Yangbanyakdikuatirkanadalahmenurunnyanilaitrombositdarah !!

halmanamerupakan indikasi daripenyakitDBD!!�� dibawahsalahsatupengobatantraditionil ygcukupberhasil !!!!

Angkak dan Trombosit

 

Bulan Oktober 2000 saya terpaksa dirawat sekitar lima hari di RS Harapan di

Depok karena penyakit demam berdarah. Melalui pemeriksaan laboratorium,

nilai trombosit tercatat sekitar 40.000 (dewasa normal sekitar 150.000 ~

450.000). Ini berarti nilai trombosit jauh di bawah kebutuhan manusia normal.

Selama dirawat nilai trombosit hanya berkisara 50.000 ~ 83.000. Saya baru

bisa keluar dari rumah sakit dengan nilai trombosit sekitar 100.000, dan

terpaksa minta pulang karena faktor biaya yang makin besar.

 

Di rumah saya diberitahu seorang pimpinan tempat kerja, Ibu Glorya, untuk

membuat minuman/seduhan angkak (untuk membuat ayam/bebek berwarna merah

seperti beras ketan hitam dan bisa dibeli di toko/warung Cina yang biasa

menjual bakso, tahu, mie, dan lain-lain. Dengan satu sampai dua sendok the

penuh angkak diseduh/dimasak dengan dua gelas air, lalu biarkan menjadi

kira-kira satu gelas. Setelah dingin baru diminum.

 

Pagi hari saya minum seduhan angkak, siang harinya saya pergi ke

laboratorium untuk pemeriksaan trombosit. Perkiraan saya, paling-paling

trombosit naik maksimal 200.000-an karena melihat selama di rumahsakit

perbedaannya tidak mencolok. Ternyata trombosit saya mencapai 432.000.

Akhirnya saya sehat kembali. Padahal itu baru satu kali minum seduhan

angkak saat akan periksa ke laboratorium.

 

Pengalaman ini mungkin bermanfaat bagi penderita demam berdarah,

atau sekadar untuk diketahui.

 

Meisoebiakto (Sitoto)

Jl. Pemuda, Depok Lama

Kampung Bojongjati RT 03/16

Kotamadya Depok

(021) 7762 972

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Prof.Dr.Ir. Srikandi Fardiaz, dkk. (Fakultas Teknologi Pertanian, IPB).

Dalam usaha mencari bahan pewarna alami untuk menggantikan pewarna sintesis

pada makanan telah dilakukan penelitian tentang "Produksi Pigmen Mikroba

Menggunakan Substrat Limbah Industri Pangan". Seleksi mikroba penghasil

pigmen menghasilkan dua spesies mikroba yang potensial yaitu Monascus

purpureus yang memproduksi pigmen angkak merah dan stabil terhadap berbagai

proses pengolahan, serta Neurospora sitophila yang memproduksi pigmen

jingga (orange) tetapi kurang stabil terhadap proses pengolahan.

 

Limbah yang terbaik untuk memproduksi kedua pigmen tersebut adalah Limbah cair

tapioka untuk pigmen Monascus purpureus dan limbah padat tapioka untuk

Neurospora sitophila, masing-masing dengan penambahan berbagai sumber

karbon dan mineral. Hasil uji toksisitas menunjukkan pigmen angkak cukup

am! an untuk digunakan dalam makanan, dapat mengurangi penggunaan nitrit

dalam memperbaiki warna merah daging olahan seperti sosis dan ham daging

sapi, serta menghambat pertumbuhan bakteri patogen dan perusak berspora

seperti Bacillus cereus dan B. stearothermophilus

 

Sumber: http://www.dikti.org/p3m/phb.htm

 

 

 

 

 





--
http://ketawa.com/



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT


Yahoo! Groups Links

Kirim email ke