Terima kasih atas info hasil risetnya. Barangkali perlu dilihat kembali 
kesesuaian antara judul (prevalensi) dan kesimpulan (patofisiologi). Terima 
kasih.
 
Salam dari Yonago, Japan
Bahrudin 

anton christanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
[EMAIL PROTECTED], [email protected],

prevalensi Kelelahan Bersuara pada guru yang berobat di RS. Dr. sardjito 
jogjakarta


Hamsu Kadriyan, Siswanto Sastrowijoto

Bagian THT-KL FK-UGM/RS Dr. Sardjito Jogjakarta



Abtsrak



Abstract


Pendahuluan
Suara merupakan alat komunikasi verbal yang sangat penting dalam kehidupan 
sehari-hari. Menurut Atmosoewarno (2003), sarana infromasi dan komunikasi yang 
paling efektif adalah cara lisan (verbal) yang dapat dipersepsikan melalui 
telinga. Suara dapat digunakan untuk mengekspresikan berbagai keadaan emosional 
manusia (seperti senang, marah, sedih), untuk meningkatkan kemampuan 
intelektual, spiritual dan sosial. 

Kelelahan bersuara (Voice fatigue) menurut Welham (2003) merupakan adaptasi 
negatif pembentukan suara yang timbul pada orang-orang yang sering menggunakan 
suara dalam jangka waktu lama tanpa adanya kelainan patologis pada laring. 
Kelelahan bersuara biasanya bermanifestasi sebagai turunnya volume suara dan 
tinggi nada, rasa nyeri saat bersuara bahkan dapat terjadi suara serak. Keadaan 
ini sering timbul pada guru, penyanyi dan pekerja-pekerja yang mengandalkan 
suara untuk pekerjaannya, termasuk juru kampanye anggota legislatif, capres dan 
cawapres.

Menurut data Dinas Pendidikan Nasional tahun 2001/2002, jumlah guru SD di 
seluruh Indonesia berjumlah 1.164.808 dan guru SMP berjumlah 476.827. Profesi 
tersebut oleh beberapa peneliti dikatakan mempunyai risiko yang besar untuk 
timbulnya suatu gangguan bersuara yang secara psikologis maupun ekonomis akan 
mempengaruhi penderitanya karena akan mengganggu pekerjaannya.

Prevalensi kelelahan bersuara pada profesi-profesi tersebut cukup sering 
ditemukan. Berdasarkan Welham (2003) prevalensinya sebesar 9,7-13%, tetapi bila 
dengan laporan self assesment menurut Gotass (1993) ternyata prevalensinya 
berkisar antara 73-80%. Hal ini menunjukkan bahwa pada keadaan sebenarnya, 
prevalensi kelelahan bersuara cukup tinggi. Di Indonesia, belum ada penelitian 
yang melaporkan hal ini.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi kelelahan bersuara 
pada guru yang berobat di bagian THT RS Dr. Sardjito Yogyakarta, serta 
aspek-aspek yang berkaitan dengan kelelahan bersuara tersebut. 



Bahan dan Cara



Metode penelitian adalah dengan desain deskriptif. Subyek pada penelitian ini 
adalah guru-guru yang memeriksakan diri di bagian THT-KL RS Dr. Sardjito 
Yogyakarta, apapun keluhannya pada saat periksa, dan menyetujui untuk mengisi 
formulir yang disiapkan (terlampir). Data diambil dari tanggal 10 Juli 2004 
sampai 31 Juli 2004. Data yang dikumpulkan meliputi umur, jenis kelamin, 
lamanya menjadi guru, lamanya mengajar setiap hari, lama berbicara 
terus-menerus, serta ada tidaknya keluhan kelelahan bersuara. Analisis data 
dilakukan dengan menghitung persentase (%) dari masing-masing faktor. Hasilnya 
disajikan dalam bentuk tabel dan grafik.





