Rekan-rekan yth, terutama yang listrik di rumahnya
sering padam seperti yang saya alami. Mudah-2an cerita
saya berikut bermanfa'at bagi rekan sekalian, terutama
bagi yang ingin merakit DC to AC converter (merobah
tegangan accu menjadi AC 220Volt) untuk emergency lamp
seperti yang pernah diposting di forum ini.

Konverter DC to AC sebenarnya tidak perlu dibuat
sendiri, sebab dia sudah banyak beredar di pasaran
dalam bentuk yang sudah jadi. Seperti yang saya alami,
saya pakai sebuah UPS mereknya KENIKA 600E
(selanjutnya sebut aja 600E) yang saya beli setelah
saya browsing di www.bekas.com. Barang bekas ini saya
beli Rp 125k, accu'nya sebanyak 2 buah @ 12 Volt yang
dipasang secara seri ini sudah tidak ada.
Awalnya saya ragu buat membelinya, sebab tidak tau
barang itu masih bagus atau tidak. Tapi kemudian saya
berpikiran lain :"paling-2 accunya doank yang rusak".

Ternyata benar. Setelah ditest pakai power supply 25
volt/12 Amp, ternyata 600E ini masih bagus, terutama
efisiensi daya sekitar 90 persen.

Pengukuran tegangan output AC = 213 V.

Frequency terukur = 48 Hz

Keadaan tanpa beban, mesin 600E ini mengkonsumsi arus
dari power supply sekitar 0,6 Amp (atau = 0,6A x 25V =
15 Watt).

Setelah dicoba untuk menghidupkan lampu pijar 220V/100
W, terukur konsumsi arus dari power supply = 5 Amp
(atau = 5A x 25V = 125 Watt). Angka 125 watt ini sudah
termasuk 15 watt untuk konsumsi 600E, sehingga sisanya
110 Watt dikonversi menjadi 100 watt
Jadi efisiensinya (100/110) x 100% = 90%
Dicoba dengan beban 2 dan 3 buah lampu 100 watt
hasilnya tetap sekitar 90 %, sehingga memungkinkan
600E ini difungsikan untuk emergency penerangan rumah.
Untuk beban 3 x 100 Watt tidak bisa saya lakukan,
karena power supplynya gak kuat dan nge'trip.

Langkah selanjutnya tinggal pengadaan accu 12 V
sebanyak 2 biji. Kebetulan ada teman yang masih pemula
di bidang car audio dan accu mobilnya sering tekor dan
dia sering beli accu baru. Akhirnya terbeli juga tuh
accu bekas milik teman sebanyak 2 biji (masing-2 60
AH) yang ternyata kondisinya masih bagus, cuma
tegangannya aja yang sedikit drop. Saya beli per
bijinya Rp 75k.
Karena accunya memiliki ukuran body yang bongsor, maka
casing 600E tidak cukup buat menampung ke dua accu
ini. Akhirnya mereka saya tempatkan di luar casing
600E.

Tentang pemasangan di rumah.
Pemasangan ini agak repot karena harus memanjat plafon
rumah untuk merobah tatanan instalasi listrik.
Beberapa titik lampu dan stop kontak yang akan
dijadikan lampu darurat harus terinstall secara
terpisah dari titik-2 lampu reguler, sehingga lampu-2
darurat ini nanti saat PLN tidak padam, dia masih bisa
berfungsi sebagai lampu reguler. Ada 7 titik lampu + 1
stop kontak darurat yang saya siapkan, dan saya
tempatkan pada daerah rawan yang memerlukan penerangan
darurat, misalnya dapur, K-mandi, tempat belajar,
teras depan, R-tamu, stop kontak untuk PC, dll. Lampu
yang saya gunakan adalah lampu hemat energi terdiri
dari 8 watt dan 11 watt dari merek yang udah beken.
Total 7 lampu semuanya 65 Watt.

Uji coba.
Beberapa hari lalu, sekitar pk 16, ada suara ledakan
dan dibarengi dengan PLN padam. Ledakan itu ternyata
berasal dari trafo milik PLN di dekat residen saya.
Hingga besoknya sekitar pk 6 pagi saat semua lampu
darurat saya matikan karena bumi udah menjadi terang
kembali dan saya harus keluar rumah buat aktifitas
rutin, PLN masih belum nyala juga. Jadi semalaman
(kira-2 14 jam) kami pakai penerangan darurat dan saat
itu sengaja semua lampu darurat saya nyalakan kecuali
PC. Maksud saya sekalian uji coba. Saat semua lampu
saya matikan pagi itu, tegangan accu sekitar 23 V dan
mungkin masih bisa bertahan beberapa jam lagi sebelum
accu terkuras habis.  Tegangan accu itu awalnya
sekitar 26 Volt (26 koma sekian volt).

Kejelekan sistem
Kejelekan 600 E ini ada pada sistem charger'nya.
Sistem charger ini bekerja secara otomatis. Saat
tegangan accu drop menjadi 22 volt, maka secara
otomatis charger ini akan bekerja men'charge accu dan
secara otomatis pula akan berhenti saat accu udah
penuh (full charege). Charge current nya terukur = 5
Amp. Sistem charger yang dia pakai adalah sistem
constant current (pakai sumber arus, bukan sumber
tegangan)
Yang jadi masalah adalah setelah accu itu full charge,
sebenarnya dia masih membutuhkan arus pengisian yang
sangat kecil secara terus menerus, cukup 1% dari
kapasitas AH nya (atau 0,6 Amp untuk accu saya yang 60
AH itu). Ini dilakukan untuk mengimbangi self
discharge oleh accu itu sendiri. Tanpa 0,6 Amp ini
maka accu akan cepat rusak.
Teori yang penah saya baca menyebutkan seperti itu dan
di teori itu disebutkan pula bahwa arus kecil ini
dinamakan .... kalau gak salah "trickel". Jadi singkat
kata Mesin 600E ini tidak bisa melakukan trickel.
Untuk sementara arus trickel saya injeksi dari luar
casing dan ada rencana untuk mengotomatiskan sistem
trickel ini, entah kapan??
Kekurangan lain adalah ternyata tegangan AC  yang
diproduksi oleh 600E ini bisa merambat kluar ke jala-2
lewat kabel inputnya (kabel power). Masalah ini udah
saya atasi dengan menggunakan relay 220V yang saya
pasang sebelum kabel power, harga relay ini Rp 17k
udah termasuk socketnya. Jadi sekarang saat PLN padam,
maka kabel power ini benar-benar terlepas dari
jala-jala, karena coil relay ini disupply dari
jala-jala


Saran
DC to AC converter tidak harus dibuat sendiri. Beli
aja yang udah jadi, beli bekas bisa lebih murah,
paling cuma accu nya yang tewas.

Ganti dengan accu yang kapasitas AH nya sebesar
mungkin, supaya setrumnya awet, tidak cepat habis.

K-lo terpaksa accu harus ditempatkan diluar casing
UPS, maka gunakanlah kabel penghubung yang diameternya
segede mungkin dan sependek mungkin. Ini untuk
meminimalkan tegangan accu yang hilang ditelan kabel.

sekian, semoga bermanfaat.


salam,
jangkung

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com


SPONSORED LINKS
Power supply Rf power amplifier Power amplifier
Audio power amplifier Audio power Hobies


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke