Date sent:              Sat, 27 Feb 1999 13:37:05 -0600 (CST)
Send reply to:          [EMAIL PROTECTED]
From:                   "King JoJon" <[EMAIL PROTECTED]>
To:                     Multiple recipients of list <[EMAIL PROTECTED]>
Subject:                Re: (Fwd) KKG yang tidak punya harga diri - Part 1

> > From: [EMAIL PROTECTED]
> > Date: 27 Februari 1999 23:40
> > 
> 
> >>KJJ:
> > > Bukankah yang penting dan prioritas adalah kalahkan dulu rezim orba. 
> Soal
> > > lain bisa menyusul.  Sebab musang-musang dan para srigala masih
> > > berkeliaran nih.  Sebagian malah keliatan semakin lapar saja :-(
> > > 
> > > 
> > 
> >     Saya setuju:  "....yang penting dan prioritas adalah kalahkan dulu
> >     rezim orba". 
> > 
> >     Dan rezim orba itu apa? 
> > 
> >     Bukan (terutama) orangnya, tapi 
> > 
> >     1. dwi-fungsi
> > 
> 
> KJJ:
> Maaf Angku Jusfiq. 
> 
> Kita terpaksa sedikit berbeda pendapat disini.
> 

    Nggak kita nggak berbeda disini! 

> Dwi-fungsi itu bukan milik orba saja.
>

    Betul! 

    Dan PKI juga tidak tegas-tegas menolak dwi-fungsi dulu! 

    Atau persisnya:PKI mendukung dwi-fungsi dulu! 

    Anda tidak tahu barangkali: Amir Machmud itu adalah anggota PKI
    yang disumpah, disumpahnya di jalan Palem! 

    Dan tahukah anda siapa yang mendorong naiknya Soeharto dulu
    menjadi komandan Operasi Mandala?

    Ya, PKI juga! 

    Karena PKI, yang anti Nasution (dan bukan anti dwi-fungsi)
    mendukung Soeharto yang anti Nasution! 

    Lawan musuh saya adalah kawan saya!

    Itulah pegangan PKI dulu yang jangan kita lupa - adalah partai
    fascist! 

    Partai yang ikut mengubur demokrasi di Indonesia, ketika PKI  -
    sesuai dengan garis Aidit - bersedia dicaboi oleh Soekarno dan
    mendukung Konsepsi Presiden: ketika PKI ikut mendukung Dekrit 5
    Juli, dan, - gobloknya - ikut mendukung idee serdadu untuk
    mengangkat Soekarno sebagai presiden se umur hidup, artinya
    membatalkan pemilihan umum dimana kans mereka untuk menang
    adalah....besar nian! 

    (Dalam pemilihan lokal di Jawa tahun 1957 PKI adalah partai nomor
    wahid!) 

    Partai goblok, - PKI yang ketika itu menjadi korban dari ideologi
    nasionalisme - karena mau menurutkan usul serdadu  buat merampoki
    perusahaan Belanda yang kemudian dikuassai oleh serdadu, dan dari
    perusahan yang dinasionalisir itu serdadu menghancurkan SOBSI yang
    dulunya kuat itu (denganmendirikan danmembiayai SOKSI dari uang
    perusahaan rampokan yang dijarahi oleh Soehardiman dll.) . 

    (Cf. antara lain tulisan mendiang Jacques Leclerc tentang masalah
    ini)

> Dwi-fungsi itu di konsepsikan dan dicetuskan oleh Jendral Kancil -
> A.H.Nasution - bapak fasisme Indonesia - pada th 1950-1951.

    Saya tahu, bapak dwi-fungsi, artinya juga bapak fascsisme di
    Indonesia adalah Nasution, jendral kancil yang nggak pernah perang,
    nggak pernah bertempur! 

    Dan jangan lupa, bahwa jendral kancil ini pulalah yang mengusulkan
    kepada bekas kolaborataor fascis Jepang Soekarno untuk kembali ke
    UUDs45, karena bajingan yang sstu ini melihat UUD45 itu memberi
    peluang bagi serdadu untuk duduk lembaga legislatif sebagai 'wakil
    golongan'. (Cf. tulisannya di Prisma tahun 1981,kalau tidak salah
    terbitan bulan Desember). 

> Dan konsep dwi fungsi ini dipakai atau diterapkan oleh Soekarno th 1959.
> Periode Soekarno 1959 - 1965 itu yang disebut orang : Orde Lama. Orde Baru
> - periode Soeharto 1967 - 1999, hanya melanggengkan konsep ini bahkan
> dengan intensitas yang lebih tinggi lagi.
>

    Orde Baru est  Orde Lama in optima forma dixit Buyung Nasution. 
 
