|
|
TEROR
Matius
27: 20 - 26
"Jika
begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus yang disebut
Kristus?" Mereka semua berseru: "Ia harus disalibkan!" (Mat.
27: 22)
Teror bisa terjadi di
mana-mana. Pada tahun 2004, beberapa kali terjadi teror bom, baik di Jakarta maupun di daerah. Orang-orang sederhana yang tidak tahu menahu
persoalannya menjadi korban. Bukan hanya karena korban yang menderita dan
harus dirawat di rumah sakit, cacat ataupun meninggal dunia dan keluarga
mengalami kedukaan, tetapi lebih lagi karena trauma yang timbul tidak mudah
disembuhkan dan bisa menyebabkan sakit jiwa. Ulah siapa semua itu? Siapa
yang harus bertanggung jawab?
Pada jaman Tuhan Yesus, Pemerintah pada waktu itu juga mengalami teror.
Pontius Pilatus karena mengetahui secara benar bahwa Yesus tak bersalah;
berusaha membebaskan-Nya. Namun ternyata orang banyak sangat mendesak Pilatus. Dengan berbagai cara, Pilatus mencoba menyadarkan rakyat akan adanya bahaya yang lebih besar dalam
diri seorang terpidana. Ketika Pilatus menawarkan untuk melepaskan salah
seorang terhukum sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada hari raya waktu
itu, rakyat tetap memilih Yesus disalibkan. Rakyat lebih rela membebaskan
Barabas si penjahat ulung. Teror membuat Pilatus menjadi kecut hati. Ia yang memiliki prinsip akhirnya goyah dan
"terhanyut" oleh keinginan masa. Ketegangan terjadi dan berakhir
dengan Yesus menjadi korban kekejaman yang tragis.
Bagaimana menyikapi hal seperti ini? Tidak ada ajaran yang secara eksplisit
diungkapkan oleh Alkitab. Namun Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk menjadi
"pelayan". Pelayan yang tidak mengejar kedudukan, tidak melekat
pada uang, tidak melekat pada kuasa.
Refleksi:
Apakah
yang kita utamakan? Mengejar kepentingan-kepentingan
kita
ataukah melayani Dia?
|