Yang tidak punya waktu untuk merenung sebaiknya tidak baca email ini. Thanks
Dear all, Sedih ya... Begitu rentannya manusia Indonesia saat ini (ini memang menggunakan term general), coba saja berita detik.com <http://detik.com/> pagi ini (25 Oktober 2005). Yang pasti gara-gara BBM naik, terus diikuti kenaikan Harga kebutuhan pokok dan lain-lain, maka penderita stress dan depresi jadi meningkat. Wuih begitu rentankah..? Bahkan beberapa waktu lalu diberitakan seorang ayah tega mencekik anak tirinya hanya gara-gara si anak tidak mau makan dan kepikiran membiayai persalinan istri. Apakah masyarakat kita sudah sakit? Saya hanya berasumsi bahwa budaya konsumerisme dan globalisasi yang cenderung materialistik seolah-olah telah menjadi suatu alat yang sangat ampuh untuk merekayasa masyarakat, coba saja lihat perubahan yang sangat signifikan dimasyarakat kita saat ini. Dimana-mana orang berhandphone ria, gonta ganti model, dengan berbagai tawaran pulsa yang sangat kompetitif (*bahkan goceng bisa ngisi pulsa*). Kalau kembali ke needs asal, apa iya sih orang harus berkomunikasi lewat handphone, saya berpandangan sampai saat ini, komunikasi langsung dengan tatap muka akan mempunyai banyak arti dan makna daripada menggunakan alat-alat canggih itu (maaf saya bukan anti teknologi canggih). Apa iya, seorang anak SD sudah harus dibekali handphone bila bersekolah dengan asumsi bahwa lebih mudah dihubungi orang tuanya yang sedang sibuk bekerja sewaktu-waktu? Ya, ini baru satu contoh, contoh lainnya adalah bagaimana orang dipaksa untuk 'lebih menikmati' belanja di mal, hyper market, supermarket de el el, dan menjadi sangat enggan untuk berbelanja di pasar becek...Tahukah bahwa ekonomi kelas bawah (para pedagang di pasar becek itu) sangat bergantung kepada pembeli yang masih rela kaki-kakinya belepotan terkena lumpur dan belum lagi proses tawar-menawar yang kadang menjengkelkan. Tentu perubahan budaya ini akan berpengaruh pada masyarakat kita,tetapi apakah sangat berpengaruh-pengaruhnya hanya sedikit atau bagaimana? Satu hal lagi yang ingin saya tambahkan bahwa saya berasumsi ada "hypnotis massal'" yang tengah terjadi dan sudah terjadi. Lewat apa itu? Ya, lewat media televisi!! Dalam teori diajarkan bahw proses repetisi akan menguatkan reaksi, dimana reaksi ini akan menetap dan menjadi permanent behaviour. Lho kok bisa media televisi disalahkan? Kalau pertanyaannya demikian maka bisa dijawab dengan pertanyaan lagi, berapa banyak tayangan di televisi dlam bentuk sinetron yang tidak menyuguhkan mimpi sesaat? apakah proses karbitisasi (baca: pengkarbitan) artis dadakan yang tiba-tiba jadi sohor hanya karena SMS yang dikirim, belum lagi exploitasi penderitaan masyarakat kalangan bawah lewat tayangan reality show. Wuih, wujudnya cuma satu, proses penyihiran masyarakat untuk cepat bermimpi menjadi terkenal dan tersohor, sukses dengan cepat tanpa dibarengi usaha yang gigih dan penuh tantangan. Masyarakat sadar-tidak sadar, suka-tidak suka dipaksa melewati hari-harinya untuk menonton acara hypnotis ini. Akibatnya tertanam dibenaknya bahwa materi menjadi segala-galanya. Kesimpulan akhirnya : TANPA MATERI MATI!!!! Saya tidak sok tidak butuh materi, tetapi saya melihat bahwa bangsa ini sudah mulai melupakan unsur X yang akan ada setiap waktu, yang akan turut mempengaruhi usah-usahanya walaupun sudah demikian keras. Ya.. unsur itu adalah unsur ketuhanan. Bangsa ini mulai lupa Tuhan,bahkan acara-acara yang sering diadakan,apakah zikir akbar dan lain sebagainya tidak luput hanya acara sesaat saja,bagaikan memberi obat penenang, dimana sesudah efek obatnya menghilang yang terjadi adalah gejala putus obat, dengan perilaku yang sulit dikendalikan. Ya, tanpa harus meninggalkan dan menanggalkan teknologi yang demikian majunya, dan perubahan kondisi ekonomi dan lain-lainnya, saya berpendapat bahwa pendidikan moral harus lebih diutamakan. Bukan gaya P4 jaman dahulu, tetapi mulai dari yang paling dasar, penanaman akidah yang benar.Tanpaini,saya melihat akan ada lost generation yang hanya tahu materi tanpa tahu siapa yang memberi. Saya jadi ingat tentang ceritera bagaimana komunis meniadakan Tuhan kepada anak-anak sekolah. Mudah saja, begini caranya, coba pejamkan mata, coba minta kepada Tuhan untuk diberikan coklat, sekarang coba buka mata, adakah coklatnya diberikan Tuhan (Tidak ada.....begitu jawab anak-anak). Nah sekarang minta kepada pak Guru sambil memejamkan mata (Pak Guru minta coklatnya...), sekarang coba buka matanya, ada tidak coklatnya (Ada....). Tadi minta ke Tuhan tetapi tidak diberi, tetapi kalau minta pak Guru langsung diberi.Nah berarti Tuhan ada tidak? (TIDAK...........) Nauzdubillah, inilah distorsi mudah menghilangkan Tuhan dari kecil, yang sekarang ini kembali menjelma lewat jalan lain. Tuhan diduakan dengan MATERI, sehingga TANPA MATERI berarti MATI. Dari yang sedang merenung untuk masyarakat ini. Salam,Syamsul 25 Oktober 2005 -- ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Click here to rescue a little child from a life of poverty. http://us.click.yahoo.com/vWALvA/gYnLAA/EcBKAA/.1VolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ================================================ Sampai disini Tuhan menolong kita (1 Sam 7:12) ================================================ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/eben-net/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
