Daftar berita terlampir: * Mobil Ramah Lingkungan, Mobil Masa Depan * Menguak Rapor Dunia Setelah 10 Tahun * Hutan Bisa Hapus Utang * Proyek Pembangunan Gagal Tanpa Lingkungan * Rendah, Minat Sertifikasi Ekolabel Kehutanan * Banyak Kebijakan Dephut Kontraproduktif * Bermula dari Limbah Pengalengan Udang * Meneg LH Setujui Penambangan di Pulau Gag * NTB Minta Kewenangan Awasi PT Newmont * Jangan Tergoda Sayuran dan Buah Mulus
Kliping tematik lainnya dapat diperoleh di http://www.terranet.or.id/terramilis.php http://www.terranet.or.id/berita.php TerraNet: Portal Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan http://www.terranet.or.id ================================================================ Mobil Ramah Lingkungan, Mobil Masa Depan http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=3505 DALAM diskusi kecil di kantor sebuah law firm di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, akhir pekan lalu, ahli hukum Aidir Amin Daud menyebutkan, pada tahun-tahun mendatang masyarakat Indonesia sudah mesti menerima tuntutan zaman, yang sangat menekankan kendaraan ramah lingkungan. Menurut Aidir, sepeda motor, mobil sedan, mobil niaga, truk, bus, dan pelbagai jenis kendaraan lainnya dituntut untuk seminimal mungkin menyemburkan polutan ke udara, misalnya, timah hitam (Pb), nitrogen oksida (NOx), dan karbon monooksida (CO). "Ini sejalan dengan kesepakatan Protokol Kyoto 1997," sebut Aidir Amin Daud. (Kompas, 2002-03-12) Menguak Rapor Dunia Setelah 10 Tahun http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=3477 Barangkali tak banyak yang tahu apa yang bakal terjadi tanggal 27 Mei sampai 7 Juni 2002 mendatang di Jakarta. Padahal, pada tanggal tersebut Jakarta bakal menjadi tun rumah event internasional bergengsi bertajuk persiapan penyelenggaraan konfrensi tingkat tinggi (dunia) pembangunan berkelanjutan. Mungkin saat itu mata masyarakat Indonesia sedang tertuju ke negara Jepang dan Korea seraya menanti saat-saat digelarnya pesta sepakbola dunia. Tapi di negeri sendiri, kala itu, bakal berkumpul sedikitnya 6 ribu orang dari berbagai negara dan organisasi. Tak cuma itu, sejumlah menteri dari puluhan negara dipastikan juga bakal hadir. (Republika, 2002-03-11) Hutan Bisa Hapus Utang http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=3478 Andaikan dari dulu Indonesia sadar akan besarnya manfaat hutan bagi kelestarian lingkungan, tentulah Indonesia tak perlu mengemis kepada dana moneter internasional (IMF) untuk minta dana. Percaya atau tidak, hutan, kata Dirut PT Barito Pacific Timber Group Tbk., Yohannes Hardian Widjonarko di Bogor, Sabtu, bisa menghapuskan utang luar negeri Indonesia. ''Masalahnya kita sendiri sudah terlanjur mencitrakan kondisi hutan di negara ini rusak parah. Kita sudah melakukan eksploitasi hutan secara serampangan, sehingga pengampunan utang semakin sulit diperoleh melalui debt nature swap,'' katanya. (Republika, 2002-03-11) Proyek Pembangunan Gagal Tanpa Lingkungan http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=3479 Menteri Negara Lingkungan Hidup Nabiel Makarim mengatakan, pemerintah beberapa kali mengalami kegagalan dalam proses pembangunan berkelanjutan karena mengabaikan tiga syarat penting, yakni ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan. Ketiganya berkaitan satu sama lain yang telah menjadi persyaratan global dan digunakan di berbagai negara. Hal itu diutarakan Nabiel Makarim pada ''Seminar Pembangunan Berwawasan Lingkungan'' yang diselenggarakan DPD PDI-P Jawa Barat di Bandung, Sabtu (9/3). Pembicara lainnya Ketua DPRD Jabar Eka Santosa dan Rustam Syarief, staf ahli Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah (Menkimpraswil). (Kompas, 2002-03-11) Rendah, Minat Sertifikasi Ekolabel Kehutanan http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=3498 Sebagian Besar Industri Kehutanan Dikelola secara Amburadul Minat industri kehutanan untuk mengajukan permohonan sertifikasi ekolabel dinilai masih rendah. Hal itu disebabkan banyaknya pengelolaan industri kehutanan yang bermasalah dan masih jauh dari ha- rapan mewujudkan hutan lestari. Hal itu dikatakan Direktur