Note: forwarded message attached.
"Faith makes all things possible.. Hope makes all things work.. Love makes all things beautiful.."
Yahoo! Mail
Stay connected, organized, and protected. Take the tour
================================================
Sampai disini Tuhan menolong kita (1 Sam 7:12)
================================================
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "eben-net" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
--- Begin Message ---
Ternyata ada orang Indonesia yang berprestasi dalam kiprah internasional.
Ini menjadi tonikum bagi kita agar kita tidak cepat patah semangat. Amin.
Raih profesor dan 4 gelar doktor sekaligus
(27 Juni 2005 02:21) , ditulis oleh Sumatera Ekspres
Ken Soetanto, asli Surabaya bergaji Rp. 12 miliar per bulan di Jepang
JAKARTA- Prestasi membanggakan ditorehkan Prof. Ken Soetanto. Warga
Surabaya ini menggondol gelar profesor dan empat doctor selama
bertahun-tahun mengabdikan hidupnya di Jepang. Hebatnya lagi, prestasi
akademiknya tersebut diakui di Jepang dan AS dengan menjadi profesor di
usia 37 tahun.
Pada 1988-1993, Soetanto yang juga direktur Clinical Education and Science
Research Institute (CERSI) ini menjadi associate professor di Drexel
University dan School Medicine at Thomas Jefferson University,
Philadelphia, USA. Ia juga pernah tercatat sebagai profesor di Biomedical
Engineering Program University of Yokohama (TUY).
Saat ini pria beristri juga perempuan Surabaya ini tercatat sebagai
prosefor di almameternya, School of International Liberal Studies (SILS)
Waseda University, dan profesor tamu di Venice International University,
Italia.
Gelar itu dirangkap dengan jabatan wakil dekan di Waseda University.
Kemampuan otak pria kelahiran 1951 ini sungguh brilian karena mampu
menggabungkan empat disiplin ilmu berbeda. Itu terungkap dari empat gelar
doktor yang diperolehnya. Yakni, bidang Applied Electronic Engineering di
Tokyo Institute of Technology, Medical Science dari Tohoku University, dan
Pharmacy Science di Science University of Tokyo. Yang terakhir adalah
doktor bidang ilmu pendidikan di almamater sekaligus tempatnya mengajar
Waseda University.
''Saya sungguh menikmati dengan pekerjaan sebagai akademisi,'' tutur
Soetanto dalam wawancara khusus dengan koran ini di President University,
Jababeka Education Park, Cikarang, Jawa Barat, Sabtu lalu. Soetanto
kebetulan berada di Indonesia untuk mendampingi Dr. Kotaro Hirasawa (dekan
Graduate School Information Production & System Waseda University) dan
Yukio Kato (General Manager of Waseda University) dalam penandatanganan MoU
antara President University dan Waseda University. President University
adalah institusi perguruan tinggi berbasis kurikulum bertaraf
internasional yang berlokasi di tengah-tengah sekitar 1.040 perusahaan di
kawasan industri Jababeka, Cikarang. Sebagian mahasiswa President
University berasal dari Cina, Vietnam, dan Jepang.
Di luar status kehormatan akademik itu, Soetanto juga masuk birokrasi di
Negeri Sakura. Pria yang pernah berkawan dengan mantan presiden RI BJ
Habibie ini ini tercatat sebagai komite pengawas (supervisor committee) di
METI (Japanese Ministry of Economy, Trade, and Industry atau semacam Menko
Perekonomian di RI). Selain itu juga ikut membidani konsep masa depan
Jepang dengan menjadi Japanese Government 21st Century Vision.
''Pada jabatan tersebut saya berpartisipasi langsung menyusun GBHN
(kebijakan makro)-nya Jepang,'' tutur Soetanto yang masih fasih berbahasa
Indonesia dan Jawa berlogat Suroboyoan ini. Buah pemikiran Soetanto yang
terkenal adalah konsep pendidikan "Soetanto Effect" dan 31 paten
internasional yang tercatat resmi di pemerintah Jepang.
Dan, mau tahu berapa Soetanto digaji? Jumlahnya sangat mencengangkan untuk
ukuran akademisi bergelar profesor atau mereka yang pernah menduduki
jabatan tertinggi di perguruan tinggi (rektor). Kementerian Pendidikan
Jepang mengganjar Soetanto dengan gaji US$ 15 juta (Rp 144 miliar) per
tahun. Sungguh "perhatian" dari pemerintah yang luar biasa!
Di antara segudang prestasi itu, bisa jadi yang paling membanggakan,
khususnya bagi warga Surabaya, adalah latar belakang sekolah dasar dan
menengahnya yang ternyata dihabiskan di kota buaya. Soetanto muda
mengenyam pendidikan di SD swasta di Kapasari, SMP Baliwerti, dan SMA
Budiluhur yang dulu menjadi jujugan sekolahan warga keturunan Tionghoa.
Kritik pendidikan RI
Seusai menandatangani MoU, Soetanto memberikan ceramah akademik popular di
hadapan ratusan mahasiswa PresidentUniversity. Isi ceramahnya menarik
perhatian mahasiswa bahkan beberapa jajaran direksi PT Jababeka, termasuk
Dirut PT Jababeka Setyono Djuandi Darmono. Maklum, Soetanto membeber
pengalamannya bisa "menaklukkan" dunia perguruan tinggi Jepang kendati
dirinya hingga sekarang masih berkewarganegaraan Indonesia. Apalagi,
dirinya berasal dari Kota Surabaya yang nyaris tak diperhitungkan di dunia
akademisi Jepang.
Selebihnya, Soetanto banyak mengkritisi sistem pendidikan di Indonesia
yang perlu dibenahi untuk menghasilkan produk berkualitas. ''Sistem
pendidikan di sini Indonesia) sudah tertinggal jauh bahkan di bawah
Malaysia dan Vietnam,'' jelas Soetanto dengan gaya bicara berapi-api.
Yang ironis, penghargaan terhadap staf pengajar atau guru di Indonesia juga
sangat kurang. Soetanto lantas mencontohkan kecilnya gaji guru yang
memaksa mereka harus bekerja sambilan.
''Dan, karena faktor tersebut jangan heran bila banyak ilmuwan Indonesia
mencari penghasilan di luar negeri,'' pungkas Soetanto. Kendati demikian,
pria berkaca mata ini awalnya belajar ke Jepang bukan untuk semata-mata
untuk mengejar materi alias duit. (red)
[Non-text portions of this message have been removed]
This e-mail and attachments (if any) is intended only for the addressee(s)
and is subject to copyright. This email contains information which may be
confidential or privileged. If you are not the intended recipient please
advise the sender by return email, do not use or disclose the contents and
delete the message and any attachments from your system. Unless
specifically stated, this email does not constitute formal advice or
commitment by the sender or Colliers International or any of its
subsidiaries.
Colliers International respects your privacy. Our privacy policies can be
accessed by clicking here: http://www.colliersmn.com/privacy
--- End Message ---
