Christians's Identity (Renungan ini ditulis dengan mengutip sebagian bahan seminar Pdt. Yohan Candawasa dan kotbah Pdt. Paulus Surya yang sangat berkesan bagi penulis) Matius 12:33 Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal. Setelah kerusuhan tahun 1998, banyak mahasiswa dan orang-orang Indonesia yang berada di luar negeri terpaksa berbohong mengenai identitas mereka. Beberapa teman pernah bercerita bagaimana mereka terpaksa berbohong ketika ditanya dari mana asal mereka. Pada umumnya mereka akan menjawab: I'm Malaysian atau I'm Phillipino. Mengapa? Karena mereka merasa malu dengan kerusuhan yang terjadi dan mereka memilih mengaku sebagai orang Malaysia atau Filipina karena secara fisik mirip. Mereka tidak mengaku sebagai orang Australia atau India karena secara fisik memang tidak mirip. Sebenarnya walau secara fisik mirip, sebenarnya ada beberapa ciri lain yang dapat membedakan identitas seseorang misalnya: * Logat bahasa. Seorang hamba Tuhan yang melayani di Australia pernah bercerita bahwa ketika seorang jemaat datang ke gereja, dalam waktu singkat ia bisa mengetahui identitas orang tersebut melalui logat bicaranya. Jawa, sunda, batak, bali masing-masing punya logat bicara yang berlainan. * Atribut. Melalui atribut seperti gaya berpakaian, merk jam tangan, bahkan baunya kita dapat mengenali identitas seseorang. Misal saudara kita yang berasal dari Papua mempunyai bau yang khas. Identitas Kristen Jika bentuk fisik, logat bahasa dan atribut dapat menjadi tanda yang membedakan identitas seorang dengan lainnya, apakah orang kristen memiliki identitas yang khas, yang berbeda dengan orang dunia?. Apakah Salib yang dipasang di tembok rumah atau toko merupakan identitas kristen?. Saya ingat ketika masih kecil orang tua saya (yang waktu itu belum orang percaya) pernah berkata bahwa kalau mencari karyawan, carilah orang kristen karena orang kristen itu jujur. Sementara beberapa bulan yang lalu ketika kami sekeluarga sedang makan di sebuah food court, ada sepasang kekasih yang bukan orang kristen di depan meja kami sedang berpacaran dengan gaya pacaran yang cukup atraktif. (kami tahu mereka bukan orang kristen dari atribut pakaian yang mereka kenakkan). Istri saya rupanya merasa agak terganggu oleh tontonan gratis tsb dan berkomentar: Huh, orang...... kok pacarannya seperti itu. Saudara, kalimat tsb semakin saya renungkan, semakin saya merasa terganggu. Mengapa? Karena dibalik ucapan itu secara tidak sadar ada sebuah pengakuan bahwa orang.....normalnya gaya pacarannya lebih sopan. Hari ini di manakah posisi orang kristen? Apakah masih terkenal sebagai orang yang jujur? Chuck Carlson yang melakukan pelayanan di penjara mengatakan bahwa Christianity is up but morality is down. Inilah sebuah kalimat yang sangat keras menggambarkan keadaan kekristenan masa kini sekaligus seakan-akan bertentangan dengan perkataan Kristus dalam Matius 12:33 yang mengatakan bahwa 'dari buahnya pohon itu dikenal'. Secara sederhana Yesus mengatakan perbuatan dan perkataan kita menunjukkan diri kita sebenarnya. Kebenaran ini dapat dianalogikan dengan pabrik dan produk. Pabrik tahu keluar tahu, pabrik tekstil keluar kain dll. Saudara, buah mangga pasti berasal dari pohon mangga, buah jeruk pasti berasal dari pohon jeruk, simple sekali; jadi dalam konteks ucapan Carlson, kekristenan adalah pohon dan moralitas adalah buahnya. Bukankah ini hal yang aneh, kan seharusnya whenever christianity is up, otomatically morality is up as well?. Kok ini tidak sinkron seperti buah semangka berdaun sirih-nya alm. Broery? Memang harus kita akui ada sebuah jurang yang dalam antara hati Tuhan dengan hati manusia, antara keinginan Tuhan dengan keinginan daging manusia. Lalu apakah berarti ayat di atas keliru? Tidak, karena pada dasarnya bagaimanapun pandainya kita menutupi hati kita yang asli, kita mungkin mampu menipu seribu atau sejuta