FYI
Jusfiq

------- Forwarded Message Follows -------
Date sent:              Tue, 9 Feb 1999 18:14:41 +0100
From:                   [EMAIL PROTECTED]
To:                     [EMAIL PROTECTED]
Subject:                BOUNCE [EMAIL PROTECTED]:    
Non-member submission from [Aliansi 
>From [EMAIL PROTECTED]  Tue Feb  9 18:14:40 1999
Received: from antenna.nl (antenna [194.178.64.33])
 by mancha.antenna.nl (8.8.7/8.8.7) with SMTP id SAA17061
 for <[EMAIL PROTECTED]>; Tue, 9 Feb 1999 
18:14:39 +0100
Received: from mailserver.idola.net.id by antenna.nl with SMTP id 
AA04829
  (5.67b/IDA-1.5 for <[EMAIL PROTECTED]>); Tue, 9 Feb 
1999
  18:25:49 +0100
Received: from idola (jkt-usr01-18.idola.net.id [202.152.0.152])
 by mailserver.idola.net.id (8.8.5/8.8.5) with SMTP id AAA22467;
 Wed, 10 Feb 1999 00:03:42 +0700 (JAVT)
Message-Id: 
<[EMAIL PROTECTED]>
X-Sender: [EMAIL PROTECTED]
X-Mailer: QUALCOMM Windows Eudora Pro Version 3.0.3 (32)
Date: Wed, 10 Feb 1999 00:13:01 +0700
To: (Recipient list suppressed)
From: Aliansi Jurnalis Independen <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: AJInews: Wartawan dalam Huru-hara Ambon
Mime-Version: 1.0
Content-Type: text/plain; charset="iso-8859-1"
Content-Transfer-Encoding: 8bit
X-MIME-Autoconverted: from quoted-printable to 8bit by 
mancha.antenna.nl
id SAA17062

Kepada Pengurus Pusat 
Aliansi Jurnalis Independen (AJI)

Dengan hormat,

 Kami sampaikan beberapa paparan mengenai kerusuhan 
Ambon.  Kiranya ini
sebagai bahan bandingan atas mainsteam berita di media 
massa.  Mungkin ini
pun bisa menjadi bahan permenungan kita semua atas etika dan 
kebesan pers
pasca reformasi.  
 Tentu info ini tidaklah cukup untuk menggambarkan kondisi 
Ambon secara
keseluruhan.  Tapi setidaknya untuk menjadi bahan referensi. 
Bila butuh
info lain, kami bersedia membantu.
 Kami beritahukan bahwa dengan sangat menyesal kami tidak 
dapat menghadiri
kegiatan AJI di Manado.  Satu-satunya alasan adalah tidak ada 
transportasi
ke Manado pada akhir Januari lalu.  Mudah-mudahan kita bisa 
ketemu di
forum AJI yang lain.

Salam AJI !!!
Rudi Fofid & Zairin Salampessy
---------------------------------------

