Waduh, saya tidak tahu apakah saya orang yang masa bodoh, telah
dibodoh-bodohi orang atau memang bodoh.

Bagi saya, Tuhan, Surga dan Neraka (TSN) itu sekedar simbol untuk
menguatkan the real ajaran agama (aturan hidup di dunia). Agama beserta
TSN-nya itu diadakan untuk mengabdi kepentingan dunia, bukan sebaliknya.

Dengan sudut pandang seperti itu, simbol tuhan bisa diartikan apa saja:
bisa tuhan Allah, bisa tuhan Yesus, bisa tu(h)an hakim - selama bisa
membuat manusia mengikuti aturan demi kebaikan dunia. Demikian juga
surga dan neraka.

Yang saya paparkan di atas itu pikiran sadar saya. Sedangkan di alam
bawah sadar, saya pikir saya percaya tuhan yang satu, surga dan neraka.
Lha, gimana nggak tertanam dalam bawah sadar: ketika kanak-kanak, selama
bertahun-tahun saya dididik dan dilatih (kayak si guk-guk) untuk percaya
itu. Biarpun kadang-kadang saya suka membayangkan para tuhan sedang
terbahak-bahak melihat umat masing-masing agamanya saling menyangkali
(bhs jawa: menyang=menuju, kali=sungai) tuhannya/nabinya/kitabnya.

Terus terang saya merasa kesulitan untuk memformulasikan konsep TSN yang
tertanam dalam bawah sadar saya. Yang saya tahu: tuhan  yang akan
memanggang manusia seumur mati hanya karena tidak percaya kepadanya, itu
jelas bukan tuhan saya. Tuhan yang melarang saya mengangkat pemimpin
dari golongan yang tidak sealiran dengan saya, itu bukan tuhan saya.
Tuhan saya kadang bernama Allah, kadang bernama Gusti Allah, kadang
bernama God.
Tentang surga dan neraka....
Surga itu seperti snack/gula-gula bagi si guk-guk pada saat awal
latihan: berfungsi untuk memotivasi. Neraka itu bagaikan "wewe gombel"
yang dipergunakan oleh orang tua saya untuk menakuti agar saya tidak
melanggar larangan mereka. Tapi sekarang, setelah si guk-guk makin
berumur, ketika berusaha berbuat baik/benar atau pun berusaha
menghindari berbuat jahat...blas..nggak kepikir itu karena bertujuan
mencari surga atau menghindari neraka.
Yang terpikir sekarang, bagaimana mengaplikasikan agama (aturan
hidup/hukum) untuk  menciptakan surga di dunia - bukan di akhirat.

Sebagai fans agama Islam (dulu saya mengaku beragama Islam; sekarang
saya menganut agama tertua di bumi: tidak beragama), saya sangat setuju
dengan bung Jusfiq agar umat Islam membuka pintu ijtihad lebar-lebar.
Islam (sependek yang saya tahu) kaya dengan konsep-konsep excelent yang
sangat sayang kalau tidak dikembangkan karena alasan tradisi. Salah satu
reading saya: shalat Jumat itu bukan shalatnya dan bukan Jumatnya yang
utama melainkan fungsinya sebagai community gathering untuk
diskusi/membahas masalah bersama (termasuk dengan umat yang beragama
lain).

Untuk Angku Nadri: tidak ada yang perlu dimaapin.

Guk..guk..guk,
Basas Widyaseno

Kirim email ke