manusia tapi sekali-kali tidak pernah mampu menipu Yesus. Amin? Lalu bagaimana caranya agar kita dapat hidup konsisten dan hidup apa adanya tanpa memakai topeng yang berlapis-lapis? * Yang pertama, pendidikan dimulai dari anak-anak. Mendidik anak tidaklah mudah, kompleks sampai Hillary Clinton pernah berkata 'it's takes a village' (untuk mendidik anak). Matius 12:33 menyatakan Kekristenan adalah agama yang berorientasi pada pohon (hati) bukan pada buah (perbuatan). Apa yang kita kejar dalam mendidik anak seharusnya adalah proses pembentukan hati/pohon bukan hasil/buah. Hanya saja proses membutuhkan waktu yang lama sedangkan buah bisa instant. Satu ciri pendidikan hati adalah dengan bertanya 'why' bukan 'how' ketika menghadapi masalah. Contoh misal ketika raportnya jelek, kita seharusnya bertanya kenapa kok jelek, apa sebabnya? Kita mencari tahu dengan mencari penyebabnya terus sampai ke akar masalahnya, bukan sekedar bagaimana agar raportmu bagus. Raport adalah buah dan anak adalah pohon. Kalo sekedar bermain pada level buah gampang, kita les-kan anak 10 kali seminggu pasti raportnya bagus atau kalo anaknya sudah besar kita katakan: kalo semester depan ada nilai merah lagi, keluar dari rumah ini, wah si anak gemetaran dan belajar keras. Tapi apa motivasinya berubah? Karena takut diusir sehingga buahnya berubah tapi pohonnya tetap sama. Saudara, ketika buahnya jelek maka pasti ada yang tidak beres pada pohonnya, kita fokus untuk memperbaiki pohonnya bukan memoles buahnya. Jangan-jangan raportnya jelek karena kebanyakan main PS dan dia main PS karena melihat kita tiap hari main PS dan dia hanya meniru kita. Siapa yang salah kalo gini, siapa yang harus ditegur? Anak atau bapaknya?. Siapa yang harus berubah pertama kali? Ya bapaknya dulu. * Yang kedua, bagi kita semua yang sudah dewasa jelas lebih sulit karena karakter kita dalam batasan tertentu sudah mengkristal. Kalau diilustrasikan dengan kue lapis maka saya yang saudara lihat sekarang ini adalah lapis pertama. Jadi lapis pertama adalah apa yang saya tampilkan di luar, yang saya ingin saudara lihat pada diri saya. Nah, lapis kedua yang boleh lihat siapa? Biasanya orang rumah bukan, istri, pembantu, supir. Lapis ketiga siapa yang boleh tahu? Ya cuma diri sendiri, Tuhan dan setan, lapis keempat hanya Tuhan dan setan yang tahu, kitapun tidak tahu. Ketika pacaran kita cenderung melihat yang baik dari pasangan kita, setelah menikah baru kita kaget-kaget tahu pasangan kita yang sebenarnya walau baru lapis kedua. Saudara pada suatu malam yang bersalju ada sepasang pastor dan suster yang tersesat dan kemalaman di jalan. Di tengah kebingungan mereka melihat sekilas cahaya dari sebuah motel. Akhirnya mereka memutuskan untuk bermalam di motel tsb tetapi malang ternyata hanya tersisa sebuah kamar dengan sebuah tempat tidur. Dengan jiwa besar pastor berkata: suster, silahkan tidur di ranjang, saya akan tidur di kantong tidur. Begitu merebahkan badannya sang suster berkata: pastor rasanya dingin sekali. Dengan penuh kasih pastor bangkit dan menyelimuti suster. Begitu pastor membalikkan badan, suster berkata: pastor rasanya masih dingin. Kembali pastor mengambil sebuah selimut dan menyelimuti suster. Kali ini sebelum pastor membalikkan badan suster memanggil: pastor...dengan menghela nafas pastor berkata: masih dingin kan? Sang suster tidak menjawab hanya mengangguk. Pastor berkata: suster, tempat ini jauh dari mana-mana dan tidak ada yang kita kenal. Maukah jika kita berlaku seperti suami-istri malam ini saja? Suster menjawab: ya...kalau untuk malam ini saja saya setuju. Pastor berkata dengan nada marah: elu ya sekali lagi ngomong dingin, ambil sendiri tuh selimut. Bawel amat sih, lu nggak tau gua capek, besok masih banyak kerjaan. Saudara, inilah realita kehidupan suami-istri bukan? Kenapa kita bisa kasar pada pasangan kita? Kan orang sendiri sehingga kita merasa