 Di Ambon, Rudi dan Zairin  bisa melihat langsung kerusuhan di 
berbagai
tempat.  Zairin malah menjadi salah satu korban. Rumah 
keluarga Rudi yang
beragama Kristen di Airmata Cina (salah satu titik kerusuhan), 
sempat
menjadi tempat berlindung 26 warga Muslim asal Bugis selama 
dua hari,
sebelum akhirnya dievakuasi ke instalasi militer terdekat.
 Sedangkan Rumah Keluarga Zairin persis di lokasi awal 
kerusuhan yakni di
perbatasan Batumerah dan Mardika.  Zairin dan keluarga sempat 
terancam
warga tak dikenal yang datang dengan parang terhunus. Selama 
berjam-jam,
juga ada lemparan batu hingga bom molotov.  Untung segera 
dievakuasi oleh
aparat keamanan atas bantuan Nn Sandra Lakembe, seorang 
aktivis LSM di
Ambon.  
 Zairin dan keluarga yang beragama Muslim, akhirnya mengungsi 
selama dua
pekan di rumah Sandra yang beragama Kristen.  Ayah Sandra 
bernama Armand
Lakembe adalah Ketua FKP  DPRD Kodya Ambon.  Di 
lingkungan gereja, Pak
Armand adalah seorang anggota majelis gereja.  Selain itu, 
antara keluarga
Zairin dan keluarga Sandra, terdapat hubungan pela.
 Rudi dan Zairin saat ini bergabung dengan rekan-rekan aktivis 
LSM di
Maluku yang membentuk Tim Relawan Untuk Kemanusiaan 
(TIRUS) yang berposko
di (0911) 343231.
 Dari posko ini, TIRUS mengupayakan penyaluran bantuan 
kepada korban
kerusuhan.  Aktivis TIRUS datang dari berbagai etnis dan agama 
dan
membantu para korban tanpa memandang latar belakang korban.
 Dari posko ini pula kami memantau pemberitaan media massa 
mengenai
kerusuhan Ambon.  Dari sana kami dapat menyimpulkan bahwa 
para jurnalis di
Ambon mendapat kesulitan besar dalam peliputan.  Pasalnya, 
untuk
mendapatkan data paling aktual untuk kejadian tanggal 19 
sampai 25 Januari
1999, ruang gerak para jurnalis dibatasi oleh kotak agama. Para 
Jurnalis
Kristen sama sekali tidak berani mendekati massa dan kantung-
kantung
Muslim.  Sebaliknya para jurnalis Muslim pun  tidak leluasa 
mendekati
massa dan kantung-kantung Kristen.  Hal ini semata-mata 
karena psikologi
massa pada saat kerusuhan sama sekali berada dalam situasi 
sangat
sensitif. Untuk mendapatkan informasi, para jurnalis sejauh ini 
berupaya
dengan cara :

1. Menempel ketat rombongan Gubernur Maluku, Panglima 
Kodam VIII/Trikora
atau pejabat lain yang memang mendapat pengawalan ketat. 2. 
Berposko di
instalasi militer terutama di Dinas Penerangan Polda Maluku atau
Penerangan Korem 174/Pattimura. 3. Meliput langsung di 
lapangan secara
terbatas.  Jurnalis Muslim dapat berbaur di tengah massa 
Muslim sedangkan
jurnalis Kristen berbaur dengan massa Kristen. Jurnalis Muslim 
gampang
menghimpun data di Masjid Al Fatah dan Batumerah sedangkan 
jurnalis
Kristen gampang menghimpun data di Gereja Maranatha atau 
Gereja Silo. 
Tapi, data tersebut adalah versi masing-masing kepentingan. 4. 
Berposko di
rumah masing-masing dan menerima informasi dari berbagai 
kalangan melalui
telepon.

 Tentunya masing-masing cara yang ada ini memiliki 
keterbatasan
sendiri-sendiri sehingga para jurnalis tidak dapat bekerja secara
maksimal.
 Ketika keadaan sudah lebih membaik, justru berbagai peristiwa 
sudah
terlewatkan sehingga para jurnalis tidak dapat mengumpulkan 
fakta-fakta
dari sumber pertama.
 Kendati tidak leluasa, para jurnalis di Ambon justru merangkap 
sebagai
sumber berita bagi berbagai media di dalam dan luar negeri.  Hal 
ini
sempat membingungkan para petinggi di Ambon sebab kejadian 
malam ini di
Ambon sudah dapat disiarkan di Amerika dan Belanda pada pagi 
harinya.
 Data seputar kerusuhan yang disiarkan oleh lembaga resmi baik 
pemerintah
maupun ABRI, menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat 
sebab tidak
akurat atau under-estimate. Hal ini dapat dimaklumi sebab 
pemerintah
mengacu  pada pendekatan versi pemerintah.  Data korban, 
misalnya, dinilai
oleh masyarakat justru jauh di bawah angka yang sebenarnya.  
Hanya saja,
masyarakat tidak dapat memberikan data yang sesungguhnya 
untuk membantah
data versi pemerintah.
 Di Ambon, kami sempat kaget pada pemberitaan SCTV tanggal 
29 Januari
 1999. Dalam Liputan 6 Petang, koresponden Andre Bangsawan 
melaporkan dari
 Ambon
bahwa penerbangan di Bandara Pattimura sudah normal.  Justru 
pada hari
itu, untuk kesekian kalinya kami tidak jadi berangkat ke Manado 
(untuk
mengikuti kegiatan pelatihan AJI).
 Tapi belakangan, kami di Ambon justru lebih kaget pada 
pemberitaan Gatra,
Tekad, Aksi, Abadi.  Masalahnya, berbagai berita dari media 
yang terbit di
Jakarta justru memperlihatkan kecenderungan :
 1. Emosi sejumlah jurnalis ikut bermain di dalam penyusunan 
berita.  Ada
kesan kuat, mereka kehilangan independensi sehingga akhirnya 
menulis
berita secara tidak berimbang.  
 2. Sejumlah jurnalis menulis fakta secara tidak akurat, bahkan 
ada yang
(mungkin sengaja) terbalik dari fakta yang sebenarnya. 

 Dari kondisi yang berkembang di Ambon, sejauh yang dapat 
kami tangkap,
maka sampai tulisan ini dibuat, terdapat suatu kondisi saling 
membuang
salah antara elit Muslim dan Kristen di Ambon.  Beberapa hal 
yang menjadi
ajang perdebatan hingga kini yakni :

 1. Orang Kristen menuduh kerusuhan Ambon sudah 
direncanakan oleh orang
Muslim, sebaliknya orang Muslim menuduh orang Kristen sudah 
merencanakan
kerusuhan Ambon.  Hal ini masih diyakini kedua belah pihak 
tanpa ada
klarifikasi sampai saat ini.
 2. Senjata-senjata tajam hingga bom molotof maupun bom ikan, 
menurut
 orang
Kristen, sudah disiapkan orang Muslim sebelum kerusuhan. 
Sebaliknya orang
Muslim juga menilai orang Kristen lebih siap dalam hal 
persenjataan
tersebut.
 3. Pada hari pertama kerusuhan, massa sudah terbagi dengan 
ikat kepala
merah (Kristen) dan ikat kepala putih (Muslim) di berbagai 
penjuru Kota
Ambon.  Sebab itu, sangatlah mustahil untuk menemukan siapa 
yang lebih
dulu memakai ikat kepala.  Soal ikat kepala ini sangat penting 
sebab ini
menjadi indikasi permulaan kerusuhan.  Ketika kejadian baru 
meledak di
Batumerah, sudah ada warga dengan ikat kepala putih tapi saat 
yang
bersamaan, di depan Gereja Silo, Tugu Trikora, sudah ada 
massa dengan ikat
kepala merah.
 4. Orang-orang Muslim mengambil kasus pembunuhan seorang 
ibu hamil yang
bayinya dikeluarkan dari rahim dalam pembantaian di Benteng 
Karang,
sebagai salah satu simbol kebiadaban orang-orang Kristen.  
Simbol yang
sama juga diklaim orang-orang Kristen sebagai kebiadaban orang-
orang
Muslim. Jadi orang Muslim maupun Kristen sama-sama 
mengklaim korban
tersebut (ibu dan bayinya) sebagai warganya.  
 5. Sejumlah media menulis kasus Ambon sebagai pembantaian 
Muslim (Muslim
Cleansing) di Ambon.  Padahal, kasus Ambon sangatlah berbeda 
dengan
kerusuhan di Kota lain, sebab di Ambon tidak terlihat secara 
nyata adanya
kelompok mayoritas yang melakukan pembantaian terhadap 
kelompok minoritas.
Justru dalam kondisi fifty-fifty, terkesan kuat bahwa kerusuhan 
Ambon
adalah sebuah ajang baku bunuh, baku bakar, baku serang, 
dalam suatu
pertarungan yang tidak fair. Artinya, pada titik-titik kerusuhan, ada
massa mayoritas berdasarkan tempat tinggal, yang kemudian 
melakukan
penyerangan terhadap massa yang minoritas.  Dan ini terjadi 
baik terhadap
warga Muslim maupun Kristen.
 6. Sinyalemen adanya Gerakan Republik Maluku Selatan (RMS) 
dalam
 kerusuhan
Ambon, nampaknya tidak disertai dengan indikasi atau bukti 
yang kuat.
Sebagaimana dilansir GATRA, di Kudamati terlihat adanya 
pengibaran bendera
RMS.  Bendera tersebut digambarkan berupa kain merah dengan 
salib putih di
tengah.  Padahal, menurut sejumlah warga Ambon, warna 
sebenarnya dari
bendera RMS adalah merah, biru, putih, kuning.  Tak ada 
lambang salib
dalam bendera RMS.  Tapi benarlah bahwa ketika kerusuhan 
terjadi, ikat
kepala massa Kristen berwarna merah.  Ada yang menambah 
simbol salib
putih, persis di atas dahi. 