Hasil

Jumlah subyek pada penelitian ini 51 orang. Rata-rata umur responden adalah 
45,3 tahun (termuda 29 tahun dan tertua 60 tahun) dengan perbandingan laki-laki 
dan perempuan sebesar 52,9% : 47,1%. 



Gambar 1. Frekuensi lamanya berprofesi sebagai guru



Sebagian besar responden (86,3%) telah mengajar lebih dari 10 tahun, 13,7% 
responden telah mengajar 5-10 tahun dan tidak satupun yang mengajar kurang dari 
5 tahun (gambar 1). Dari segi lamanya mengajar setiap hari, 28 orang (54,9%) 
mengajar lebih dari 4 jam dalam sehari, 22 orang (43,1%) mengajar antara 2-4 
jam dan hanya 1 orang (2%) yang mengajar kurang dari 2 jam (gambar 2). Bila 
diamati lamanya berbicara di kelas secara terus menerus, 17 (33,3%) responden 
berbicara terus menerus < 1 jam, 19 (37,3%) antara 2-3 jam dan 15 (29,6%) lebih 
dari >3 jam (gambar 3).



Gambar 2. Frekuensi lama mengajar setiap hari



Gambar 3. Frekuensi lama berbicara terus menerus di dalam kelas



Kelelahan bersuara timbul pada 44 (86,3%) responden. Keluhan terbanyak yang 
dirasakan oleh responden adalah campuran beberapa keluhan sebanyak 43,1%, 
turunnya volume suara ditemukan pada 15,7% responden dan suara serak pada 11,8% 
responden (gambar 4). Frekuensi keluhan kelelahan bersuara yang dirasakan oleh 
responden cukup bervariasi. Frekuensi 1-3 kali didapatkan pada 20 (45,5%) 
responden, frekuensi 4-6 kali sebanyak 6 (13,6%), sedangkan yang frekuensinya 
lebih dari 6 kali sebanyak 18 (40,9%) responden (gambar 5).



Gambar 4. Distribusi keluhan kelelahan bersuara





Gambar 5. Distribusi frekuensi keluhan kelelahan bersuara

Komplikasi dapat berupa gangguan suara menetap selama beberapa hari sampai 
beberapa minggu sehingga responden harus berobat ke dokter umum atau spesialis 
THT. Hal ini ditemukan pada 8 responden (18,2%), sedangkan sisanya tidak 
mengeluhkan komplikasi tersebut. Tidak satupun responden yang menyatakan 
pengobatan komplikasi tersebut dengan tindakan operasi.



Diskusi



Menurut Welham et al. (2003), terdapat beberapa mekanisme fisiologis dan 
biomekanis yang mungkin berperan dalam timbulnya kelelahan bersuara, antara 
lain kelelahan neuromuskuler, perubahan viskoelastisitas plika vokalis, 
gangguan aliran darah, regangan non-neuromuskuler, dan kelelahan otot-otot 
pernapasan. Kelelahan neuromuskuler didefinisikan sebagai menurunnya kapasitas 
regangan otot bila dilakukan stimulasi berulang. Pada proses pembentukan suara, 
kelelahan otot-otot intrinsik dan atau ekstrinsik laring berpotensi untuk 
mengurangi kapasitas untuk meregangkan dan menjaga stabilitas plika vokalis. 



Menurut Astrand et al. (2003) kelelahan neuromuskuler dapat terjadi pada otot, 
neuromusculer junction, dan pada jalur syaraf di atasnya. Kelelahan pada otot 
dapat terjadi karena habisnya komponen energi (seperti glikogen dan kreatinin 
posfat) serta menumpuknya asam laktat dalam otot. Kelelahan neuromusculer 
junction terjadi akibat berkurangnya asetilkolin di dalam vesikel atau 
berkurangnya sensitivitas terhadap reseptor asetilkolin pada membran post 
sinaptik (gambar 6). Pada jalur syaraf di atasnya juga dapat terjadi kelelahan 
akibat berkurangnya eksitasi motoneuron dan perubahan input motoneuron dari 
perifer.

