----- Original Message -----
Sent: Monday, July 08, 2002 12:00
PM
Subject: Re: [Envorum] GAJAH MATI DI
KEBUN BINATANG MEDAN (KBM)
Salam Lestari,
Sedih mendengar cerita dari Medan atas matinya
Rimba (bukan HUTAN tapi seekor gajah) salah satu penghuni Kebun Binatang
Medan.
Kalau kita melihat Kebun Binatang sebagai sarana
pendidikan dan informasi, sangatlah dibutuhkan bukan hanya
masyarakat sekitar (Medan atau Sumatera Utara) juga wisatawan yang datang
yang ingin melihat satwa di daerah tersebut.
Sebuah kota di Indonesia memiliki kebun binatang
adalah anugrah bagi penduduknya, utamanya anak-anak yang dapat melihat
langsung binatang hidup yang mungkin hanya pernah mendengar cerita dari nenek
mereka sebagai cerita pengantar tidur.
Sangat ironis bagi kota-kota yang tidak punya KB,
anak-anak hanya dapat melihat satwa dari gambar. Kadang saya menjadi sangat
cemburu melihat anak-anak di Munchen sana bisa melihat langsung Babi rusa
satwa endemik Sulawesi hidup lagi !!!Macaca maura monyet asli
Sulawesi di Kebun binatang St. Petersburg, Rusia, dibandingkan dengan
anak-anak kita di Sulawesi sendiri.
Memelihara kebun binatang sangatlah mahal, bagi
PEMDA kota Medan memang ini suatu beban berat yang harus ditanggung, mungkin
karena KBM ini sudah lama sehingga PEMDA tetap mau mempertahankan karena
menganggap ini suatu sarana pendidikan yang penting. Saya kira bukan sebagai
sarana eksploitasi satwa untuk kepentingan PEMDA, kalaupun terjadi seperti
yang diceritakan itu mungkin karena untuk menutupi biaya KB yang mahal dan
gaji karyawan, tapi ini sudah tidak dalam ketentuan yang ada.
Kita tidak usah terlalu gusar mengenai koleksi
binatang yang ada di KB karena umumnya binatang tersebut lahir dari breeding
ex-situ yang sudah beradaptasi dengan lingkungan yang ada.
Kebun binatang ditengah kota keramaian memang
banyak meninbulkan masalah baik bagi satwa (stress) juga bagi masyarakat belum
lagi macet dan juga merusak keindahan kota karena pedagang liar dan limbah
dari Kb.
Tapi tidak semuanya begitu, banyak kebun binatang
yang terletak ditengah kota di dunia, seperti di Beijing, Berlin,
St.Petersburg, Wina menjadi satu penunjang keindahan
kota.
Yang perlu kita lakukan mungkin perlunya
masyarakat turut serta memikirkan apakah kota Medan masih butuh sebuah kebun
binatang atau tidak. Mungkin teman-teman dari LSM bekerjasama dengan
PEMDA membuat survey semacam jajakpendapat (bukan masalah politik
saja toh) untuk mengetahui apakah masyarakat masih butuh sarana itu.
Kalau memang masyarakat mengatakan tidak yah KB itu tutup saja, kalau mereka
setuju masih harus ada, lalu kita misalnya menyertakan pertanyaan seharusnya
Kb yang bagimana yang mereka butuhkan berapa masyarakat berani bayar untuk
masuk dst.
Sehingga untuk perencanaan dan investasi PEMDA
dapat merencanakan apakah sudah memadai untuk dipindahkan ketempat lain atau
hanya perlu renovasi.
Mengenai binatang yang stress dan lainnya,
memanglah kita butuh ahli kebun binatang untuk perencanaan KB yang manusiawi
(binatawi)??? Misalnya kebun binatang Broxn di New York yang konsepnya
dibalik dari bianatang yang dikandang menjadi manusia yang dikandang kalau mau
melihat satwa liar, walaupun kandang-kandang tua tetap dipertahankan untuk
memamerkan kepada anak-anak bahwa konsep dulu itu salah dan bukti bahwa mereka
pernah buat salah dan sekarang mereka tidak lagi.
Walaupun salah satu LSM penyayang binatang di
Jerman tahun 1994 gencar menyuarakan bahwa Kebun Binatang adalah sebagai
penjara binatang dan sangat tidak adil bagi binatang. Tapi saya pribadi
tidak melihat seperti itu. Anak-anak kita harus mengetahui apa yang kita
miliki sehingga dapat mempelajari, menghargai dan menjaganya.