 7. Sejumlah media di Jakarta juga menyebut Decky Wattimena 
terlibat
sebagai provokator dan sudah diperiksa di Mabes Polri.  Ketika 
kami
berkunjung ke rumahnya di Desa Airlow, 1 Februari 1999 
bersama Veriyanto
Madjoa dari TEMPO (koresponden Manado), justru Decky 
mengaku bahwa dalam
dua bulan terakhir ini tidak pernah meninggalkan Ambon.  Itu 
artinya, ia
tidak pernah diperiksa di Jakarta.  Menurut Decky, Ia justru 
diserang
warga Muslim di Air Salobar sehingga kaca mobilnya pecah.  
Decky juga
dijarah di lokasi yang sama, dan dalam kejadian ini, Kapolsek 
Nusaniwe Nn
Anatje Pirsouw mengetahuinya karena Kapolsek perempuan itu 
sempat
menumpang mobil Decky.  Ketika kerusuhan meledak, rumah 
Decky juga menjadi
tempat pengungsian puluhan warga masyarakat yang kebetulan 
sedang
bertamasya ke Latuhalat, dekat Airlow. Desa Airlow adalah desa 
berpenduduk
Kristen. Letaknya sekitar 10 km dari jantung kota Ambon. Desa 
Amahusu,
Nusaniwe, Silale, Latuhalat adalah desa-desa tetangganya. 
Sepanjang jalur
Amahusu-Airlow, ada beberapa dusun tempat pemukiman warga 
Buton.  Rumah
dan masjid mereka berada dalam keadaan utuh.  Menurut 
Decky, masjid-masjid
di sana dibangun saat dia menjadi walikota Ambon.  Ia juga 
membantah
berita yang menyebut dirinya anti Buton-Bugis-Makassar.  
Sebagai bukti,
Decky menceriterakan kembali pembelaannya terhadap becak-
becak di Ambon. 
Ketika para walikota se-Indonesia sepakat penghapusan becak, 
Decky sebagai
walikota Ambon menyatakan Ambon sebagai pengecualian.  
Alasannya, becak di
Ambon bisa diatur.  Sebab itu, becak dengan tiga warga di 
Ambon bisa
bernafas.  Decky juga menyebut tiga dusun di Airlow yang 
penduduknya
berasal dari Buton, sama sekali tidak menjadi korban kerusuhan 
Ambon.
"Moyang mereka sudah di sini sejak tahun 1801," kata Decky.
 Sementara kabar bahwa Decky mondar-mandir di tengah 
kerusuhan, dia
benarkan.  Pertama kali adalah dia ke Galala menjemput 
pendeta Airlow
yakni Pdt Pattiasina yang terjebak tidak bisa pulang. Melewati 
Desa
Batumerah yang mayoritas warganya muslim, Decky memang 
sempat ditahan.
Namun ada warga Batumerah yang mengenalnya. Lelaki tersebut 
lantas
mengantar Decky ke desa berikutnya (Tantui) yang mayoritas 
warganya
Kristen. Begitu pula ketika mengangkut Pdt. Pattiasina kembali 
ke Airlow. 
 Kedua, ia membawa dua keluarga Muslim dari Kudamati ke 
Polres Pulau Ambon
dan P.P. Lease di Perigi Lima, dan Ketiga, ia membeli bahan 
makanan untuk
para pengungsi yang tinggal di rumahnya.  Bahan pangan inilah 
yang dijarah
di Air Salobar.
 Kabar paling gress sampai tanggal 9 Februari 1999, Decky 
melarikan diri
 ke
Belanda, tidaklah benar.  Justru melalui pesawat 362212, kami 
bisa
berkomunikasi ke rumahnya.  Istrinya memberitahu bahwa 
Decky ada di rumah.
Ketika kami diterima di rumahnya, Decky yang baru usai 
memangkas tanaman
di halaman rumahnya, sempat dijamu makan siang.  Menu 
makan siang adalah