Bersuara dalam jangka panjang dapat mengubah komposisi cairan di dalam plika 
vokalis, berupa meningkatnya viskositas dan kekakuan plika vokalis (perubahan 
viskoelastisitas). Hal ini terjadi karena pada saat bersuara akan terjadi 
penguapan cairan dari dalam jaringan akibat peningkatan suhu lokal karena 
pelepasan energi. Hal ini akan mengakibatkan kosistensi cairan menjadi lebih 
kental. Agitasi termal pada molekul jaringan juga akan mengakibatkan lemahnya 
ikatan protein sehingga akhirnya menimbulkan kelelahan viskoelastis. Menurut 
Titze et al. (2003) bahwa perubahan suhu yang terjadi pada plika vokalis saat 
bergetar sangat kecil (0,002-0,0050C), sehingga peningkatan suhu bukan 
merupakan penyebab utama kelelahan bersuara.

Berkurangnya sirkulasi darah terjadi karena vasokonstriksi pembuluh darah 
akibat meningkatnya tekanan intramuskuler selama kontraksi. Pengaruh penurunan 
aliran darah terhadap kelelahan bersuara diduga melalui 2 mekanisme, pertama 
akibat menurunnya jumlah suplai oksigen dan kalori serta terhambatnya 
pembuangan asam laktat yang menimbulkan penurunan kemampuan kontraksi otot. 
Kedua, penurunan aliran darah akan berakibat pada menurunnya kemampuan untuk 
membuang panas dari plika vokalis. Jika panas ini tetap berada di laring, maka 
terjadi peningkatan suhu yang berisiko mengakibatkan kerusakan jaringan laring. 
Menurut Guyton (1997) hambatan aliran darah yang menuju ke otot yang sedang 
berkontraksi mengakibatkan kelelahan otot hampir sempurna dalam 1 menit. Hal 
ini terjadi terutama karena kehilangan suplai makanan dan oksigen.

Paparan mekanis yang berulang terhadap epitel dan lamina propria merupakan 
faktor non-muskuler, termasuk ligamen dan kartilago. Hal ini masih kontroversi 
karena belum ada data penelitian yang mendukung.

Kelelahan otot-otot pernapasan akan berakibat pada menurunnya kapasitas tekanan 
subglotis, sehingga dapat mengakibatkan kelelahan bersuara. Kapasitas vital 
yang dibutuhkan untuk berbicara normal adalah 50% dari kapasitas paru-paru 
normal, sedangkan untuk bernyanyi dibutuhkan 100% dari kapasitas paru-paru. Hal 
ini menunjukkan bahwa kelelahan bersuara akibat mekanisme ini bergantung kepada 
jenis pekerjaan seseorang, kebiasaan latihan fisik dan kesehatan paru-parunya 
(Welham, 2003).


Faktor-faktor Risiko Kelelahan Bersuara 
Beberapa faktor diduga dapat mempercepat timbulnya kelelahan bersuara seperti 
umur, kesalahan pengguanan suara, penurunan fungsi paru, gangguan pernapasan 
dan lain-lain (tabel 1). Menurut Honocodeevar-Bolteazar (2000), umur secara 
sistematis dapat mengurangi kemampuan fisiologis sesorang dan berubahnya 
komposisi jaringan tubuh (atropi plika vokalis) sehingga dapat mempermudah 
terjadinya kelelahan bersuara.

Penurunan fungsi paru dan gangguan pernapasan mempengaruhi kapasitas vital 
paru-paru sehingga mengurangi kemampuan membentuk tekanan subglotis yang 
adekuat. Kesalahan penggunaan suara terutama dapat berakibat pada kerusakan 
struktur epitel dan lamina propria plika vokalis yang berakibat mudahnya 
terjadi kerusakan pada lapisan tersebut.






