----- Original Message -----
Sent: Wednesday, January 12, 2005 9:38 PM
Subject: Re: [avifans] UNTUK PAK ARIF

Yth. Bp. Donny, Bp. Arif, semua rekan avifans,
 
Pada dasarnya semua speaker kalau diparalel, outputnya akan naik, jadi sensitivitas tambah tinggi(naik + 6 dB.), tapi impedansinya turun menjadi 1/2-nya.
Kalau diserikan tidak terjadi kenaikan sensitivitas.
Oleh karena impedansi-nya turun menjadi 1/2-nya, maka hanya speaker dgn. impedansi 8 Ohm dapat diparalelkan, speaker dgn impedansi 4 Ohm dilarang keras utk diparalelkan.
Atas dasar teori ini, maka speaker designer bila ingin mendapatkan speaker high effisiensi, pasti menghubungkan beberapa speaker secara paralel.
Juga karena sifat penjalaran frekwensi tinggi yg. cenderung selalu directional hingga lebih effisien, maka designer merangkaikan 2 woofer secara paralel, 2 mid secara paralel dengan 1 tweeter dgn. konfigurasi 3 way, hingga muncul pulalah konsep arrangement D' Appolito yaitu kalau 2 way adalah MTM, kalau 3 way adalah WMTMT(W, M, dan T ber-turut2 adalah Woofer, Mid dan Tweeter).
 
Penjelasan Pak Harjono ini cukup jelas, tetapi rasanya ada yang bisa menimbulkan kerancuan. Seakan-akan "hi-eff" itu jadi sama dengan otak-atik "speaker sensitivity". Apa benar, Pak?
 
Menghubungkan woofer secara paralel tidak menambah dalam atau rendahnya nada bas, kemampuan nada bas pada sebuah woofer ditentukan oleh rendahnya Fs, bukan dgn cara memparalelkan woofer.
Tweeter jarang sekali diparalelkan karena tweeter hampir selalu lebih effisien dibandingkan mid atau woofer.
 
Tweeter dalam praktik DIY sering diseri. Katanya, suaranya lebih halus, hehehe. Yang sebenarnya yang terjadi adalah frequency cut-off cross-over bergeser turun. Tadi saya ambil waktu untuk coba hitung dengan formula 2-Way 6dB Butterworth. Pada ZT dan ZW sama 8 ohm, f cut-off 6 kHz, hasilnya adalah C seri pada tweeter (CT) adalah 3,3 uF, induktor LT= 0,21 mH. Saat ZT saya naikkan jadi 16 ohm (= 2 tweeter diseri), frequency cut-off bergeser turun jadi 3 kHz. Ini seharusnya suara tweeter menjadi lebih kasar, tetapi malah dibilang lebih halus. Sering terjadi pemahaman terbalik seperti ini di masyarakat awam. Contoh lain, ketika memesan sub-woofer empuk di tempat kami, kami membuatkan yang low dan ngeper. Komentar si pemesan, kok nggak bisa goyang dada saya, ya. Ternyata yg diinginkan adalah super-woofer yang punch (tendang).
 
Impedansi 4 Ohm sangat disukai oleh Power Amp solid state(Power handling naik), sedangkan bagi Power Amp tube impedansi driver harus dikoneksi ke-terminal impedansi yg sama pada output trafo power amp(impedance matching).
Karena power amp pada car audio didominasi oleh solid state, karena alasan inilah mengapa driver yg paling sesuai utk car audio adalah drivers 4 Ohm.
 
Sekadar tambahan, turunnya Z speaker menjadikan beban amplifier meningkat (teorinya dua kali lipat), yang berakibat cepat panas. Jika amplifiernya solid state klas B atau AB ber-setting bias, maka suhu akan mengubah titik kerja (klas) amplifier.
 
Salam,
Alexander Pangkerego, Langsung Jadi (LJ) Electronics, Surabaya.


Yahoo! Groups Links

Kirim email ke