nasi, ikan goreng, sayur buah pepaya dicampur katuk. "Makan 
gaya kampung,"
kata Decky.  Ia juga menyebutkan bahwa, dalam situasi begini, 
ia menolak
wawancara oleh wartawan via telepon.  Mungkin inilah yang 
menyebabkan
banyak media gagal mewawancarainya.
 8. Warga Muslim di Ambon merasa sangat tidak puas dengan 
aparat keamanan
yang bertugas sejak awal kerusuhan.  Tapi perasaan yang sama 
juga
berkembang di kalangan warga Kristen.  Kedua belah pihak 
sama-sama tidak
puas dan merasa aparat tidak adil.
 9. Sangat disayangkan bahwa banyak media tidak 
membeberkan fakta-fakta
lain di balik kerusuhan ini.  Misalnya, dalam kasus ini, banyak 
orang
Kristen di berbagai tempat disembunyikan oleh orang-orang 
Muslim.
Sebaliknya, tidak sedikit orang Muslim yang diselamatkan orang-
orang
Kristen.  Ini fakta di berbagai lokasi.  Artinya bahwa di tengah 
kondisi
yang begini runyam, tidak semua orang lantas termakan 
provokasi dan isu.  
 10. Ketika kerusuhan dimulai pada 19 Januari 1999, isu yang 
berkembang
adalah pengrusakan rumah-rumah ibadah.  Pada hari kedua, 
barulah muncul
isu BBM.  Kami berkeliling Ambon dan menemukan banyak 
tulisan yang berisi
provakasi anti BBM.  Ada yang secara khusus anti Bugis-
Makassar. Ada pula
di beberapa lokasi yang menyebut-nyebut Jawa Sumatera.
 11. Di sejumlah lokasi, terdapat tulisan yang melecehkan Yesus 
dan Nabi
Muhammad.  Tapi tulisan-tulisan tersebut kemudian dihapus oleh 
warga dan
aparat keamanan. Beberapa simbol dan tulisan lain yang juga 
muncul adalah
bintang Daud, Yahudi, Israel, Muslim Power, Allahu Akbar dalam 
tulisan
Arab, dan simbol-simbol lainnya yang membangkitkan fanatisme 
masing-masing
kelompok.  
 12. Ketika tulisan ini dikirim, Kota Ambon masih sangat sensitif. 
 Sedikit
aksi saja bisa memicu kepanikan. Kota Ambon sempat menjadi 
sepi 2 Fabruari
lalu ketika sebuah tembakan peringatan dari aparat untuk 
mengatasi warga
pedagang yang berebut tempat, bisa mengundang rusuh kecil.  
Tiga hari
lalu, Ambon juga panik lantaran ada razia senjata tajam.  Siang 
tadi
ketika KASAD ke Ambon dan hendak melintas di Jalan Slamet 
Riyadi dan Jalan
Tulukabessy, aparat mengatur kendaraan untuk menepi.  Dengan 
membunyikan
peluit dan memberi aba-aba untuk kendaraan menepi, ternyata 
ini berkembang
meluas menjadi isu penyerangan.  Akibatnya, warga secara 
serentak di
berbagai pelosok menjadi panik.  Ada yang sudah keluar dengan 
ikat kepala
dan senjata tajam.  Dalam situasi ini, warga Ambon masih 
dicekam isu
aneh-aneh.
 Di kalangan Muslim beredar isu penyerangan oleh orang-orang 
Kristen.
Sebaliknya, di kalangan Kristen pun demikian.  Tanggal 
penyerangan malah
diisukan pada tanggal 8 dan 9 Februari 1999.  Juga kini ada 
trauma Selasa.
Setiap hari Selasa (19/1, 2/2 dan 9/2), selalu ada kepanikan.  
 13. Kecurigaan, dendam, takut dan permusuhan masih ada di 
mana-mana.
 Bukan
cuma di kalangan warga jelata melainkan juga di kalangan elit. 
 14. Masih terdapat ribuan warga di lokasi pengungsian. Mereka 