> Jadi kurang cocok jika mengidentikkan orba dengan dwi fungsi.
>

    Tidak identik, tapi salah satu elemen Orde Baru. 

    Dan dwi-fungsi yang tidak ditolak oleh Megawati putri kolaborator
    fascsit Jepang Soekarno! 
    
 
> Tapi saya setuju 100% (kalau bisa lebih) - bahwa dwi fungsi HARUS dihapus.
> 
> Sekarang ini sudah ada TAP MPR hasil Sidang Istimewa 1999 untuk menghapus
> "secara bertahap" peran sospol ABRI (konsep dwi fungsi).
> 
> Memang saya kurang puas dgn kalimat "secara bertahap" pada TAP MPR itu.
> 
> Tapi itulah yang kita peroleh ketika kompromi terjadi antara para politisi
> orba yang masih bercokol di MPR sekarang dengan tekanan arus reformasi
> yang datang dari luar gedung MPR.
>

    Bukan kompromi yang anda atau saya bikin! 

    Yang bikin kompromi itu adalah maling dan bajingan! 

    Tidak ada keharusan bagi anda dan saya untuk menghormati kommpromi
    itu!     


 2. UUD45 > > > 

> KJJ: 


> Idem dgn diatas, UUD 45 juga tidak identik dengan Orba. > Ia sudah
> muncul sejak lama dan sudah ditendang keluar kemudian masuk lagi > ke
> dalam kancah politik Indonesia oleh Soekarno th 1959 -- bersamaan >
> dengan implementasi konsep dwi fungsi. > > Orba hanya meneruskannya
> dengan tambahan kalimat : > "melaksanakan UUD 45 dan Pancasila Secara
> Murni dan Konsekwen" > > Saya setuju jika UUD 45 di amandemen
> (dikoreksi) sesuai dengan > perkembangan jaman. > > Tapi jika
> dipaksakan kembali ke UUDS 50 seperti yang sering angku usulkan, >
> saya juga kurang setuju.  Bikin saja amandemen atau UUD RI yang baru.
> > > Lebih baik menatap masa depan ketimbang merenungi masa silam. > >
> 

    Sesat dijalan surut kepangkalan, tersuruk biduk dikelokkan! 

    (Harap baca argumen saya di arsip Indonesia-l) 

    Dan lagi saya berkeyakinan bahwa, berdasarkan
    alasan-alasan kultural,  sistem yang cocok di Indonesia itu adalah
    sistem  ber perdana menteri dan bukan sistem presidential, dan
    mode pemilihan umum proporsianal bukan distrik. 

    Cf. pula argumen saya di arsip Indonesia-l. 
 

> >     3. Pancasila sebagai azas negara atau (setali tiga uang) azas
> >     tunggal. 
> > 
> 
> KJJ:
> Ketentuan Pancasila sebagai azas tunggal sudah dicabut dalam UU Politik
> yang baru.  Partai-partai dan ormas-ormas yang ada sekarang tidak semuanya
> mencantumkan Pancasila sebagai azas.  Ada yang berazaskan keagamaan,
> kerakyatan, nasionalisme dll.  
> 
> Sudah agak bebas.
> 
> Sudah tidak seperti dulu lagi.
>

    Betul, tapi belum bebas betul. 

    Neuron orang baru bebas betul bila urusan negara dan urusan agama
    dipisahkan, seperti di Perancis atau Belanda. 

> 
> >     4. feodalisme abangan dan feodalisme santri . 
> > 
> 
> KJJ:
> Saya setuju penghapusan segala bentuk feodalisme.
> Tapi apakah orba menganut feodalisme santri dan abangan ?
>

    Feodalisme abangan ya. 

    Tapi feodalisme santri juga tidak dihapus, cuma diawasi saja. 

> >Jusfiq:
> >
> >     Dan PDI Perjuangan atau partai yang didukung Abdurchman Wahid
> >     adalah pendukung orba. 
> > 
> 
> KJJ:
> PDI Perjuangan BUKAN partai pendukung orba.

    Yang bikin PDI siapa? 

    OPSUS! 

    Yang manaikan Megawati siapa?

    Agum Gumilar! 

> PDI Perjuangan justru merupakan partai yang ditindas orba.
> Megawati justru merupakan ancaman buat Soeharto dan rezim kala itu.


    Megawati digencet bukan karena mengancam orba, tapi karena
    (dianggap) mengancam kedudukan Soeharto. 


