Luar biasa!! Saya forward dari milis Lingkungan. Ada yang mau nyoba? salam, Eriyawan -----Original Message----- From: Abduh <[EMAIL PROTECTED]> Date: Friday, July 09, 1999 3:46 PM Subject: [Lingk] Manfaatkan Air Liur untuk Pertanian >Berikut ini artikel dari Suara Hidayatullah >(http://www.hidayatullah.com) tentang inovasi dalam bidang pupuk alami >dan pestisida alami. > >Ide dasarnya sederhana, mikrooraganisme dari mulut dikumpulkan >(pagi-pagi air kumur pertama dari 300 santri dikumpulkan) terus >dibiakkan, terus disiramkan ke kotoran ternak dan jerami untuk >mempercepat penguraian biologis menjadi pupuk. > >Selain itu mereka juga mengembangkan pestisida alami. Bagimana >Mas-mas dan Mbak-mbak yang menekuni bidang sejenis, tertarik dengan >artikel di bawah ? Atau ada yang mau berkomentar ? Silakan ... > >Wassalam >Abduh > > >Suara Hidayatullah : Juni 1999 / Shafar-Rabiul Awal 1420 >Manfaatkan Air Liur untuk Pertanian > >Mengapa bingung dengan harga pupuk dan pestisida yang melangit? Gunakan >saja air liur, mujarab kok! >Setiap bangun tidur bau mulut kita pasti terasa tak sedap. Tahukah Anda >bahwa bau tak sedap itu sangat bermanfaat untuk dunia pertanian? >Itulah yang dikembangkan Fuad Affandi. Putra Ciwidey, Bandung ini >berhasil membuat karya inovatif berupa pupuk dan obat pemberantas hama >tanaman dari bahan dasar air liur. Uniknya, Fuad bukanlah seorang ahli >bioteknologi atau lulusan perguruan tinggi. Ia 'hanya' seorang kiai yang > >mengasuh 300 santri. >Awalnya, ia melihat melimpahnya kotoran sapi, kambing, dan ayam. Mang >Haji -demikian Fuad biasa dipanggil- berniat menjadikan kotoran ternak >tadi menjadi pupuk kandang. Agar menjadi pupuk alami yang baik, kotoran >itu harus diperam selama dua sampai empat bulan. >Fuad berpikir, bagaimana mempercepat proses penghancuran dan pembusukan >kotoran ternak tadi? Ternyata, bakteri penghancur yang ampuh justru ada >di perut manusia. "Buktinya, hari ini kita makan, besok keluar sudah >busuk," ujar alumnus Pesantren Lasem, Jawa Tengah ini. Menurut >penelitian Laboratorium Mikrobiologi Universitas Padjajaran, Bandung, >dalam air liur memang terdapat empat macam bakteri: Saccharomyces, >Cellulomonas, Lactobacillus, dan Rhizobium. Bakteri ini biasa hidup di >lambung manusia. Bagaimana mendapatkan bakteri itu? >Tak kurang akal. Kebiasaan makhluk renik itu, kalau tidak ada makanan >masuk dalam waktu cukup lama, mereka akan naik untuk menyantap sisa-sisa > >makanan yang ada di dalam rongga mulut. Karena saat tidur tidak ada >makanan yang masuk, saat itulah banyak bakteri berkumpul di mulut. Nah, >Fuad lantas memerintahkan 300 santrinya membuang air kumur pertama dari >bangun tidur ke dalam kaleng yang telah disediakan di depan penginapan >santri. >Mikroorganisme dalam air liur itu lalu dikembangbiakkan dengan >menambahkan molase (gula), dedak, dan pepaya ke dalamnya. Setelah >beberapa hari, air liur santri ternyata berubah menjadi cairan kental >berwarna keruh, dengan bau wangi seperti bau cokelat. Itu berarti >bakteri dapat berkembang biak dengan subur. Fuad lalu menyiramkan cairan > >bakteri itu ke kotoran ternak dan jerami yang sedang diperam. Hasilnya >dahsyat. Hanya dalam tiga hari, kotoran ternak itu hancur dan busuk, >siap dipakai sebagai pupuk kandang. Penemuan Fuad ini diberi nama MFA >(Mikroorganisme Fermentasi Alami) --kadang diplesetkan menjadi >Mikroorganisme Fuad Affandi. >MFA berkasiat untuk mempercepat ketersediaan nutrisi tanaman, mengikat >pupuk dan unsur hara, serta mencegah erosi tanah. Semula, pupuk organik > >itu dipakai untuk kalangan sendiri, kemudian menyebar dari mulut ke >mulut para petani di lingkungannya. Pada tahap selanjutnya, Mang Haji >berhasil mengembangkan pupuk kandang menjadi cairan yang dikemas dalam >botol dan siap disemprotkan ke tanaman. >Inovasi Fuad tak berhenti sampai MFA. Dia juga menciptakan tiga jenis >pembasmi hama tanaman yang diberi nama Innabat (Insektisida Nabati), >Ciknabat (Cikur Nabati), dan Sirnabat (Siki Sirsak Nabati). >Innabat adalah insektisida yang terbuat dari kacang babi dicampur bawang > >putih, bawang merah, cabe rawit, dan temulawak. Semua bahan itu digiling > >menjadi satu dan dicampur dengan air beras. Campuran tersebut kemudian >didiamkan selama 14 hari sebelum disemprotkan ke tanaman. Ketika diuji, >ramuan ini ampuh untuk membasmi berbagai jenis ulat, ngengat, dan lalat >yang sering menyerbu tanaman sayuran. >Sedangkan Ciknabat, yang terbuat dari cikur (kencur) dicampur dengan >bawang putih, ampuh sebagai fungisida (pembasmi jamur tanaman). Selain >membasmi jamur, Ciknabat juga berfungsi ganda sebagai insektisida. >Kencur dan bawang putih ini tidak mematikan hama, tapi baunya membuat >hama enggan mendekat. >Lain lagi dengan Sirnabat, yang terbuat dari gilingan biji sirsak, >merupakan formula paling keras yang dibuat Fuad. Ramuan ini disemprotkan > >jika Innabat dan Ciknabat sudah tak mempan lagi mengusir hama. >Untuk memproduksi pupuk dan pestisida alami itu, Fuad mendirikan pabrik >di Garut, yang kini dikelola Tatang Sutresna, mantan santrinya. >Permintaan tidak cuma datang dari Bandung dan sekitarnya, melainkan dari > >luar pulau, seperti Jambi, Sulawesi Selatan, dan Aceh. >Pesantren pertanian >Bila Fuad intensif mengembangkan pupuk dan pestisida alami, itu bukanlah > >aneh. Memang sudah sejak lama kiai ini bersentuhan dengan dunia >pertanian. Bahkan pesantrennya, Al Ittifaq, yang berada di Desa Alam >Endah Ciwidey, identik dengan pesantren pertanian. Santrinya tidak cuma >memperdalam agama, juga belajar bercocok tanam. Hebatnya, beberapa >santrinya di kirim ke Jepang dan beberapa negara Eropa mengikuti >pelatihan agroindustri di sejumlah industri pertanian dan perkebunan, >atas beaya Bank Dunia dan Departemen Pertanian. >Saat pertama datang di Ciwidey, 40 km arah selatan Bandung, sekitar >tahun 70-an, Fuad terheran-heran. "Mengapa penduduknya miskin, padahal >alamnya sangat subur?" pikirnya dalam hati. >Tampaknya, salah satu penyebab utama adalah tingkat pendidikan yang >rendah. Banyak anggota masyarakat tidak tamat SD. Kalaupun ada, hanya >bisa dihitung dengan jari. Terdorong oleh keinginan mengubah nasib >masyarakat, Fuad lantas mendirikan pesantren. Bermodal sebidang tanah >dan sedikit pengetahuan pertanian, Fuad kemudian juga mengajak beberapa >warga menanam sayuran buncis dan kentang. Hasilnya ternyata bagus. Tentu > >saja keberhasilan ini mengundang minat banyak orang mengembangkan >agrobisnis. >Setelah beberapa kali gagal menembus pasar swalayan, karena syarat >kualitas yang ketat, supermarket Hero akhirnya bersedia menerima sayuran > >Fuad. Jalan menuju keberhasilan semakin lempang. Buktinya, kini Fuad >setiap harinya mampu memasok sayuran segar ke Jakarta sekitar 5 ton. >Jumlah tersebut untuk memenuhi beberapa super market, dengan perincian: >2 ton ke Hero, serta 3 ton untuk Makro, Ramayana, dan Gelael. "Kalau >ditanya omzet, alhamdulillah dalam sebulan kurang lebih tiga ratus enam >puluh jutaan," aku peraih penghargaan Satyalancana Wira Karya dari >Presiden BJ Habibie (1998) ini. >Kelebihan >Dibanding pupuk dan pestisida kimiawi, buatan Fuad memiliki sejumlah >keunggulan. Pertama, dari segi beaya, lebih murah. "Harga pestisida >kimia Rp 50.000, sedangkan produksi cuma Rp 15,000," tutur Apep, Wakil >Ketua Pondok Pesantren Al Iftifaq. Apep memberi gambaran, untuk luas 1 >ha tanaman buncis petani harus mengeluarkan beaya sebesar Rp 2 juta >untuk membeli pestisida kimia/sintesis. Kalau menggunakan pestisida >alami, petani hanya mengeluarkan beaya Rp 100.000, dengan luas lahan >yang sama. "Hasilnya sama, per hektar sekitar 8 ton," ujarnya. >Kedua, menggunakan pupuk dan pestisida alami tentu lebih sehat, karena >tidak menimbulkan pencemaran lingkungan maupun hasil produksinya. >Ketiga, harga sayurannya lebih tinggi, karena sayuran tampak lebih >segar, bersih, dan bebas dari zat-zat kimiawi. >Bukan berarti tanpa kendala. Menurut Apep, yang sulit justru mencari >bahan bakunya. Misalnya, untuk membuat Innabat, sangat sulit mendapatkan > >kacang babi. Juga untuk membuat Sirnabat, biji sirsaknya tidak gampang >diperoleh. "Mungkin, kami perlu mendatangi para penjual juice buah >sirsak, atau para pembuat dodol sirsak," kata Apep sambil terkekeh. >Melejitnya harga pupuk dan pestisida kimia sekarang ini, tentu peluang >untuk kembali ke alami. "Pesanan memang naik drastis. Saya optimis >produksi kami akan dicari petani. Sekarang kapasitas produksi kami bisa >30 ton/bulan," kata Awang Nawangsih, yang bersama suaminya, Tatang >Sutresna, diberi amanah mengembangkan MFA. Semoga. (ddg) > > > > >--------------------------------------------------------------------- --- > >eGroups.com home: http://www.egroups.com/group/lingkungan >http://www.egroups.com - Simplifying group communications > > > ___________________________________________________________________ Mulai langganan: "subscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED] Stop langganan: "unsubscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED] Arsip di http://www.mail-archive.com/[email protected] atau di http://www.egroups.com/list/envorum
