Bismillahirrahmanirrahim...
Assalamu'alaikum wr.wb.


> ----------
> From:         Fahmi[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Reply To:     [EMAIL PROTECTED]
> Sent:         Friday, December 25, 1998 4:29 AM
> To:   Multiple recipients of list
> Subject:      Re: 5/5)BINCANG-BINCANG MASALAH TAQDIR.....
> 
> Nadri Saadudin wrote:
> 
> > Fahmi:
> > >kalau begitu, apa perlunya berdo'a/munajab ?
> > >bukankah Allah tidak akan menginterfensi arah
> > >pilihan manusia ?
> >
> > NS:
> > Berdoa adalah meminta kepada Allah  untuk menentukan pilihan  yang
> terbaik
> > bagi kita. Kita sendiri sesungguhnya tidak mempunyai kebebasan dalam
> > menentukan pilihan kita. Kita sendiri yang meminta kepada Allah agar
> Allah
> > mengadakan intervensi terhadap arah pilihan  kita, disebabkan kita tidak
> > mempunyai kekuatan untuk menentukan pilihan kita itu.
> 
> fahmi:
> Wak nadri ini sudah banyak mem-posting masalah takdir, dan saya tidak
> melihat adanya kecenderungan untuk menafikan kebebasan memilih, tetapi 
> kok ujung-ujungnya jadi seperti Jabriyyah juga ?
> 
NS:
Maksud saya, tidak selamanya manusia itu mempunyai kebebasan untuk  memilih.
Tidak jarang orang ragu dalam menentukan pilihannya, maka disaat itulah
peranan do'a yang menentukan dimana kita sendiri yang meminta Allah agar
menentukan (menguatkan hati kita) untuk pilihan kita, sehingga yang yang
kita pilih adalah apa yang telah dipilihkan Allah buat kita. 

> Jika kita tidak punya kebebasan memilih, apa perlunya taklif/perintah
> Allah pada manusia ?
> 
Kita sesungguhnya mempunyai kebebasan dengan memilih menolak atau menerima
perintah Allah. Sebagaimana dikatakan dalam Al-Qur'an , Tidak ada paksaan
dalam beragama. Antara yang benar dan yang salah sudah jelas.... Pada ayat
lain  juga dikatakan, Barang siapa beriman, silakan dan barang siapa kafir
silakan. Jadi untuk berimanpun atau kafirpun kita mempunyai kebebasan
memilih dan Allah sama sekali tidak mengadakan intervensi kepada kemauan
kita. 

> Jika arah pilihan manusia bisa diintervensi oleh Tuhan, kenapa nggak
> semuanya saja diintervensi ke arah kebaikan ?
> 
Bukan Allah yang mengintervensi  pilihan kita. Tetapi kita yang meminta
Allah untuk mengintervensi pilihan kita dengan cara berdo'a kepadanya,
karena kita sendiri tidak tahu akibat dari pilihan kita atau kita sendiri
tidak mempunyai kekuatan untuk mengarahkan pilihan kita... Allah tidak akan
mengintervensi pilihan kita, selama kita tidak meminta Dia mengintervensi
pilihan kita....(Dan itupun Allah belum tentu mau memenuhi permintaan
kita...).  Dan Allah juga tidak akan turut campur dalam pilihan kita dan apa
yang terjadi (akibat)  dari pilihan kita itu memang telah ditentukan oleh
Allah qadar atau ukurannya....

Kenapa Allah tidak mengintervensi kita kepada kebaikan? Allah memang
memberikan kesempatan kepada kita untuk memilih yang baik atau yang buruk
dari akibat perbuatan kita setelah Allah memberikan kekuatan bagi kita untuk
memilihnya. Baik dan buruk itu adalah pilihan kita dan Allah hanya meberikan
ukuran dari baik buruk tersebut sehingga kita mempunyai kebebasan untuk
memilihnya. 


> Suharto juga sering berdo'a !
> 
Belum tentu setiap do'a dikabulkan oleh Tuhan.... Dan belum tentu Allah mau
mengintervensi kepada pilihan Suharto.

> Jika Tuhan sanggup meng-intervensi arah pilihan manusia, kenapa masih
> ada NERAKA ?
> 
Bukan soal sanggup atau tidak sanggup...Yang jelas tentu saja Allah
berkemampuan untuk intervensi kearah pilihan manusia. Dan Allah itu hanya
mau dan mungkin mengintervensi kepada piliohan manusia bila diminta
(berdo'a). Jadi bukan sanggup atau tidak sangup tetapi soal mau atau tidak
mua Allah untuk intervensi. Allah tentu saja sanggup atau mampu menjadikan
manusia ini baik semuanya, tetapi Allah tidak berbuat demikian karena
disinilah letaknya Dia memberikan kebebasan bagi manusia untuk menentukan
pilihannya itu. Dan hasil pilihannya itulah akhirnya yang menentukan
ganjaram baginya. Kalau pilihannya baik dan berakhir dengan baik tentu saja
berkesudahan dengan surga dan kalau pilihannya tidak baik tentu saja dia
berkesudahan di neraka. Sesungguhnya dialah yang memilih neraka atau surga
itu, tanpa intervensi dari Allah.  Dan ini sesuai dengan qadar atau ukuran
yang telah diciptakannya lebih dahulu.Allah memberikan kekuatan kepada
manusia untuk menentukan pilihannya itu. 