Diagnosis Kelelahan Bersuara
Diagnosis kelelahan bersuara dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, 
pemeriksaan klinis dan pemeriksaan suara obyektif. Pada anamnesis yang perlu 
ditanyakan adalah keluhan penderita dan riwayat penggunaan suaranya. 
Keluhan-keluhan yang dapat timbul pada penderita kelelahan bersuara dapat 
dilihat pada tabel  2. Biasanya keluhan tersebut akan bertambah berat bila 
dipaksakan terus bersuara.




Pencegahan Kelelahan Bersuara
Penggunaan suara yang berlebihan merupakan faktor yang paling sering 
mengakibatkan kelalahan bersuara, sehingga diperlukan kesadaran dari individu 
yang bersangkutan terhadap pengaturan penggunaan suaranya sendiri. Asosiasi 
guru universitas kanada (2004), menyarankan beberapa hal yang boleh dilakukan 
dan tidak boleh dilakukan dalam mencegah timbulnya kelelahan bersuara, seperti 
terlihat pada tabel di bawah ini.

Beberapa peneliti menyarankan untuk meminum air pada setiap beberapa saat 
setelah berbicara (hydrations precautions). Solomon et al. (2003), membuktikan 
bahwa pada laki-laki yang meminum air akan dapat membaca dengan kualitas suara 
yang baik dalam waktu yang lebih lama dibandingkan orang yang tidak diberi 
minum air. Penelitian ini dilakukan dengan desain RCT dan hasil yang diperoleh 
adalah didapatkan perbedaan bermakna pada kedua kelompok perlakuan. Penelitian 
yang dilakukan oleh Yiu et al. (2003) juga mendapatkan hal yang sama, tetapi 
penelitian dilakukan pada penyanyi karaoke amatir.

Istirahat bersuara merupakan salah satu teknik untuk mengistirahatkan 
organ-organ pembentuk suara. Yiu et al. (2003) melaporkan bahwa pada subyek 
yang diberi istirahat 1 menit setiap selesai menyanyikan satu lagu, mampu 
bernyanyi rata-rata selama 101 menit sedangkan yang tidak diberi istirahat 
hanya mampu bernyanyi selama 86 menit. Secara statistik perbedaan tersebut 
bermakna (p<0,05). 

Faktor-faktor lain yang menjadi faktor risiko terjadinya kelelahan bersuara 
juga harus diperhatikan (tabel 1). Penggunaan alkohol, merokok, dan obat-obatan 
tertentu sebaiknya dihindari karena dapat mempengaruhi kondisi dipermukaan 
plika vokalis.






Terapi Kelelahan Bersuara 
Setelah diagnosis ditegakkan, Lundy (1999) dan Welham (2004) menyarankan 
beberapa pendekatan untuk penatalaksanaannya. Pertama, terapi suara yang 
mengandung komponen utama berupa edukasi pada pasien terhadap dasar anatomi dan 
fisiologi produksi suara. Pasien harus mengerti hubungan antara gangguan suara 
dan penyebabnya sehingga pasien lebih menyadari apa yang boleh dilakukan dan 
apa yang dihindari. Kedua, konservasi suara yang prinsipnya lebih praktis dan 
realistis dibandingkan terapi suara. Caranya adalah dengan mengurangi 
penggunaan suara atau istirahat bersuara yang bertujuan mengurangi udem 
jaringan. Perlu juga mengurangi sumber penyalahgunaan suara dan menggunakan 
alat pengeras suara. 

Terapi tingkah laku suara ditujukan untuk meningkatkan aspek teknik penggunaan 
suara termasuk pernapasan perut, latihan penggunaan tinggi nada dan intensitas 
yang benar, meningkatkan phrasing dan teknik-teknik spesifik lainnya. Welham 
(2004) pada penelitiannya mendapatkan bahwa pada penyanyi yang dilatih selama 3 
bulan akan mengalami penurunan serangan kelelahan bersuara secara bermakna 
dibandingkan sebelum dilatih. 