Eksekutif Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI), Drajad H Wibowo dalam Workshop ''Chain of Custody'' di Bogor, Sabtu (9/3). (Suara Pembaruan, 2002-03-11) Banyak Kebijakan Dephut Kontraproduktif http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=3501 Sektor usaha kehutanan sebenarnya, termasuk salah satu sektor penghasil devisa besar. Tahun 2000, misalnya, sektor ini mampu menyumbang devisa US$ 8,5 miliar. Devisa itu dari kayu lapis sebesar US$ 3,7 miliar, pulp dan kertas US$ 3 miliar dan produk lain US$ 1,8 miliar. Tetapi, karena sektor usaha ini selalu dituding negatif, seperti merampok dan membabat hutan, merusak lingkungan, tidak bermanfaat bagi masyarakat sekitar dan tidak jelasnya peraturan menyebabkan sektor usaha kehutanan makin terpuruk. Demikian dikatakan Direktur Utama PT Barito Pacific Timber Tbk, Johannes Herdian Widjonarko dalam �Workshop Chain of Custody�, di Bogor, Sabtu (9/3). (Sinar Harapan, 2002-03-11) Bermula dari Limbah Pengalengan Udang http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=3493 TELUR asin rasa udang? Pertanyaan bernada keheranan ditambah kernyitan di dahi itu pasti muncul setiap kali orang membayangkan telur asin rasa udang tersebut. Selanjutnya, pasti muncul serentetan pertanyaan lain yang timbul karena rasa penasaran yang menjadi-jadi. Kalau begitu, bisa bikin telur asin rasa stroberi, atau cokelat," celetuk orang yang lain lagi. Ya, celetukan-celetukan lain pasti juga bermunculan mendengar ada telur asin rasa udang dan kupang yang diproduksi oleh "hanya" 50-an peternak unggas di Desa Kejapanan, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. (Kompas, 2002-03-08) Meneg LH Setujui Penambangan di Pulau Gag http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=3468 Menteri Negara Lingkungan Hidup Nabiel Makarim menilai, Pulau Gag di Papua mungkin boleh dijadikan areal pertambangan, walaupun keputusan resminya belum ada. Tim Antardepartemen yang dibentuk juga merekomendasikan serupa. "Kami tengah mencari jalan keluarnya, karena sebelum kawasan tersebut dijadikan hutan lindung sudah ada izin dari pemerintah untuk melakukan penambangan," katanya usai rapat dengar pendapat dengan Komisi VIII DPR, kemarin. (Koran Tempo, 2002-03-07) NTB Minta Kewenangan Awasi PT Newmont http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=3469 Pemerintah pusat dituntut melepas pengawasan operasional penambangan PT Newmont Nusa Tenggara (NNT). Kewenangan itu sebaiknya diserahkan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB). Permintaan yang digodok Komisi C DPRD NTB itu mencakup pengawasan produksi ekspor konsentrat, masuknya peralatan, tenaga kerja dan gajinya, juga program community development (pengembangan masyarkat). "Selama ini pengawasan PT NNT tidak melibatkan daerah. Akibatnya, Pemprov tidak tahu menahu kenyataannya, sehingga diduga dirugikan pendapatan royaltinya," Ketua Komisi C DPRD NTB, I Gusti Komang Padang, kepada Tempo News Room di Mataram, Rabu (7/3). Kerugian lain, jelasnya, adalah rendahnya iuran lahan yang dieksplorasi dan dieksploitasi untuk PT NNT. (Koran Tempo, 2002-03-07) Jangan Tergoda Sayuran dan Buah Mulus http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=3463 KETIKA berbelanja di supermarket, Ny Wati dan Ny Rita punya selera berlawanan. Ny Wati tampak bernafsu memborong apel, pisang, dan belimbing yang mulus tanpa cacat. Sementara Ny Rita justru memilih buah-buahan lain yang tampak berbintik-bintik. Ny Wati sempat mencemooh Ny Rita hanya mencari buah murahan. Tapi, ia kaget mendengar jawaban Ny Rita. "Yang mulus-mulus begitu biasanya kadar pestisidanya tinggi, jeng!" SLOGAN back to nature 'kembali ke alam' untuk meningkatkan kualitas kesehatan memang sudah tidak asing lagi. Salah satunya menyarankan lebih banyak mengonsumsi makanan alami. Terutama sayuran dan buah-buahan karena dua jenis produk pertanian ini sangat kaya dengan vitamin, serat, dan zat lain yang dibutuhkan tubuh manusia. (Media Indonesia, 2002-03-06) _______________________________________________ Envorum mailing list [EMAIL PROTECTED] http://lists.lead.or.id/mailman/listinfo/envorum