aman untuk menunjukkan diri kita yang asli. Inilah lapis kedua dari kue lapis hati kita. Untuk membuang lapisan kedua, ketiga dan keempat bukan masalah mudah dan hanya melalui pergumulan yang berat bersama Roh Kudus secara terus menerus yang dapat merubah karakter kita. Ini bukan sesuatu yang instan dan cepat. Ketika karakter kita sudah mengkristal dan membatu tidak ada jalan lain kecuali menggantinya dengan pohon yang baru yang dimulai dari benih, tumbuh kecil, terus disirami. Tidak bisa hari ini ditanam besok sudah besar. Saudara pada bagian pertama ini kita sudah memikirkan identitas orang kristen berbeda dengan dunia karena peran Roh Kudus sehingga perilaku kita bisa sama dengan orang dunia tapi dengan alasan yang total berbeda. Contoh. Jika kita berlaku setia pada istri itu bukan karena takut ketahuan atau takut dosa tapi karena memang hati kita tidak ingin untuk menyeleweng, pada dasarnya kita memang tidak suka menyeleweng. Orang lain bisa melakukan hal yang sama tapi dengan alasan takut dosa dan tidak masuk sorga. Bahagia Karena Identitas Saudara, identitas berbicara integritas dan hari ini tidak mudah untuk menjaga integritas sebagai orang kristen di Indonesia bukan?. Perikop Matius 5: 1-12 adalah ucapan bahagia. Dalam NIV judul perikop ini ditulis The Beatitudes=are extreme blessedness or happiness. Jadi tidak hanya sekedar bahagia tapi sangat bersyukur atau sangat bahagia. Perikop ini merupakan permulaan dari kotbah di bukit oleh Yesus. Ayat 3-11 semuanya dimulai dengan kata berbahagialah atau NIV menulis blessed=feel especially thankful for, jadi suatu rasa syukur yang spesial karena sesuatu. Siapakah yang dimaksud Yesus dengan orang yang berbahagia tersebut? Orang percaya bukan?. Matius 5:11 berkata 'Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat'. Dengan kata lain berbahagialah orang yang mau hidup sesuai dengan identitasnya sebagai pengikut Kristus di tengah cela, aniaya dan fitnah kepada diri kita. Masalahnya kini bagaimana hidup sebagai pengikut Krsitus yang dicela dan dianiaya dapat dikatakan bahagia? Paling tidak ada tiga alasan: * Bahagia yang dimaksud adalah bahagia menurut Tuhan bukan menurut manusia. Sebagai manusia kita acap kali mengukur kebahagiaan sesuai dengan apa yang kita tidak punya bukan apa yang kita punya. Ketika kita mengukur kebahagiaan dengan materi, status dan gengsi maka yang terjadi adalah hukum relativisme. Sejumlah uang tertentu akan diapresiasi berbeda oleh saudara dan saya sehingga sering terjadi orang kaya, bintang film sukses merasa sangat tidak bahagia di tengah harta yang berlimpah. Bulan lalu seorang bintang Hollywood, Heath Ledger ditemukan tewas di apartemennya karena OD obat tidur. Orang yang dianiaya, dicela dan difitnah karena diri-Nya dikatakan Tuhan sebagai berbahagia, terlepas dari kaya atau miskin. Mungkin dia miskin secara materi tetapi penilaian Tuhan berbeda. Ketika Stefanus bersaksi tanpa seorangpun pendengarnya bertobat bahkan dia dirajam sampai mati, menurut standar manusia dia gagal tapi dia sangat berhasil dimata Tuhan karena penilaian Tuhan berbeda dengan penilaian manusia. Bahagia adalah ketika kita hidup sesuai dengan identitas kita sebagai pengikut Kristus. * Ayat 12 menjanjikan upah yang besar di sorga. Ketika kita mengkaitkan hidup kita yang sementara ini dengan kekekalan, sangat mungkin kita dinilai bodoh oleh dunia. Ketika hidup sesuai dengan prinsip-prinsip Firman Tuhan maka kita akan berpikir dan bertindak berbeda dengan dunia. Ketika teman kita dugem dan kita PA, kita dinilai sebagai orang kuno dan fanatik tapi sesungguhnya kita tahu bahwa upah kita besar di sorga. Amin? * Penjaminnya adalah Yesus sendiri di mana Dia sudah menunjukkan bukti komitmennya melalui kelahiran, kematian dan kebangkitan-Nya di kayu Salib. Beberapa tahun lalu ada sebuah kasur yang diberi garansi seumur hidup oleh produsennya, ternyata