Terapi medikamentosa terutama ditujukan untuk mengurnagi udem jaringan. Hal ini 
dapat dilakukan dengan pemberian obat-obat anti inflamasi seperti steroid atau 
non steroid. 


Dampak Kelelahan Bersuara
Menurut Yiu (2001) terdapat berbagai dampak yang mungkin timbul akibat 
kelelahan bersuara, yaitu dampak terhadap kualitas hidup dan kelainan permanen 
pada laring. Hal ini biasanya terjadi setelah kelelahan bersuara timbul 
berulangkali. Dampak kualitas hidup terutama terjadi akibat ketidakmampuan 
penderita untuk berbicara terus-terus menerus dalam beberapa menit sampai 
beberapa  jam, sehingga hal ini dapat mengganggu pekerjaannya, sosialisasi 
dengan masyarakat sekitarnya dan berdampak juga secara ekonomis baik secara 
langsung maupun tidak langsung.

Dampak terhadap struktur laring terutama terjadi pada lapisan epitelial dan  
lamina propria. Kelainan yang tejadi pada lapisan epitelial biasanya berupa 
edema yang dapat berlanjut menjadi vokal nodul. Kelainan pada lamina propria 
dapat terjadi akibat adanya penumpukan cairan atau darah yang dapat berlanjut 
menjadi kista atau polip. Jika keadaan ini terjadi maka diperlukan 
penatalaksanaan yang sesuai. 



Pembahasan

Kelainan suara yang persisten seringkali diawali dengan kesalahan penggunaan 
suara. Walaupun faktor-faktor lain seperti kurangnya minum, adanya refluks 
gastroesofageal, peningkatan umur juga dapat mempengaruhi kualitas suara, namun 
dari beberapa penelitian, kesalahan penggunaan suara merupakan faktor utama. 
Pada tahap awal kesalahan penggunaan suara akan mengakibatkan timbulnya 
kelelahan bersuara. Keadaan ini dapat timbul berulang-ulang tanpa disadari oleh 
penderitanya sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya kelainan permanen 
pada laring. Hal terpenting dalam mengurangi risiko tersebut adalah dengan 
mengenali dan mengetahui patofisiologi bagaimana timbulnya kelelahan bersuara 
tersebut. Apabila telah dapat mengenali dan mengetahui kelainan tersebut, maka 
selanjutnya diharapkan kelainan tersebut dapat dicegah dan ditangani sesuai 
dengan patofisiologinya.

Dalam kehidupan sehari-hari, sekitar 75% pekerjaan dijalankan dengan 
memanfaatkan suara/pembicaraan, apalagi pada bidang-bidang yang menggunakan 
suara sebagai modal utama dalam pekerjaannya seperti guru, penyanyi, penyiar, 
costumer service dan lain-lain. Hal ini sejalan dengan perkembangan kebutuhan 
manusia sehingga semakin banyak orang-orang yang berisiko untuk menderita 
kelelahan bersuara.

Kelelahan bersuara merupakan kelainan yang kompleks yang dipengaruhi oleh 
banyak faktor dan melibatkan banyak organ. Gejala yang timbul pada kelelahan 
bersuara adalah menurunnya kualitas suara yang dapat dinilai berdasarkan 
persepsi/keluhan penderita maupun dengan pemeriksaan obyektif. Pada tabel 1 
ditunjukkan bahwa terdapat beberapa hal yang dapat mempercepat timbulnya 
kelelahan bersuara melalui berbagai mekanisme.

