|
Dear LEADers,
Dari dua tulisan saya terdahulu: Kegagalan Perencanaan
dan Pembunuh Bayaran, saya merasa perlu untuk menggagas pendalaman wawasan
tentang Pembangunan Berkelanjutan.
Karena selama dan sepanjang ini terminologi dan slogan
Pembangunan Berkelanjutan cuma sebatas bibir sedang prilaku dan tindakan para
stakeholder-nya tidak demikian. Ada pernyataan dari tetua adat yang mengatakan:
"apabila kamu itu orang, maka yang dipegang adalah kata-katamu". Jadi
kesimpulannya saat ini sudah banyak yang bukan orang, karena kata-katanya tidak
bisa dipegang.
Dari pernyataan tersebut diatas, saya ingin membuat
para Stakeholder pembangunan berkelanjutan untuk menjadi orang, dengan menggagas
pendalaman wawasan. Karena dari pernyataan itu tersimak makna, bahwa sebagai
orang dibutuhkan SEIANYA KATA dan PERBUATAN.
Sebenarnya tidak ada perbedaan pendapat, yang ada
hanyalah kedalaman dan keluasan wawasan dalam melihat, merasakan dan
mengetahui phenomena yang terjadi. Hal ini diperjelas dengan pemahaman
terhadap HUMAN VALUES dan CULTURAL NORMS, dan didukung oleh McAllister, Donald M
yang mengatakan: "People think and act on the basis of their view of the
world, which is determined by their values as well as by their knowledge of
facts and their beliefs".
Jadi berbicara mengenai pembangunan berkelanjutan,
langkah pertama yang dibutuhkan oleh para stakeholder adalah pendalaman wawasan
tentang human values, environmental values serta hubungan timbal balik dari
keduanya atau contextual terjadinya pertemuan kedua values
tersebut.
Saya mengajak para stakeholder Pembangunan
Berkelanjutan untuk mendalami konsep ini dari disiplin ilmu kita masing-masing,
karena jangan sampai kita sudah menjadi binatang dan pembunuh generasi yang akan
datang. Akan tetapi semua ini berpulang kepada pemahaman dan wawasan, karena ada
yang mengatakan hidup di neraka itu nikmat dan bahagia.
Saya harap epilog ini mau disadari,
SEMOGA.
Salam,
|
