Hallo,

Dengan adanya eksodus besar-besaran di Ambon, saya tidak melihat 
media LN mengcovernya ... atau coveragenya hanya minimal. 
Padahal sudah saya coba dengan newstracker ... namun hasilnya 
minimal. Paling ABC-Oztrali yang memuat itu aza cuma minim.

Memang siapa yang menguasai mass media, dia menjadi raja-diraja 
di abad informasi. Aku sudah membuktikannya waktu aku sekolah di
USA, dimana pembantaian Sabra dan Shatilla terjadi, pers barat
banyak yang bungkam atau ... ya minim itulah coveragenya.

Kosovo, Bosnia ... setali tiga uang ... memang seharusnya umat 
Islam jangan mengharap banyak dari umat yang lainnya ... 
tidak ada orang yang tulus menolong di luar golongan sendiri.

Kalau melihat kabar di koran yang eksodus besar-besaran 'kan umat
Islam ... apakah dengan fakta yang semacam ini, masih ada yang 
berusaha membalikkan fakta ... mengatakan yang sebaliknya.

Kalau dulu orang Cina eksodus karena ketakutan, itu karena ketakutan
oleh tirani mayoritas. Demikian pulalah yang terjadi dengan umat 
Islam di Ambon sekarang, mereka eksodus karena ketakutan oleh tirani
mayoritas.

Dimana kasih yang digembar-gemborkan selama ini?

Cheer!
--                                               ** Djoko Luknanto **

        Subject: Laporan TPF tentang kerusuhan di AMBON
        Date: Sun, 28 Feb 1999 09:23:58 +0700 (WIB)
        From: Saiful H <[EMAIL PROTECTED]>

        -----------------------------------------------------
        LAPORAN TIM PENCARI FAKTA
        TENTANG KERUSUHAN IDUL FITRI 1419 H BERDARAH DI AMBON

        POS KEADILAN
        DPW PARTAI KEADILAN MALUKU 1999
        -------------------------------

        BAB I
        KONDISI GEOGRAFIS DAN
        DEMOGRAFIS MALUKU
        1. Kondisi Geografis
        2. Kondisi Demografis

        BAB II
        PERISTIWA-PERISTIWA PENTING
        YANG DIIDENTIFIKASIKAN TERKAIT
        DENGAN KERUSUHAN DI KOTA AMBON
        1. Pembakaran dan Penjarahan Kampung Wailete
        2. Kepulangan Preman Ambon dari Jakarta
        3. Kerusuhan Ramadhan dan Ied di Dobo, Maluku Tenggara
        4. Terbentuknya Posko Ummat, dan Pelarangan Takbiran Keliling

        BAB III
        KRONOLOGI IED BERDARAH

        BAB IV
        DATA KERUGIAN
        Di Ambon , Kairatu (Pulau Seram), Pelauw (P. Haruku)
        dan Beberapa Tempat di Maluku Tengah

        BAB V
        ANALISIS
        1.  Teori Kriminal Murni
        2.  Teori SARA
        3.  Teori Politik
        4.  Teori Pemberontakan

        -----------------------------------------------------
        LAPORAN TIM PENCARI FAKTA
        TENTANG KERUSUHAN IDUL FITRI 1419 H BERDARAH DI AMBON

        POS KEADILAN
        DPW PARTAI KEADILAN MALUKU 1999
        -------------------------------

        BAB III
        KRONOLOGI IED BERDARAH

        HARI SELASA TANGGAL 19 JANUARI 1999 (1 SYAWAL 1419H)