Menurut Welham et al. (2003), terdapat 5 faktor yang bertanggung jawab terhadap 
tejadinya kelelahan bersuara, antara lain kelelahan neuromuskuler, peningkatan 
viskoelastisitas plika vokalis, berkurangnya sirkulasi darah, regangan jaringan 
non-muskuler dan kelelahan otot-otot pernapasan. Untuk pencegahan dan 
penatalaksanaannya didasarkan pada ke-5 hal tersebut. 

Untuk mengurangi kelelahan otot-otot intrinsik dan ekstrinsik laring sebaiknya 
dilakukan istirahat bersuara setelah berbicara secara terus menerus selama 17 
menit atau setelah membaca selama 35 menit. Hal ini memberikan kesempatan untuk 
beristirahatnya otot-otot tersebut sehingga asam laktat tidak terlalu banyak 
menumpuk. 

Peningkatan viskoelastisitas diakibatkan oleh menguapnya cairan dari permukaan 
plika vokalis atau berkurangnya sekresi cairan, sehingga untuk mencegahnya 
dilakukan minum air secukupnya setiap beberapa saat selama berbicara. 
Bahan-bahan dehidran dapat mengakibatkan berkurangnya cairan dari permukaan 
plika vokalis atau mengurangi sekresi cairan. Alkohol banyak digunakan di 
daerah dingin untuk meningkatkan suhu tubuh, tetapi akibatnya adalah terjadi 
penguapan cairan dari dalam tubuh, termasuk laring. 

Penggunaan antistamin mempunyai efek anitkolinergik yang mengakibatakan syaraf 
parasimpatis lebih menonjol dibandingkan simpatis sehingga mengakibatkan 
sekresi cairan semaikn berkurang. Obat-obat dekingestan mengakibatkan 
vasokonstriksi pembuluh darah yang mengakibatkan sekresi cairan menurun, 
sedangkan diuretik mengakibatkan hilangnya cairan dari tubuh sehingga 
viskositas menjadi meningkat.

Berkurangnya aliran darah ke laring diakibatkan oleh kontraksi otot-otot 
larings sehingga menyebabkan vasokontsriksi. Hal ini juga dapat dihindari 
dengan bersitirahat berbicara atau menyela beberapa kalimat dengan memberi 
jarak waktu tertentu (pausing). Regangan non-muskuler juga dapat dihindari 
dengan cara yang sama. Hal ini sesuai dengan anjuran asosiasi guru Univeritas 
Kanada seperti pada tabel 3.

Kelelahan otot-otot pernapasan terutama akan mempengaruhi kapasitas vital 
paru-paru yang berperan dalam membentuk tekanan subglotis. Hal ini dapat 
dicegah dengan melakukan latihan fisik maupun latihan teknik bersuara atau 
bernyanyi. Dapat juga dilakukan beberapa anjuran dari asosisiasi guru 
Universitas Kanada seperti pada tabel 3.

Akhirnya dengan beberapa langkah di atas dapat dilakukan pencegahan terhadap 
berlanjutnya kondisi tersebut. Dampak yang terjadi dapat mempengaruhi kualitas 
hidup maupun risiko terjadinya kelainan patologis permanen pada laring.



Kesimpulan

Patofisilogi terjadinya kelelahan bersuara diduga akibat kelelahan 
neuromuskuler, gangguan viskositas plika vokalis, gangguan aliran darah, dan 
kelelahan otot-otot pernapasan. Penatalaksanaannya didasarkan pada 
patofisiologi tersebut, terdiri dari terapi suara, konservasi suara, latihan 
bersuara dan terapi medikamentosa.



Kepustakaan

Abdoerachman H. Foniatri di bidang THT. Kumpulan Abstrak Konas THT-KL. Bali, 
2003:106.

Astrand P, Rodahl K, Dahl HA, Stromme SB. Fatigue. In Text Book of Work 
Physiology 4th ed. Human Kinetik 2003:453-477.

Atmosoewarno S. Peran indera pendengar dalam kehidupan manusia. Kumpulan 
Makalah Seminar Pendengaran pada Usia Lanjut Dalam Rangka Purna Tugas Prof. DR. 
Dr. Soewito SpTHT-K. Jogjakarta 2003. 