kini berada
dalam kondisi yang memprihatinkan. Mereka berada dalam 
kondisi rawan
sandang-pangan, pangan, dan kesehatan.  Bantuan dana yang 
dihimpun Pemda
Maluku sudah mencapai Rp 2 Miliar tapi di sejumlah lokasi, 
pengungsi tidak
minum teh manis (gula).  Menu setiap hari di bawah standar. 
Penyakit
berjangkit mulai melanda para pengungsi.
 15.  Atas prakarsa Baileo Maluku, berbagai LSM membentuk 
Tim Relawan
 Untuk
Kemanusiaan (TIRUS). Tim ini beda dengan kebanyakan Posko 
yang ada di
Ambon sekarang. Sebab, kebanyakan posko/tim yang bekerja 
sekarang justru
bekerja dengan segenap tendensi.  TIRUS terdiri dari relawan
Muslim-Kristen dan membantu korban Muslim-Kristen tanpa 
pandang bulu.  
 16. Beberapa fakta tambahan : 
7 Rumah wartawan Suara Maluku Max Aponno di Pohon Puleh  
terbakar
7 Rumah wartawan Suara Maluku Achmad Ibrahim di Nania, 
terbakar.
7 Rumah Zairin Salampessy di Mardika rusak ringan.
7 Lucky Sopacua, reporter TVRI Ambon diintimidasi via telepon
7 Rumah wartawan Suara Maluku Kace Mayaut di Silale dijarah.
7 Tabloid Mingguan Nasional, Kabaressi dan Tabaos, tidak terbit 
sejak
kerusuhan.  Harian Suara Maluku sejak 19 Januari 1999 hingga 
kini tidak
bisa terbit.  Sempat terbit 2 Februari 1999 tapi kemudian tidak 
terbit
sampai sekarang.  Khusus mengenai Suara Maluku, selain para 
wartawannya
kesulitan mencapai Kantor Redaksi, juga andaikata koran terbit, 
para agen
dan pengecer yang kebanyakan orang Buton justru belum berani 
bekerja.
Menurut kabar orang Suara Maluku, mereka baru akan terbit 
pada 1 Maret
1999 dengan tidak akan memberitakan kerusuhan Ambon sebab 
sangatlah
sensitif. 7 Wartawan LKBN Antara Udin Kelilauw sempat 
diamankan
rekan-rekannya yang beragama Kristen, sebab dia sempat 
diincar oleh
sejumlah orang melalui telepon. 7 Pada saat kerusuhan, dua 
penyiar TVRI
yakni Paulus Limbong dan Maria Sopamena, secara terus-
menerus menjadi
pembaca berita tanpa diselingi penyiar yang lain.  Ini karena 
keduanya
terkurung di studio, sementara yang lain tidak dapat sampai ke 
sana.  7
Rumah Dinas Kepala Stasiun TVRI Ambon di Kawasan Gunung 
Nona, dirusak
massa. Sang Kepala Stasiun adalah warga Muslim.  

Masih banyak hal yang dapat kami sampaikan, kalau memang 
perlu.  Saat ini, bersama kawan-kawan relawan, kami lebih 
mengarah pada penanganan emergensi.  

Catatan ini  dibuat sekadarnya sebagai bandingan mengenai apa 
yang terjadi di Ambon dengan apa yang disiarkan oleh media-
media.  Soalnya, kondisi di Ambon sangat berbeda dengan yang 
ditayangkan di TV atau media cetak. Moga-moga ada manfaat.   

Salam Dari Ambon Manise
Yang Sedang Luluh Lantak


Rudi Fofid, Zairin Salampessy dkk
(AJI Biro Ambon)

Jusfiq Hadjar gelar Sutan Maradjo Lelo                                             =
======================================


To unsubscribe send a message to [EMAIL PROTECTED] with in the
message body the line:
unsubscribe demi-demokrasi

Kirim email ke