> Okelah, Tuhan sanggup tetapi tidak mau meng-intervensi....
> Tuhan hanya mau meng-intervensi untuk orang-orang yg berdo'a/meminta.
> saya tanya lagi,
> Apakah untuk -mendapat selalu meminta- ?
> Apa Tuhan tidak tahu kebutuhan/keinginan manusia ?
> Kenapa Tuhan mesti dimanusiakan spt begini ?
> seolah-olah Tuhan itu perlu untuk diberitahu !
> 
Tidak selamanya kebutuhan manusia terpenuhi karena diminta, sesuai dengan
sifat Rahman dan Rahim. Ada kebutuhan manusia yang terpenuhi tanpa diminta,
sebagaimana kasih sayang orang tua kita yang mendahului kelahiran kita. Dan
ada kebutuhan kita yang diusahakan dahulu baru mendapat ganjarannya
sebagaimana seorang petani harus mengolah tanah baru mendapat hasilnya.
Untuk berusaha tentu saja diperlukan sarana untuk mewujudkan hasil. Dan
meminta kepada Allah lewat do'a juga merupakan sarana untuk memenuhi
kebutuhan kita. Ini bukan berarti bahwa Tuhan harus diberi tahu kebutuhan
kita... tetapi memang Tuhan sendiri menciptakan peraturannya agar kita
meminta kepadaNya. 

> fahmi:
> Salahkah jika saya simpulkan sbb:
> Bahwa cobaan itu hanyalah hasil interaksi pilihan-pilihan org lain yg
> sama sekali tidak ingin kita pilih.
> spt : kecelakaan di jalan, kebakaran dsb.
> 
Cobaan adalah sikap kita terhadap sesuatu yang diluar campur tangan kita
untuk menghindarinya. Kita tidak mempunyai pengetahuan untuk memilih
menerima atau menolak suatu yang kita anggap bencana bagi kita...

> Bahwa cobaan itu hanyalah hasil interaksi hukum-hukum alam yg sesuai
> dengan takarannya sehingga mengakibatkan kondisi yg tidak diinginkan.
> spt : gunung meletus, badai dsb.
> 
> 
Apapun yang menyebabkannya kalau diluar kemampuan kita untuk menghindarinya
adalah harus disikapi sebagai cobaan bagi kita. Seseorang pencuri yang
kebetulan tertangkap lalu, dipukul babak belur oleh massa, tidaklah bisa
dianggap sebagai cobaan baginya. Hasil yang diterimanya sesuai dengan
pilihannya sendiri sebelum melakukan pencurian itu... 

> Bahwa sebenarnya cobaan itu hanyalah sikap manusia yg berusaha untuk
> melupakan/tidak menyesali pilihan-pilihan yg telah dibuat,
> 
Sebuah sikap yang baik juga untuk menghibur dan menenangkan diri...
>     
>        sertaTuhan itu tidak pernah MENCOBA/MEN-TEST kadar keimanan
> manusia.
> 
Keimanan itu menghendaki ujian.... Tentu saja Allah senantiasa menguji iman
kita dan sikap kita terhadap  ujian yang diberikan Allah itu...

> Lalu kenapa Tuhan masih membiarkan SETAN untuk mempengaruhi manusia ?
> Bukankah itu TEST dari Tuhan ?
> Bukankah godaan SETAN itu berbentuk intervensi arah pilihan manusia ?
> 
Untuk menguji manusia. Dan intervensi setan tidak akan bisa kalau seseorang
itu dekat dengan Tuhan. Intervensi setan yang mungkin mempengaruhi manusia
bila dia jauh dari Tuhan. 



Wassalamu'alaikum wr.wb.
Nadri Saaduddin
Jalan Rambutan B-32
Telp. (+62-0765) 93072
Duri 28884, Riau Daratan
INDONESIA
------------------------------------------------
[EMAIL PROTECTED]
------------------------------------------------
Love for all, hatred for none.....!
Hearken! The Messiah Has Come, The Messiah Has Come.....
For further detail contact Ahmadiyya Mission  over the world.
------------------------------------------------

> Terima Kasih
> 
> --fahmi--
> 
> 

Kirim email ke