Bailey BJ. Upper airway anatomy and function. In Otolaryngology Head Neck 
Surgery 2nd ed. Mosby. New York 1998.

Canadian Association of University Teachers. Voice Dysfunction. Occupational 
Health and Safety Bulletin 2004;4:31-32.

Carlson E, Miller D. Aspect of voice quality: display, measurment and therapy. 
Int J Language comm diss 1998;33:304-309.

Chan RW, Gray SD, Titze IR. The importance of hyaluronic acid in vocal fold 
biomechanic. Otolaryngol Head Neck Surg 2001;124:607-614.

Dinas Pendidikan Nasional. Data jumlah guru sekolah SD dan SMP negeri dan 
swasta se-Indonesia tahun 2001/2002. http//www.diknas.go.id.

Forcin A, McGlashan J, Huckvale M. The generation and reception of speech. In 
Basic Science. In Kerr AG eds. Scott-Brown Otolaryngology 6th ed. 
Butterworth-Heinemann 1997.

Gotaas C, Starr CD. Vocal fatigue among teachers. Folia Phoniatricia et 
Logopedica 1993;145:120-129.

Guyton AC, Hall JE. Kontraksi otot rangka. Dalam Setiawan I eds. Buku Ajar 
Fisiologi Kedokteran 9th ed. EGC 1997:62-107.

Guyton AC, Hall JE. Fisiologi olahraga. Dalam Setiawan I eds. Buku Ajar 
Fisiologi Kedokteran 9th ed. EGC 1997:1339-1354.

Honocodeevar-Bolteazar I, Zorgi M. Voice quality after radiation therapy for 
early glottic cancer. Arch Otolaryngol 2000;126:1097-1100.

Lundy DS, Casiano RR. Diagnosis and management of hoarseness. Hospital 
Physician 1999; 10: 59-69.

Solomon NP, Glaze LE, Arnold RR, van Mersebergen M. Effect of vocally fatiguing 
task and systemic hydartions on men voices. J Voice 2003;17:31-46.

Titze IR, Svec JG, Popolo PS. Vocal dose measure: quantifying accumulated 
vibration exposure in vocal fold tissue. J Speech language hearing res 
2003;46:922-935.

Welham NV, Maclagan MA. Vocal fatigue: current knowledge future directions. J 
Voice 2003;17:21-30.

Welham NV, Maclagan MA. Vocal fatigue among trained singer across a solo 
performance: preliminary study. Logofed Phoniatr Vocol 2004; 29: 3-12.

Woodson CE, Canito M. Voice analysis. In Cummings CE eds Otolaryngology-Head & 
Neck Surgery.  Mosby 1999.

Yiu EML. Impact and prevention of voice problem in the teaching profesion: 
embrashing the customer views. J Voice 2001;15:275-290.

Yiu EML, Chan RMM. Effect of hydration and vocal rest on vocal fatigue in 
amateurs karaoke singers. J Voice 2003;17:216-227.

Zietel SM, Healy GB. Medical progress of laryngology and phonosurgery. NEJM 
2003;349:882-892.



            
---------------------------------
ALL-NEW Yahoo! Messenger - all new features - even more fun!  

[Non-text portions of this message have been removed]



Dapatkan informasi kesehatan gratis
Mailing List Dokter Indonesia
http://www.mldi.or.id 


Yahoo! Groups Sponsor 
Get unlimited calls to

U.S./Canada


---------------------------------
Yahoo! Groups Links

   To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/dokter/
  
   To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
  
   Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 


                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Yahoo! Mail - You care about security. So do we.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/0iazvD/5WnJAA/xGEGAA/asSolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Dapatkan informasi kesehatan gratis
Mailing List Dokter Indonesia
http://www.mldi.or.id 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/dokter/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke