---------- Forwarded message ----------
From: Steph <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Sep 29, 2005 9:00 AM
Subject: [terangdunia] Gus Dur: Tuhan Tidak Perlu Dibela
To: Terang Dunia <[EMAIL PROTECTED]>, Pengerja PDM < [EMAIL PROTECTED]>

Gus Dur: Tuhan Tidak Perlu Dibela


Tuhan Tidak Perlu Dibela


Satu Tahun The Wahid Institute
Tuhan Tidak Perlu Dibela


Jakarta, KCM


Tuhan tidak perlu dibela. Adagium ini pasti penuh polemik dan nyaris tidak
populer di tengah fenomena maraknya aksi radikalisme atas nama agama.
Namun, gagasan itulah yang diusung KH Abdurrahman Wahid yang akrab disapa
Gus Dur. Adagium ini merefleksikan ruh keberagamaan yang sangat dalam.


Kata Gus Dur, pembelaan terhadap kemanusiaan lebih penting daripada
pembelaan terhadap Tuhan, sebab Tuhan yang mahakuasa tidak membutuhkan
pembelaan manusia. Pembelaan terhadap Tuhan mengingkari kemahakuasaan
Tuhan yang kemahaannya mengatasi alam semesta.


Demikian refleksi perayaan satu tahun The Wahid Institute yang dirayakan
secara sederhana di kantor barunya Jl Taman Amir Hamzah No 8, Jakarta,
Senin (26/9).  Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid atau Yenny Wahid,
Direktur The Wahid Institute, memotong tumpeng dan memberikannya kepada
ayahnya, Gus Dur, pendiri The Wahid Institute.


Setelah itu puluhan kerabat Gus Dur yang hadir dalam acara tersebut
menikmati santap siang yang dilanjutkan dengan acara diskusi "Use and
Abuse of Jihad of Moslem World". Hadir dalam perayaan tersebut antara lain
Budayawan Mohamad Sobari, tokoh Konferensi Waligereja Indonesia Romo Benny
Susetyo, Pemimpin Umum Harian Kompas Jacob Oetama, aktivis Budiman
Soedjatmiko, dan sejumlah politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa.


The Wahid Institute yang diluncurkan secara resmi pada tanggal 7 September
2004 di Hotel Four Seasons, Kuningan, Jakarta, bertujuan mewujudkan
prinsip-prinsip dan cita-cita intelektual Abdurrahman Wahid membangun
pemikiran Islam moderat yang mendorong terciptanya demokrasi, pluralisme
agama-agama, multikulturalisme dan toleransi di kalangan kaum Muslim di
Indonesia dan seluruh dunia.


Yenny Wahid dalam kata sambutannya mengatakan, adagium "Tuhan tidak perlu
dibela" mereflesikan semangat The Wahid Institute membangun ruh
keberagamaan yang memanusiakan manusia. Agama adalah inspirasi untuk
membangunan tatanan masyarakat yang beradab. Agama yang meminggirkan
manusia adalah agama yang mengingkari dirinya sendiri.


Untuk itu, The Wahid Institute meyakini, ucap Yenny, pembelaan terhadap
kemanusiaan merupakan esensi tertinggi dari agama. Agama dihadirkan ke
dunia ini adalah untuk membela harkat dan martabat kemanusiaan. "Oleh
karena itu, gerakan politik atau gerakan apapun tidak mempunyai makna jika
dia tidak merefleksikan pembelaan atas kemanusiaan tersebut," ujar dia.


Pembelaan atas kemanusiaan, tambahnya, tidak hanya merupakan spirit Islam,
tapi juga spirit semua agama. Terkait dengan pemahaman itu, adagium Gus
Dur yang lain yang dipajang dalam bentuk pamflet di kantor The Wahid
Institute berbunyi "Dalam tujuan saya sama dengan Gereja yaitu melayani
kemanusiaan meskipun berbeda keyakinan."


Tapi, dalam konteks Indonesia sekarang ini, keyakinan Gus Dur seperti
nyanyi sunyi di padang sepi. Kekerasan atas nama agama menafikan
nilai-nilai kemanusiaan. Atas nama Tuhan mereka yang dianggap berbeda
dimusuhi, rumah mereka dirusak, dan tempat ibadah mereka dihancurkan.


Gus Dur dalam kata sambutannya mengungkapkan, kekerasan atas nama agama
disebabkan oleh pemahaman yang tidak utuh atas agama itu sendiri. Ia
berharap, The Wahid Institute dapat memberikan sumbangan yang berarti
dalam membangun wajah Islam yang humanis.



Penulis:                   Heru Margianto










================================================
Sampai disini Tuhan menolong kita (1 Sam 7:12)
================================================




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke