD hanya karena PRD punya
pendapat lain.
Fascist, memang fascsit orang yang satu ini!
Perlu kita ingat, bahwa pertemuan yang berlangsung di Jogya itu
adalah sebuah pertemuan yang kehadirannya berdasarakan suka rela,
tidak ada keharusan bagi siapapun juga untuk (terus) hadir
dipertemuan itu.
Dan PRD - kendatipun demikian - merasa perlu untuk menjelaskan
kenapa wakil mereka keluar dari pertemuan itu.
Sekali lagi, adalah hak PRD untuk keluar pertemuan itu, dan adalah
sebuah sikap demokratik yang terpuji dari PRD untuk menjelaskan
sikapnya itu kepada umum.
Kemudian terserah kepada umum untuk menilainya.
> Saya heran kenapa Anda begitu "primer" membela mati-matian orang
> yang terbukti bersikap tidak fair dalam berdemokrasi. Makanya, jangan
> berfikir dengan otak kadal terus, meskipun dilindungi UU HAM PBB,
> .... hehehe.
>
Yang berkata bahwa sikap PRD itu tidak demokratik adalah anda,
fascsit yang berotak kadal!
Dan saya akan membela siapa saja yang haknya tertindas didunia
ini.
Saya juga membela Harmoko ketika aktivis po-demokrasi Indonesia
mengeritiknya karena fascsit itu mempelesetkan lafal Al-Fatihah
beberapa waktu yang lalu.
Saya juga membela hak-hak orang PKI yang ditindas penguasa Orde
Baru.
Saya juga membela orang Islam Tanjung Periok ketika mereka dibabat
oleh Benny Murdhani!
Dan saya juga membela hak cendekiawan Islam untuk mendirikan ICMI!
Saya hanya berusaha untuk konsisten!
Dan konsistensi inilah yang sekarang disalahkan oleh orang berotak
kadal dan fascsit ini!
>
> > Nggak ada!
> >
> > Otak kadal memang!
>
> ck ck ck, ... keras kepala juga pendekar HAM PBB ini.
>
Dan saya tambahkan: anda juga adalah fascsit!
>
> > Dan bebalnya, duh ilah, kadal yang paling bebalpun - saya yakin -
> > tidak akan sebebal orang yang satu ini.
>
> Mana argumennya bung Jusfiq?
>
Otak kadal, argumen saya ada dibaris berikutnya!
> > Ambil saja contoh soal stempel itu: saya bilang dalam
> > posting saya bahwa PRD datang dengan evidences dan - saya
> > teruskan - orang yang datang dengan evidences itu nggak bisa
> > dibilang asal stempel.
>
> Lalu apa dong namanya? ...
>
>
Sikap yang correct!
Itulah namanya!
PRD dalam hal ini telah bersikap correct!
Andalah yang telah bersikap sebagai fascist!
> > Lalu jawabnya?
> >
> > "Bukti apa? Buktinya PRD tidak siap menerima perbedaan, bahkan
> > 99% partai-partai yang hadir di UGM-pun dikatakan direkayasa
> > karena berbeda pendapat dengan mereka".
> >
> > Pertama, Saya tidak bicara bukti, tapi evidences dan dalam dalam
> > istilah yuridis kedua kata itu tidak sinonim.
>
> Mana argumennya? Kenapa dibelokkan dengan mempermasalahkan perbedaan
> terjemahan "evidences" dengan "bukti".
>
>
Otak kadal, memang!
Saya hanya memberikan sebuah penjelasan akan beda arti dua kata
yang dicampur aduknya.
Dan itu memang bukan argumen.
Dan fascsit berotak kadal ini betanya:
"Mana argumennya? Kenapa dibelokkan dengan mempermasalahkan
perbedaan terjemahan "evidences" dengan "bukti"."
Otak kadal!
> > Kedua, dengan jelas, saya sudah tunjukkan bahwa dikesempatan
> > lain PRD menyampaikan evidences.
> > Coba apa evidencesnya mereka itu? ...
"Dimana evidencesnya?", tanya anda
Ya, minta ampun, orang ini punya otak sama sekali apa nggak yah?
Di posting jang anda komentari itu!
Beberapa alinea dibawah kalimat yang anda komentari itu
Atau di berbagai kesempatan lain PRD juga menjelaskan alasan
mereka keluar dari rapat itu.
Nggak eh!
Orang ini telah menyalahkan PRD selama ini pada hal dia belum tahu
evidence yang dikemukakan PRD!
Orang ini rupanya buka bacot asal buka bacot, tanpa dia ketahui apa
yang dibacotinya!
Yang saya heran, apa dia nggak punya malu untuk begitu rajin
menunjukkan ketoloan demi ketolan ini?
Otak kadal memang!
> > > > Dan inilah ulasnya: "Bukti apa"?
> > > > Dan dia datang lagi, juara bebal ini, dengan kesimpulannya.
> > > > Yang katanya adalah bukti!
> > > > Semua ini dilakukannya didepan peserta berbagai milis ini.
> > Tidak sesuai dengan UU HAM PBB? ...
> > > > Sungguh, saya bertanya, dimana letak harga diri orang ini?
> > > > Dimana ditarohnya rasa malunya?
> > > > Tapi ya itulah, memang otak kadal!
> > Hehehe, ... membabi buta.
Saya anggap omongan yang terakhir ini nggak ada gunanya saya
komentari!
Lagi pula apa itu UU HAM PBB?
> > Salam, > Arbi > > > >
======================================
Jusfiq Hadjar gelar Sutan Maradjo Lelo =
======================================