kami ucapkan terima kasih, dan saat ini kami masih terus mengadakan
pendekatan kepada Pemko Medan. Untuk informasi bagi neny bahwa kami
memperoleh data bahwa pendapatan dari retribusi yang diterima KBM sangat
fantastis nilainya, namun sangat kami sayangkan mekanisme perjalanan
keuangan di KBM juga panjang sekali (biasa birokrasi) sehingga kembali ke
KBM yah pas-pas'an, itupun alakadarnya saja. Akibatnya makanan ke satwa
sangat menyedihkan sekali. Bahan pihak pelaksana KBM (Unit KBM) yang terdiri
dari para dokter hewan dan lainnya juga mengeluh akan mekanisme perjalanan
keuangan di KBM yang membuat mereka terus disalahi masyarakat karena alasan
ini itu dan sebagainya.
Terima kasih kami juga akan sarannya membuat angket pembaca, dan
mudah-mudahan kami akan laksanakan secepatnya. Kami akan terus memberikan
informasi perkembangan ke Neny bila tidak keberatan.
Salam Lestari,
Sedih mendengar cerita dari Medan atas
matinya Rimba (bukan HUTAN tapi seekor gajah) salah satu penghuni Kebun
Binatang Medan.
Kalau kita melihat Kebun Binatang sebagai
sarana pendidikan dan informasi, sangatlah dibutuhkan bukan
hanya masyarakat sekitar (Medan atau Sumatera Utara) juga wisatawan
yang datang yang ingin melihat satwa di daerah tersebut.
Sebuah kota di Indonesia memiliki kebun
binatang adalah anugrah bagi penduduknya, utamanya anak-anak yang dapat
melihat langsung binatang hidup yang mungkin hanya pernah mendengar cerita
dari nenek mereka sebagai cerita pengantar tidur.
Sangat ironis bagi kota-kota yang tidak punya
KB, anak-anak hanya dapat melihat satwa dari gambar. Kadang saya menjadi
sangat cemburu melihat anak-anak di Munchen sana bisa melihat langsung
Babi rusa satwa endemik Sulawesi hidup lagi !!!Macaca maura
monyet asli Sulawesi di Kebun binatang St. Petersburg, Rusia,
dibandingkan dengan anak-anak kita di Sulawesi sendiri.
Memelihara kebun binatang sangatlah mahal,
bagi PEMDA kota Medan memang ini suatu beban berat yang harus ditanggung,
mungkin karena KBM ini sudah lama sehingga PEMDA tetap mau mempertahankan
karena menganggap ini suatu sarana pendidikan yang penting. Saya kira
bukan sebagai sarana eksploitasi satwa untuk kepentingan PEMDA, kalaupun
terjadi seperti yang diceritakan itu mungkin karena untuk menutupi biaya
KB yang mahal dan gaji karyawan, tapi ini sudah tidak dalam ketentuan yang
ada.
Kita tidak usah terlalu gusar mengenai
koleksi binatang yang ada di KB karena umumnya binatang tersebut lahir
dari breeding ex-situ yang sudah beradaptasi dengan lingkungan yang
ada.
Kebun binatang ditengah kota keramaian memang
banyak meninbulkan masalah baik bagi satwa (stress) juga bagi masyarakat
belum lagi macet dan juga merusak keindahan kota karena pedagang liar dan
limbah dari Kb.
Tapi tidak semuanya begitu, banyak kebun
binatang yang terletak ditengah kota di dunia, seperti di Beijing, Berlin,
St.Petersburg, Wina menjadi satu penunjang keindahan
kota.
Yang perlu kita lakukan mungkin perlunya
masyarakat turut serta memikirkan apakah kota Medan masih butuh sebuah
kebun binatang atau tidak. Mungkin teman-teman dari LSM bekerjasama
dengan PEMDA membuat survey semacam jajakpendapat (bukan masalah
politik saja toh) untuk mengetahui apakah masyarakat masih butuh sarana
itu. Kalau memang masyarakat mengatakan tidak yah KB itu tutup saja,
kalau mereka setuju masih harus ada, lalu kita misalnya menyertakan
pertanyaan seharusnya Kb yang bagimana yang mereka butuhkan berapa
masyarakat berani bayar untuk masuk dst.
Sehingga untuk perencanaan dan investasi
PEMDA dapat merencanakan apakah sudah memadai untuk dipindahkan ketempat
lain atau hanya perlu renovasi.
Mengenai binatang yang stress dan lainnya,
memanglah kita butuh ahli kebun binatang untuk perencanaan KB yang
manusiawi (binatawi)??? Misalnya kebun binatang Broxn di New York
yang konsepnya dibalik dari bianatang yang dikandang menjadi manusia yang
dikandang kalau mau melihat satwa liar, walaupun kandang-kandang tua tetap
dipertahankan untuk memamerkan kepada anak-anak bahwa konsep dulu itu
salah dan bukti bahwa mereka pernah buat salah dan sekarang mereka tidak
lagi.