        PUKUL 16.00 � 18.00 BTWI

        Sejumlah orang Suku ABORU NASRANI menggunakan mobil sewaan
        milik warga suku Bugis yang berdomisili di Batu Merah Bawah
        yang mayoritas muslim. Selama operasi mobil sewaan itu
        dikemudikan oleh YOPIE (teman Suku Aboru Nasrani) dibantu
        seorang kondektur yang juga warga Batu Merah Bawah. Setelah
        selesai pemakaian sewaan (carteran), sebagaimana perjanjian
        semula pemilik mobil yang diwakili si kondektur meminta uang
        sewaan (carteran), tetapi diluar dugaan ternyata YOPIE menolak
        membayar uang sewaan (carteran) dan bahkan mencoba menyerang
        si kondektur. Dengan dukungan beberapa penumpang (Suku Aboru
        Nasrani) mereka langsung menyerang. Pada saat tersebut
        kondektur berusaha menyelamatkan diri dengan meminta
        perlindungan kepada sekelompok pemuda warga Batu Merah Bawah.
        Akhirnya kedua belah pihak jadi saling berhadapan. Situasi
        menjalar makin panas dan perkelahian antara dua belah pihak
        tak terelakkan. Suasana berkembang cepat dan panas sampai
        terjadi pembakaran rumah penduduk.

        Peristiwa itu terjadi di sekitar Masjid Batu Merah Bawah
        sepanjang rute mobil Batu Merah menuju Jalan Raya Simpang
        Tiga. Insiden tersebut menimbulkan korban dua orang luka dan
        dilarikan ke RSU Ambon.

        PUKUL 18.00 � 21.00  BTWI

        Suasana panas merebak dan meluas dengan sangat cepat.  Di
        Silale terjadi pembakaran mobil enam buah. Beberapa tempat di
        Kota Ambon mulai mengobarkan api dan mengepulkan asap tebal.

        PUKUL 21.00 � 24.00 BTWI

        Pukul 21.00 terjadi penyerangan terhadap perkampungan muslim
        di Batu Gantung dan sekitarnya. Penyerangan dilakukan oleh
        kelompok Nasrani dari Kudamati terhadap Kampung Batu Gantung.
        Masa Muslim terkonsentrasi di Masjid dan bertahan menjaga jiwa
        dan keluarga mereka masing-masing. Penyerangan pertama ini
        diikuti dengan penyerangan kedua dari berbagai arah pada pukul
        23.00.

        Pada pukul 22.00 � 24.00 massa Nasrani berkumpul di Gereja GPM
        di Jalan Anthony Reebok. Massa membakar sejumlah warung kecil
        dipinggir jalan, sejumlah becak, dan sebuah mobil. Modus
        pembakaran becak adalah becak-becak dikumpulkan jadi satu
        dalam jumlah besar kemudian dibakar sehingga menimbulkan
        bubungan api yang cukup tinggi.  SD dan TK Islam Al-Hilal juga
        dibakar dan dirobohkan. Kemudian massa Islam yang berdomisili
        di sekitar Masjid Raya Al Fatah berkumpul sampai ke sekitar
        Masjid An Nur di Jalan A.M. Sangaji. Dua Kelompok massa ini
        saling bertahan pada jarak 30 m. Masjid An Nur juga menjadi
        korban pelemparan hingga kaca-kacanya pecah.

        HARI RABU TANGGAL 20 JANUARI 1999 (2 SYAWAL 1419 H)

        PUKUL 01.00 BTWI

        Pada pukul 01.00 Dini hari kelompok massa dari Nasara dan
        Muslim sudah saling berhadapan dan adu fisik disekitar Jalan
        A.Y. Patty dan Simpang dekat Masjid AL-Fatah, dilaporkan satu
        orang dari kelompok muslim tertembak dan belum diketahui siapa
        pelakunya.

        Pukul 01.20 dilaporkan bahwa kampung Banda Islam didepan
        kompleks OSM Air Salobar dibakar oleh kelompok Nasara.

        PUKUL 02.00 BTWI

        Pukul 02.00 dilaporkan oleh posko umat, bahwa ada perluasan
        gerakan/kerusuhan dari Ambon ke Laha. Posko Keadilan telah
        meneruskan laporan tersbut ke Kompi C Waiheru (diterima oleh
        Petugas Piket).

        Pukul 02.30 Masjid As Sa�adah yang terletak di Desa Karang
        Panjang dibakar. Pemukiman penduduk muslim di sekitar Jalan
        Diponegoro Atas dibakar. Ikut pula dibakar Masjid Al Huda yang
        ada disana.