Salam dari Makassar,
Nenny Babo
Pusat Informasi Pelestarian Sumber Daya Alam
Sulawesi
----- Originpat al Message -----
Sent: Saturday, July 06, 2002 2:55
PM
Subject: [Envorum] GAJAH MATI DI KEBUN
BINATANG MEDAN (KBM)
Salam Lestari,
"Turut berduka cita, atas matinya Rimba (gajah) di Kebun Binatang Medan"
pada tanggal 4/7 yang lalu yang menurut penuturan staff KBM Rimba mengalami
gangguan ginjal yang sudah kronis. Kawan-kawan LSM/Ornop di Medan sejak
tahun 2000 sudah mengajukan tuntutan kepada Walikota Medan untuk mengadakan
re-lokasi KBM yang sudah tidak layak untuk sebuah Taman Satwa, luas KBM saat
ini lebih kurang 4,5 Ha, dan berlokasi ditengah-tengah pemukiman penduduk
kota Medan (Jalan Brigjend Katamso) yang intensitas kerja masyarakat sekitar
sangat tinggi dan sangat tidak nyaman untuk sebuah Taman Satwa. Disamping
itu di dalam KBM tersebut juga setiap saat menampilkan pertunjukan berupa
kyboard, rag molen, kuda pusing, dan penuhnya pedagang di zona inti KBM
(bahkan sampai-sampai di depan kandang satwa, jelas mengganggu kenyamanan
pengunjung dan satwa menjadi stress akibat teriakan pedagang dan bunyi
dagangan (mainan anak-anak) yang memancing pengunjung untuk membeli
dagangannya.
Kawan-kawan LSM/Ornop meminta kepada Pemko Medan untuk menyerahkan
pengelolaan KBM kepada pihak swasta, yang memiliki keperdulian
terhadap Taman Satwa dan Keanekaragaman Satwa di Sumatera, namun sayang
usaha tersebut tidak mendapat tanggapan bahkan dengan
arogannya Walikota Medan tetap mengharapkan PAD dari satwa yang
ada di KBM.
Walikota Medan tetap mempertahankan KBM dikelola oleh PD.
Pembangungan Pemko Medan, inilah perjuangan pahit yang dirasakan kawan-kawan
untuk menyelamatkan satwa-satwa di KBM. Bahkan kawan-kawan sering
menyoroti PD. Pembangunan yang mengelola KBM untuk bermurah hati
menambah biaya anggaran makan dan perawatan satwa, namun sampai
saat permintaan tersebut tidak di indahkan baik oleh Walikota dan
Direktur Pelaksana Harian PD. Pembangunan Pemko Medan. Akhirnya Rimba si
Gajah Malang korban yang kesekian kalinya. Haruskah kita biarkan satwa
yang saat ini berada di KBM mengalami ha yang sama?
PD. Pembangunan Pemko Medan selama ini juga mengelola Terminal Terpadu
Amplas, Terminal Terpadu Pinang Baris, dan beberapa jenis tempat-tempat
hiburan di Medan. Mungkin KBM juga dianggap seperti
terminal-terminal lainnya, dan bukan sebagai program Konservasi
In-Situ.
Rimba si Gajah Malang, selama ini banyak memberikan rupiah kepada
pengelola KBM, Rimba setiap hari harus bekerja keras memikul pengunjung di
punggungnya tanpa henti-hentinya. Rimba yang malang bekerja dahulu baru
diberi makan. Rimba juga sering dikontrak keluar dari KBM apabila ada
pesanan. Herannya pengelola KBM yang sudah mengetahui penderitaan dan
penyakit Rimba tetap dipaksa bekerja meraup rupiah untuk pengelola KBM.
Dimana keadilan itu sebenarnya?
Akhir hayat Rimba ternyata menimbulkan dilema disatu sisi pengelola
beralasan kematian Rimba karena "ginjal kronis" sementara kawan-kawan
LSM/Ornop menilai kematian Rimba semata-mata karena kepentingan pengelola
KBM untuk meraup rupiah sebanyak-banyaknya.
Salam,
Efrizal Adil Lubis
Yayasan Kibar
Do You Yahoo!?
New! SBC Yahoo! Dial - 1st Month Free & unlimited access