Walaupun salah satu LSM penyayang binatang di
Jerman tahun 1994 gencar menyuarakan bahwa Kebun Binatang adalah sebagai
penjara binatang dan sangat tidak adil bagi binatang. Tapi saya
pribadi tidak melihat seperti itu. Anak-anak kita harus mengetahui
apa yang kita miliki sehingga dapat mempelajari, menghargai dan
menjaganya.
Salam dari Makassar,
Nenny Babo
Pusat Informasi Pelestarian Sumber Daya Alam
Sulawesi
----- Originpat al Message -----
Sent: Saturday, July 06, 2002 2:55
PM
Subject: [Envorum] GAJAH MATI DI
KEBUN BINATANG MEDAN (KBM)
Salam Lestari,
"Turut berduka cita, atas matinya Rimba (gajah) di Kebun Binatang
Medan" pada tanggal 4/7 yang lalu yang menurut penuturan staff KBM Rimba
mengalami gangguan ginjal yang sudah kronis. Kawan-kawan LSM/Ornop di
Medan sejak tahun 2000 sudah mengajukan tuntutan kepada Walikota Medan
untuk mengadakan re-lokasi KBM yang sudah tidak layak untuk sebuah Taman
Satwa, luas KBM saat ini lebih kurang 4,5 Ha, dan berlokasi
ditengah-tengah pemukiman penduduk kota Medan (Jalan Brigjend Katamso)
yang intensitas kerja masyarakat sekitar sangat tinggi dan sangat tidak
nyaman untuk sebuah Taman Satwa. Disamping itu di dalam KBM tersebut
juga setiap saat menampilkan pertunjukan berupa kyboard, rag molen, kuda
pusing, dan penuhnya pedagang di zona inti KBM (bahkan sampai-sampai di
depan kandang satwa, jelas mengganggu kenyamanan pengunjung dan satwa
menjadi stress akibat teriakan pedagang dan bunyi dagangan (mainan
anak-anak) yang memancing pengunjung untuk membeli dagangannya.
Kawan-kawan LSM/Ornop meminta kepada Pemko Medan untuk
menyerahkan pengelolaan KBM kepada pihak swasta, yang memiliki
keperdulian terhadap Taman Satwa dan Keanekaragaman Satwa di Sumatera,
namun sayang usaha tersebut tidak mendapat tanggapan bahkan dengan
arogannya Walikota Medan tetap mengharapkan PAD dari satwa
yang ada di KBM.
Walikota Medan tetap mempertahankan KBM dikelola oleh PD.
Pembangungan Pemko Medan, inilah perjuangan pahit yang dirasakan
kawan-kawan untuk menyelamatkan satwa-satwa di KBM. Bahkan
kawan-kawan sering menyoroti PD. Pembangunan yang mengelola
KBM untuk bermurah hati menambah biaya anggaran makan dan perawatan
satwa, namun sampai saat permintaan tersebut tidak di
indahkan baik oleh Walikota dan Direktur Pelaksana Harian PD.
Pembangunan Pemko Medan. Akhirnya Rimba si Gajah Malang korban yang
kesekian kalinya. Haruskah kita biarkan satwa yang saat ini berada di
KBM mengalami ha yang sama?
PD. Pembangunan Pemko Medan selama ini juga mengelola Terminal
Terpadu Amplas, Terminal Terpadu Pinang Baris, dan beberapa jenis
tempat-tempat hiburan di Medan. Mungkin KBM juga dianggap
seperti terminal-terminal lainnya, dan bukan sebagai program Konservasi
In-Situ.
Rimba si Gajah Malang, selama ini banyak memberikan rupiah kepada
pengelola KBM, Rimba setiap hari harus bekerja keras memikul pengunjung
di punggungnya tanpa henti-hentinya. Rimba yang malang bekerja dahulu
baru diberi makan. Rimba juga sering dikontrak keluar dari KBM apabila
ada pesanan. Herannya pengelola KBM yang sudah mengetahui penderitaan
dan penyakit Rimba tetap dipaksa bekerja meraup rupiah untuk pengelola
KBM. Dimana keadilan itu sebenarnya?
Akhir hayat Rimba ternyata menimbulkan dilema disatu sisi pengelola
beralasan kematian Rimba karena "ginjal kronis" sementara kawan-kawan
LSM/Ornop menilai kematian Rimba semata-mata karena kepentingan
pengelola KBM untuk meraup rupiah sebanyak-banyaknya.
Salam,
Efrizal Adil Lubis
Yayasan Kibar
Do You Yahoo!?
New! SBC
Yahoo! Dial - 1st Month Free & unlimited access