        PUKUL 03.00 � 06.00 BTWI

        Pukul 03.00 Rumah Ustadz Abdurrahman Khou (Dewan Penasihat DPW
        Partai Keadilan Maluku) di Desa Air Salobar habis dibakar.

        Sekitar pukul 04.00 terjadi pembakaran di beberapa pasar yang
        mayoritas dimiliki oleh umat Islam pendatang dari BBM (Buton,
        Bugis, Makassar), yaitu:

        1) Pasar Mardika, sebuah pertokoan besar yang menjual aneka
           kebutuhan masyarakat. Bila dibandingkan dengan skala Jakarta
           maka Pasar Mardika bagi penduduk Ambon seperti Pasar Tanah
           Abang bagi penduduk Jakarta.
        2) Pasar Buah Mardika, sebuah pasar yang menyediakan aneka
           buah bagi kota Ambon.
        3) Pertokoan PELITA, sebuah pertokoan yang menyediakan banyak
           kebutuhan harian terutama kebutuhan sandang dengan banyaknya
           toko bahan dan penjahit pakaian. Terdapat pula beberapa toko
           yang menjual peralatan bermotor (mobil dan motor) dan
           rumah-rumah-makan.
        4) Pasar Gambus, pasar yang banyak menjual kebutuhan sandang,
           seperti pakaian, tas, sepatu, dll.
        5) Pasar Cakar Bongkar, pasar rakyat yang menyediakan
            kebutuhan pangan dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

        Kerugian yang diakibatkan oleh pembakaran tersebut dipastikan
        mencapai ratusan milyar rupiah disamping puluhan nyawa yang
        melayang meninggalkan jasad yang terkapar di tanah. Ini belum
        termasuk kerugian berupa hilangnya lapangan usaha bagi ribuan
        kepala rumah tangga yang pasti membalurkan warna suram bagi
        masa depan puluhan ribu anggota keluarganya. Belum lagi
        kerugian inmaterial berupa rasa sakit hati yang sangat dalam
        menusuk perasaan yang entah dengan cara apa dapat dihapuskan.

        PUKUL 06.00 � 12.00 BTWI

        Pukul 06.00 banyak terdapat kobaran api yang terpantau di
        Posko Keadilan Wayame. Hampir sepuluh kobaran api dan kepulan
        asap terlihat menyebar di Kota Ambon. Sungguh suatu peristiwa
        ajaib yang tidak mungkin terjadi bila seluruh kejadian ini
        hanyalah disebabkan oleh kejadian yang sifatnya kebetulan.

        Pukul 07.00 terlihat kobaran api yang menjadi lebih besar di
        pasar dan pertokoan yang dibakar. Api di Pasar Mardika terus
        menyala dan membakar sampai  Jumat dan terus berasap sampai
        Sabtu.

        Daerah Batu Gantung pagi hari lengang dari petugas sedangkan
        penyerangan dari daerah Kuda Mati masih berlangsung. Aparat
        (Polda dan Korem) dikontak tetapi tidak ada tindak lanjut.

        Sejak 06.00 � 12.00 (selama sekitar 6 jam) Masjid Raya Al
        Fatah dikepung dan diserang oleh ratusan antek-antek kafir
        lengkap dengan persenjataannya. Korban di pihak muslim
        berjatuhan karena tertembak senapan api (untuk berburu babi)
        dan anak panah.

        Ada beberapa orang korban insiden di daerah Silale dan Batu
        Merah yang dievakuasi ke Rumah Sakit Al Fatah. Satu orang
        meninggal dan empat belas orang luka-luka.

        PUKUL 12.00 � 15.00 BTWI

        Pukul 13.00 bantuan pasukan dari  Ujung pandang telah sampai
        di Ambon menggunakan angkutan udara.