> Apa angku Jusfiq lupa peristiwa 27 Mei 1996?

    Saya yang bawa masaalahnya ke Sub-Komisi HAM PBB, saya pertahankan
    hak Megawati! 

    Seperti saya juga mempertahankan hak Harmoko ketika dituntut
    untuk di Shalaman Rushie kan oleh pegiat HAM dulu.

    Seperti saya memepertahankan hak orang Islam yang dibabad oleh Benny
    Murdhani di Tanjugn Peiruk. 

> Setelah menindas PDI Mega, rezim orba lalu menguber-uber aktifis 
> PRD.
> 

    Saya tahu! 

    Dan ketika PRD memberikan dukungan kritis terhadap Megawati
    sebelum tanggal 27 Juli saya kritik sikap PRD ketika itu. 

> 
> >     Oleh karena itu saya senang mendengar bahwa PRD berusaha untuk
> >     memberikan alternatif bagi elektorat abangan untuk TIDAK mendukung
> >     PDI perjuangan. 
> > 
> >     PRD, terlepas dari kritik saya akan jargon kerakyatan tahun
> >     limapuluhan yang masih dipakainya, adalah partai anti-orba. 
> > 
> 
> KJJ:
> Saya mempunyai ganjalan sedikit dengan anak-anak PRD belakangan ini.
> Terutama pada kegiatan mereka dalam demo-demo mahasiswa yang terjadi di
> Jakarta.   Mereka sering bergabung dengan apa yang dinamakan KBUI
> (keluarga besar UI).  Radikalisme mereka yang mengarah kepada
> fundamentalis sering membuat marah aparat/petugas keamanan. 
> 
> Kerap terjadi para aktifis PRD ini membuat situasi demo damai mahasiswa
> menjadi chaos ketika berhadapan dengan aparat.  Dan ketika suasana mulai
> kacau, para aktifis PRD ini lalu melarikan diri sambil membuka jaket
> almamater   dan meninggalkan rekan mahasiswa lain yang non-PRD menjadi
> korban keganasan aparat.
> 
> Ini perlu mendapat perhatian dari para pengurus atau aktifis PRD yang
> lain.  Mereka perlu membuka mata, bahwa rekan-rekan mahasiswa lain tidak
> begitu suka dijebak dan diperlakukan tidak fair seperti itu.  Simpati
> kepada aktifis PRD yang sebelumnya menggunung kini mulai susut akibat
> kelakukan mereka sendiri.  Lihat saja, demo mahasiswa KBUI belakangan
> semakin sepi pendukung.   Banyak aktifis mahasiswa kini lebih condong
> bergabung dengan organisasi macam FORKOT, FAMRED, FKSMJ, KAMMI atau
> lainnya.
> 
> Saya kira strategi PRD itu justru akan membahayakan gerakan mahasiswa yang
> lain.  Setidaknya dukungan masyarakat yang begitu besar di Jakarta atau di
> daerah lain bisa berbalik menjadi kebencian dan apriori.  Sebab, betapapun
> masyarakat umum tidak terlalu jelas membedakan kelompok mahasiswa yang
> sedang bergerak, apakah FKSMJ, FORKOT, FAMRED, KBUI atau PRD.  Bagi
> masyarakat umum,  mahasiswa adalah mahasiswa, tidak peduli dari kelompok
> manapun mereka berasal.
>

    Saya juga punya banyak reserve terhadap PRD.

    Agar jangan anda lupakan: yang saya dukung adalah usaha PRD untuk
    memberikan alternatif kepada elektorat abangan: Megawati atau PRD! 

    Yang saya dukung pulalah adalah tuntutan anti dwi-fungsi PRD! 

    Yang saya dukung pula adalah kepedulian aktivis PRD terhadap orang
    tertindas, kelas buruh misalnya. 

    Inilah yang saya dukung. 
 
> Saya berharap, jangan karena nila setitik rusak susu sebelanga.
> 
> Angku Jusfiq, saya kira cukup sekian kritik saya terhadap PRD.
> Mudah-mudahan ke depan-- PRD akan menjadi lebih baik dan lebih banyak
> mengundang simpati masyarakat.
>

    Kalau masih ada kritik, maka kritik itu juga kudu disampaikan.

    Sepanjang yang menyangktu saya, saya sudah berjanji kepada diri
    saya untuk terus menerus menyampaikan kritik saya kepada PRD. 

> 
> Salam,
> 
> King JoJon
> 


Jusfiq Hadjar gelar Sutan Maradjo Lelo                                             =
======================================

Kirim email ke