----- Original Message ----- From: "genda tamiang" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Thursday, February 22, 2007 8:55 PM Subject: Re: [avifans] Kapan Blind Test Speaker???
> Wah, pengen juga aku denger TL punya Pak Harjono. Kebetulan > aku gak percaya kalau TL bisa memenuhi standard telingaku. Wah... pernyataan yang gawat, hahahaha.... Pak Har pasti ikut, silakan buktikan resep TranSpeak adonan Broer Harjono nanti. Kalau nggak ada sesi TL, bisa dihadirkan untuk eksebisi, kan? > Mas Jimmy kalo gak salah juga pernah bilang, bikin TL itu > kalau asal-asalan hasilnya jauh lebih buruk dari non-TL yang > asal-asalan (ini aku setuju), tapi kalo bikinnya benar hasil > nya lebih bagus dari non-TL (nah ini yang aku gak percaya). Kata Pak Harjono, ampli tabung itu meskipun dibikin asal-asalan tetap lebih bagus daripada ampli SS. Sulit membuat amp tabung bersuara jelek, namun sulit bagi SS bersuara bagus. Entah kalau speaker, hehehe... Yang saya tahu, sulit membuat speaker berkamar lebih dari satu, atau apalagi TL sebab resonansi terjadi pada kamar-kamar atau pipanya. Pada pembuatan TL, biasanya saya treatment dulu pipa-pipanya. Kalau sudah pas baru masuk ke x/o. Desain LPF XO tidak begitu problem untuk desain kabinet yang kompleks seperti TL atau kabinet band-pass atau kabinet acoustic mass. Tetapi ada benarnya bahwa tidak mudah membuat TL. Baru-baru ini, saya gagal menjinakkan Lowther pada desain Acousta dengan cara treatment biasanya. Hongki-tongki bisa hilang tetapi akustiknya juga bablas. Hilang blossom-nya. Akhirnya saya kembalikan seperti adanya, dan saya nikmati untuk jazz seperti Karin Alison. Di sini baru terbuktikan mantapnya Lowther-Acusta. Hehehe... Kalau mau nyicip, silakan ke Cibubur. > Pak Harjono, > > soal apakah BT speaker harus pake nutup mata atau gak, rasanya > sama saja. BT speaker pasti lebih subjektif daripada BT ampli. Dari pengalaman, BT speaker jauh lebih mudah daripada amplifier atau kabel. Dulu ada ide mata juri ditutup. Lha, nanti nulisnya bagaimana? Ada ide, kalau setiap juri didampingi sand guide cuaantik... Pak Har bilang, wah duduknya berdampingan. Oke, oke... Saya nggak setuju, sebab jurinya bisa salah pegang ke jari, hahahaha... Ternyata Bung AW dan Bung TG setuju dengan Pak Har. Tetapi saya tetap nggak setuju ide ini, hehehehe... > Kalau yang dicari menang-kalah sih rasanya malah gak seru. > Tapi kalau tiap speaker direview kelebihan dan kekurangannya, > atau malah kalau perlu pake diskusi dan argumentasi, rasanya > gak ada salahnya mata tetap dibuka. Masa sih ada yg akan bilang > speaker X vocalnya merdu padahal jelas2 gak merdu?? Saya sendiri selalu mendukung kesimpelan seperti ini. Simpel bukan berarti tak bermutu, kan? Salam, [EMAIL PROTECTED]