        Pukul 13.30 warga Batu Gantung Waringin kembali mendapat
        serangan besar dari Kuda Mati. Kondisi gawat. Posko Keadilan
        mencoba menghubungi Korem dan dijawab : "personel sudah tidak
        ada". Warga muslim Batu Gantung berusaha mempertahankan diri
        semampunya. Beberapa panah api terbang membakar rumah-rumah di
        Batu Gantung tetapi warga dapat memadamkannya.

        Hingga pukul 14.45 daerah Batu Gantung terbakar ... Pembakaran
        bermula dengan cara warga Kuda Mati sengaja membakar rumah
        seorang Kristen (keluarga Rehata) yang letaknya berhimpitan
        dengan rumah warga Batu Gantung. Rumah tersebut sudah
        dikosongkan lebih dahulu. Angin ketika itu berhembus kencang
        ke arah perumahan warga Batu Gantung, hingga akhirnya
        rumah-rumah mereka terbakar. Rumah Wakil Ketua DPW Partai
        Keadilan Maluku, Drs. Budi Santosa, terbakar habis dan tidak
        ada harta yang terselamatkan kecuali pakaian yang melekat di
        badan. Setelah itu kelompok penyerang berusaha merusak Masjid
        Al Ikhlas dengan cara mengumpulkan kayu bakar dan membakarnya
        tetapi tidak berhasil. Upaya kedua dilakukan dan tetap tidak
        berhasil, yang rusak cuma sebuah pintu dan mimbar yang hancur
        diparang. Hingga sekarang Masjid Al Ikhlas masih berdiri tegak
        di tengah bangkai rumah-rumah muslim yang habis terbakar.
        Warga Batu Gantung berlarian untuk berlindung dan mengungsi di
        Asrama Polisi Parigi Lima.

        Kondisi tengah hari di Kota Ambon berubah panas dengan sangat
        cepat. Pukul 14.00 warga sekitar Masjid Al Fatah hampir
        semuanya mengungsi kedalam kompleks Masjid Al Fatah. Masjid
        dengan segera berubah fungsi menjadi tempat penampungan
        pengungsi yang padat. Demikian padatnya hingga pengungsi tidak
        tertampung di Masjid Al Fatah dan memadati Masjid Jami� Ambon
        yang terletak bersebelahan dengan Masjid Al Fatah. Pengungsi
        yang seluruhnya muslim ini juga tidur di emperan Islamic
        Center Komplek Masjid Al Fatah. Pada saat-saat tersebut
        kondisi Rumah Sakit Bersalin Al Fatah berubah fungsi menjadi
        Rumah Sakit Umum dan dipenuhi oleh pasien yang luka-luka.
        Disaat kapasitas maksimal jumlah pengungsi muslim dari Komplek
        Masjid Al Fatah ini mencapai 20.000 jiwa.

        Beralih ke seberang teluk kota Ambon tepatnya di Desa Rumah
        Tiga Kecamatan Teluk Ambon Baguala. Pukul 13.30 Warga Desa
        Rumah Tiga, Wailela, Poka dan sekitarnya sudah mengungsi ke
        Detasemen Zeni Tempur 5 (Denzipur) untuk mendapatkan keamanan.
        Warga Desa Hitu dan Mamala mendapatkan informasi bahwa
        Al-Fatah dikepung dan Umat Islam dibantai oleh orang Kristen
        sehingga mereka turun ke Ambon untuk membantu umat Islam.
        Dalam perjalanan mereka menuju Ambon, mereka dihadang oleh
        warga Nasara kampung Benteng karang. Menurut sumber yang dapat
        dipercaya warga kampung Benteng karang sudah bersiaga menunggu
        kedatangan warga muslim desa Hitu dan Mamala di atas Bukit
        benteng karang. Dari kontak fisik antara dua kelompok ini
        jatuh banyak korban dipihak warga Nasara benteng karang.
        Setelah sampai di Desa Nania mereka dihadang oleh Brimob dan
        ditenangkan dengan penjelasan bahwa kondisi Al-Fatah masih
        utuh. Kemudian mereka dipaksa kembali ke desanya
        masing-masing. Pada saat itu mereka sudah mendengar berita
        bahwa banyak jatuh kurban dipihak kaum Muslim.

        Kondisi ini membuat warga muslim Desa Hitu dan Mamala marah.
        Akibatnya terjadi perusakan beberapa rumah penduduk Nasara dan
        satu Gereja dibakar didesa Nania. Setelah   itu Mereka kembali
        ke desanya. Sekembali warga Hitu dan Mamala dari Nania warga
        Nasara membalas serangan tadi dengan membakar rumah-rumah
        muslimin dan Masjid yang ada didesa Nania dan Hunut, termasuk
        kantor pengadilan Agama kecamatan teluk Ambon Baguala. Dari
        peristiwa peperangan di Benteng karang itu, pihak aparat
        mengevakuasi 6 (enam) jenazah warga Nasara Benteng Karang dan
        dimakamkan di desa Wailela.

        Pengungsian bertambah terus. Pukul 14.30 warga Daerah Rumah
        Tiga, wanita dan anak-anak diungsikan disatu tempat di
        Denzipur, sedangkan pria berjaga-jaga di sekitar masjid karena
        ada indikasi bahwa akan ada serangan kearah rumah tiga.
        Demikian pula warga muslim di Perumnas Poka mengungsi ke dalam
        masjid Al-Muhajirin Perumnas.

        PUKUL 15.00 � 24.00 BTWI

        Pukul 16.00 warga Waihaong yang mayoritas Muslim dikepung
        serbuan warga Talake (Nashara), dan terjadi saling
        bakar-membakar. Aparat hanya terlihat enam orang Polisi
        sehingga tidak mampu berbuat banyak. Kondisi ini terus
        berlangsung hingga menjelang Maghrib (pukul 18.00) ketika
        pasukan Kostrad dari Ujung Pandang ditempatkan di lokasi rawan
        kerusuhan di pusat Kota Ambon. Diperoleh kabar bahwa sebanyak
        118 provokator dari Jakarta sudah dipantau.

        Pada saat yang sama, masuk informasi dari Tim Lapangan Pos
        Keadilan bahwa ada 76 korban, 66 orang luka berat dan 10 orang
        meninggal dunia. Rinciannya adalah sbb.:

        � di RS Alfatah 13 luka-luka 1 meninggal,
        � di RS Tentara 11 luka-luka 3 meninggal,
        � di RS Bakti Rahayu 2 luka-luka 2 meninggal,
        � di RS Perigi Lima 40 Luku-luka 4 meninggal (jumlah 76 orang
          tsb belum termasuk korban yang dirawat Di RSU Ambon).

        Kerusuhan menyeberang ke Desa Wailete dan Kamiri. Terjadilah
        tragedi berdarah. Desa Wailete yang muslim diserang oleh warga
        Desa Hative Besar yang Nasara. Tidak ada kesalahan warga
        Wailete kepada warga Hative Besar kecuali mereka muslim.
        Serangan ini mendapat perlawanan sengit warga Wailete sehingga
        warga Hative Besar mundur. Sambil mundur mereka mengancam akan
        kembali menyerang besok pagi. Para wanita dan anak-anak Desa
        Wailete dan Kamiri berbondong-bondong mengungsi ke Kompi
        Senapan C di Wayame, desa sebelah mereka.

        Kerusakan meluas ke Desa Passo yang berada di pojok Teluk
        Ambon Baguala. Pukul 18.45 Masjid Al Muhajirin di Batugong
        Passo dibakar. Pada saat yang bersamaan ada beberapa masjid
        yang dibakar, antara lain Masjid Jamiatul Islamiyah di Galala
        dan sebuah Mushalla juga di desa Galala.

        Malam hari dilewati seluruh warga dengan tegang. Semua
        berjaga-jaga. Senjata-senjata disiapkan, parang, tombak,
        panah, batu, ketapel, bambu runcing, balok kayu, potongan
        besi, dan lain-lain.

        (Bersambung ke tanggal 3 Syawal dan seterusnya...)

Kirim email ke