alih-alih seumur hidup, dalam waktu sekitar 5 tahun saja produsennya gulung tikar. Jaminan yang diberikan dunia tidak mempunyai kepastian tapi jaminan yang diberikan Yesus berlaku kekal. Saudara, saya tahu bahwa hidup sesuai dengan identitas sebagai orang kristen tidak mudah dan kadang harus dijalani seperti Tuhan memproses Musa, Ayub, Yusuf dan kadang bahkan harus menyerahkan nyawa seperti Stefanus, Paulus, Petrus dll. Mungkin kita tidak akan sampai harus dihadapkan pada pilihan mati atau menyangkal seperti yang dihadapi oleh ribuan martir yang menyerahkan nyawa demi mempertahankan iman dan identitas sebagai pengikut Kristus. Rektor SAAT, Pdt Daniel Lukas Lukito pernah bercerita bahwa pernah suatu waktu terjadi kerusuhan di kota Malang dan beberapa seminari diancam akan dibakar. Menghadapi situasi itu beliau membuat sebuah komitmen: jika SAAT sampai dibakar orang maka dia tidak akan meninggalkan SAAT. Mengapa saudara? Karena 'jika saya melarikan diri dan besoknya diberitakan di koran bahwa rektor SAAT melarikan diri dari kampus yang terbakar, hal itu akan memberikan kesan yang kurang baik bagi kekristenan, bagi nama Tuhan'. Hari ini bersediakah kita hidup sesuai dengan identitas kita sebagai orang kristen? Janganlah takut karena Tuhan Yesus sendiri yang menjamin bahwa upah kita besar di sorga dan Dia juga berjanji akan menyertai kita dalam setiap kesulitan dan pergumulan kita. Sebuah penelitian di Amerika menyatakan bahwa dalam satu hari kita mengambil baik keputusan sepele seperti nanti siang mau makan apa ataupun keputusan penting seperti misal keputusan untuk menikah atau tidak sebanyak 300-1.700 kali. A.W. Tozer pernah menulis bahwa sering dalam hidup kita diperhadapkan dengan dua pilihan: benar atau menyenangkan. Yang menyenangkan belum tentu benar, yang benar belum tentu enak dijalani tapi akhirnya pasti menyenangkan. Semoga renungan ini dapat menjadi kekuatan bagi kita semua, Sola Scriptura, amin. Hendra, 080208. Bibliografi 1. Paulus Surya, Analisa Kotbah di SPC 2006 2. Yohan Candawasa, Seminar hamba Tuhan 3. Alice Matthew, 4. Tafsiran Alkitab Masa Kini 3 5. Collins, Plain English Dictionary
__________________________________________________________ Never miss a thing. Make Yahoo your home page. http://www.yahoo.com/r/hs <http://www.yahoo.com/r/hs> <http://www.yahoo.com/r/hs <http://www.yahoo.com/r/hs> > ________________________________ ** "This e-mail (including any attachments) is intended solely for the addressee and could contain information that is confidential; If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any use, disclosure, copying or dissemination of this e-mail and any attachment is strictly prohibited and you should immediately delete it. This message does not necessarily reflect the views of Bank Indonesia. Although this e-mail has been checked for computer viruses, Bank Indonesia accepts no liability for any damage caused by any virus and any malicious code transmitted by this e-mail. Therefore, the recipient should check again for the risk of viruses, malicious codes, etc as a result of e-mail transmission through Internet" ________________________________ ** “This e-mail (including any attachments) is intended solely for the addressee and could contain information that is confidential; If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any use, disclosure, copying or dissemination of this e-mail and any attachment is strictly prohibited and you should immediately delete it. This message does not necessarily reflect the views of Bank Indonesia. Although this e-mail has been checked for computer viruses, Bank Indonesia accepts no liability for any damage caused by any virus and any malicious code transmitted by this e-mail. Therefore, the recipient should check again for the risk of viruses, malicious codes, etc as a result of e-mail transmission through Internet”
